Breaking News
Loading...

Syiah dan Penyimpangan dalam Menafsirkan Hadis

Syiahindonesia.com – Di dalam metodologi keilmuan Islam, hadis atau Sunnah Rasulullah SAW merupakan fondasi hukum dan akidah kedua setelah Al-Qur’an. Keutuhan pemahaman terhadap hadis ditentukan oleh dua pilar utama: otentisitas jalur periwayatan (sanad) dan ketepatan pemahaman serta penafsiran teks (matan).

Namun, demi melegitimasi bangunan doktrin Imamah (kepemimpinan teokratis 12 imam maksum), sekte Syi'ah Rafidhah tidak hanya menolak ribuan hadis yang diriwayatkan oleh mayoritas sahabat Nabi, tetapi juga melakukan penyimpangan sistematis dalam menafsirkan hadis-hadis yang diakui oleh kaum muslimin. Ketika sebuah teks hadis tidak secara eksplisit mendukung dogma mereka, para mullah Syiah menggunakan berbagai cara untuk membengkokkan makna teks tersebut agar sesuai dengan kepentingan politik dan akidah kelompoknya.

1. Modus Operandi Penyimpangan Penafsiran Hadis

Dalam literatur-literatur rujukan Syiah, terdapat beberapa taktik utama yang digunakan untuk memelintir dan menyelewengkan makna hadis:

  • Memutus Teks dari Konteks Historis (Asbabul Wurud): Mengisolasi sebuah hadis dari latar belakang peristiwa pemicunya, lalu memberikan penafsiran baru yang sama sekali tidak berkaitan dengan tujuan awal sabda Nabi.

  • Memaksakan Takwil Batiniah dan Esoteris: Mengabaikan makna lahiriah (dzahir) teks bahasa Arab yang terang benderang, lalu mendoktrinkan "makna rahasia" yang diklaim hanya diketahui oleh para imam mereka.

  • Pemelintiran Makna Semantik Bahasa Arab: Memilih arti kata yang asing, spesifik, atau kiasan untuk menggantikan makna umum yang disepakati oleh para pakar bahasa Arab dan ulama syariat.

2. Contoh Kasus Penyimpangan Penafsiran Hadis Utama

Berikut adalah beberapa contoh hadis sahih dan mutawatir yang kerap dipelintir maknanya oleh misionaris Syiah:

A. Hadis Ghadir Khum ("Man Kuntu Mawlahu...")

Nabi SAW bersabda: "Barangsiapa yang menjadikanku sebagai mawla-nya, maka Ali adalah mawla-nya."

  • Penyimpangan Syiah: Mullah Syiah menafsirkan kata Mawla secara tunggal sebagai penguasa mutlak, kepala negara, atau khalifah politik pertama pengganti Nabi.

  • Penjelasan Otentik: Berdasarkan Asbabul Wurud, hadis ini diucapkan untuk meredam kekecewaan beberapa prajurit yang berselisih dengan Ali bin Abi Thalib RA sepulang dari Yaman. Dalam struktur bahasa Arab, kata Mawla di sini bermakna kekasih, pembela, dan orang yang wajib dicintai (muwalat), bukan bermakna kepemimpinan politik (khalifah/amir).

B. Hadis Al-Manzilah ("Kedudukanmu di Sisiku Seperti Harun di Sisi Musa")

Rasulullah SAW bersabda kepada Ali RA saat Perang Tabuk: "Apakah engkau tidak ridha kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, melainkan tidak ada nabi setelahku."

  • Penyimpangan Syiah: Syiah mengeklaim hadis ini sebagai bukti penunjukan Ali sebagai khalifah mutlak penerus Nabi dalam segala urusan.

  • Penjelasan Otentik: Nabi SAW mengucapkan kalimat tersebut untuk menenangkan Ali yang merasa sedih karena ditinggalkan di Madinah untuk menjaga wanita, anak-anak, dan orang tua selama Perang Tabuk. Selain itu, Nabi Harun AS wafat sebelum Nabi Musa AS, sehingga Harun tidak pernah menjadi penerus kekuasaan Musa sepeninggalnya. Menjadikan hadis ini sebagai bukti suksesi kekuasaan adalah analogi yang tidak sesuai fakta sejarah.

C. Hadis Dua Belas Amir ("Agama Ini Akan Senantiasa Berdiri...")

Rasulullah SAW bersabda: "Agama ini akan senantiasa berdiri kokoh sampai datangnya 12 orang khalifah/amir, seluruhnya dari Quraisy." (HR. Bukhari & Muslim).

  • Penyimpangan Syiah: Syiah memaksakan hadis ini sebagai dalil untuk 12 Imam silsilah Syiah (dimulai dari Ali bin Abi Thalib hingga Imam Gaib ke-12).

  • Penjelasan Otentik: Konteks hadis merujuk pada penguasa (khalifah/amir) politik yang nyata memerintah dengan kejayaan dan kejujuran di tengah umat Islam dari suku Quraisy, bukan sosok-sosok yang sebagian besar di antaranya tidak pernah memegang tampuk kekuasaan politik, apalagi sosok gaib yang tidak berwujud.

3. Dampak Penyimpangan terhadap Metodologi Keilmuan

Penyimpangan dalam menafsirkan hadis memiliki dampak serius terhadap keutuhan syariat:

  1. Anarki Hermeneutika: Teks agama kehilangan fungsi dasarnya sebagai petunjuk yang jelas (mubin). Jika kata-kata dalam hadis bebas dipelintir maknanya tanpa kaidah bahasa dan sejarah, maka siapapun bisa mengatasnamakan agama untuk kepentingannya.

  2. Standard Ganda Keilmuan: Ulama Syiah menolak riwayat para sahabat dengan alasan "tidak maksum", namun di saat yang sama menerima penafsiran liar dan spekulatif dari mullah mereka tanpa meminta bukti keilmuan yang ilmiah.

Kesimpulan

Penyimpangan dalam menafsirkan hadis yang dilakukan oleh sekte Syiah merupakan bentuk pemaksaan teks agar tunduk pada ideologi politik Imamah. Dengan mengabaikan Asbabul Wurud, kaidah bahasa Arab, dan konteks sejarah, mereka berusaha membenarkan doktrin-doktrin buatan yang tidak memiliki pijakan otentik.

Bagi kaum muslimin Ahlussunnah wal Jama'ah, hadis Rasulullah SAW harus dipahami secara jujur berdasarkan metodologi ilmu hadis (Dirayah dan Riwayah), kaidah bahasa Arab yang shahih, serta penjelasan para sahabat dan ulama tepercaya yang menyaksikan langsung turunnya syariat.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: