Syiahindonesia.com - Dalam teologi Islam yang diusung oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunni), konsep karomah didefinisikan sebagai kejadian luar biasa di luar jangkauan akal sehat yang dianugerahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada hamba-Nya yang saleh dan bertakwa (wali). Karomah diberikan semata-mata sebagai bentuk pertolongan, pemuliaan, atau penguatan hamba tersebut dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, tanpa pernah mengikis batasan tegas antara sifat kemanusiaan hamba dengan keagungan sifat Ilahi.
Namun, dalam ajaran dan tradisi sekte Syiah, khususnya Syiah Dua Belas Imam (Itsna Asyariyah), konsep karomah mengalami pergeseran makna dan penyimpangan mendasar. Batasan antara karomah (kehormatan bagi wali), mukjizat (bukti kenabian), dan hak prerogatif kekuasaan Allah (Tauhid Rububiyyah) menjadi kabur akibat pengultusan ekstrem (ghuluw) terhadap para Imam mereka.
1. Pergeseran Karomah Menjadi Otoritas Kosmis (Wilayah Takwiniyyah)
Perbedaan paling mencolok antara pemahaman Sunni dan Syiah terkait kejadian luar biasa terletak pada kadar dan jenis otoritas yang disematkan kepada figur saleh:
Sunni: Karomah bersifat Pasif dan Terbatas: Bagi Ahlus Sunnah, seorang wali tidak memiliki kontrol mutlak atas timbulnya karomah. Karomah terjadi semata-mata atas kehendak (Iradah) Allah pada momen tertentu dan tidak dapat dipamerkan, diwariskan, atau dijadikan dasarpenetapan syariat baru.
Syiah: Otoritas Kosmis Aktif (Wilayah Takwiniyyah): Ulama-ulama besar Syiah meyakini bahwa para Imam mereka dibekali oleh Allah dengan Wilayah Takwiniyyah, yaitu kemampuan inherent untuk mengendalikan molekul, atom, dan hukum alam semesta. Bagi Syiah, "karomah" Imam bukan lagi sekadar pertolongan sesaat dari Allah, melainkan hak otoritas penuh sang Imam untuk mengatur alam, menghidupkan yang mati, hingga menurunkan hujan kapan pun mereka kehendaki.
2. Penyimpangan Akidah dalam Manifestasi "Karomah" Syiah
Pengembangan narasi karomah yang tidak berdasar dalam literatur Syiah telah melahirkan beberapa bentuk penyimpangan akidah yang merusak Tauhid:
A. Klaim Pengetahuan Hal Gaib secara Mutlak ('Ilm al-Ghaib)
Syiah menarasikan kejadian luar biasa para Imam berupa klaim bahwa para Imam mengetahui seluruh perkara gaib—mulai dari kapan mereka akan mati, apa yang terjadi di langit dan bumi, hingga nasib setiap manusia di akhirat. Klaim ini bertentangan secara tegas dengan firman Allah dalam Surah An-Naml ayat 65 yang menegaskan bahwa tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib selain Allah.
B. Legitimasi Praktik Syirik (Istighatsah kepada Selain Allah)
Atas nama memuliakan "karomah" para Imam yang dianggap tetap dapat mengatur alam meskipun telah meninggal dunia, penganut Syiah dibolehkan—bahkan dianjurkan—untuk berdoa dan meminta hajat langsung kepada para Imam (Istighatsah bi ghairillah), seperti mengucapkan "Ya Ali Madad" (Wahai Ali, tolonglah aku). Meminta pertolongan dan keselamatan kosmis kepada selain Allah adalah bentuk perbuatan syirik besar (syirk akbar).
C. Mitos dan Fabrikasi Riwayat Dongeng
Literatur Syiah dipenuhi oleh riwayat-riwayat takhayul yang mengatasnamakan karomah, seperti klaim bahwa para Imam lahir dari paha ibunya, dapat berbicara bahasa seluruh makhluk sejak bayi, atau dapat mengelilingi dunia hanya dalam satu helaan napas. Narrative ini dibuat untuk mengikat emosional jemaah awam agar tidak mengkritis ajaran para ulama Syiah.
3. Matriks Perbandingan Konsep Karomah: Sunni vs Syiah
Untuk melihat secara jelas perbedaan antara konsep karomah yang sesuai syariat dengan penyimpangan doktrin Syiah, berikut tabel komparasinya:
4. Sikap Hakiki Para Imam Ahlul Bait Terhadap Pengultusan
Fakta sejarah dalam kitab-kitab induk Islam mencatat bahwa para tokoh Ahlul Bait sendiri—seperti Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. dan Imam Ja'far ash-Shadiq r.a.—sangat murka terhadap pihak-pihak yang merekayasa "karomah" dan mengangkat derajat mereka ke tingkat ketuhanan.
Imam Ja'far ash-Shadiq r.a. pernah menegaskan sikap tegasnya terhadap kelompok ekstremis (Ghulat) yang mempabrikasi klaim-klaim kedudukan luar biasa atas nama beliau:
"Semoga Allah melaknat orang-orang yang mengklaim pada diri kami apa yang tidak kami katakan pada diri kami sendiri. Sesungguhnya kami adalah hamba Allah yang diciptakan, kami tidak memiliki kuasa atas kemudaratan maupun kemanfaatan bagi diri kami sendiri."
Kesimpulan
Penyimpangan konsep karomah oleh sekte Syiah merupakan bentuk ghuluw (berlebihan dalam beragama) yang mengaburkan hak-hak Tauhid milik Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dengan mengatasnamakan "pemuliaan karomah Ahlul Bait", Syiah justru menyusupkan ajaran pengultusan individu, klaim Wilayah Takwiniyyah, serta penyembahan kepada selain Allah.
Bagi umat Islam di Indonesia, memahami hakikat karomah berdasarkan tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah menurut pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah benteng utama. Kita memuliakan para wali dan keluarga Nabi ﷺ dengan cara meneladani kesalehan dan ketakwaan mereka, bukan dengan mengangkat mereka ke derajat ketuhanan yang mencederai keagungan Tauhid.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: