Breaking News
Loading...

Syiah dan Penghinaan terhadap Khalid bin Walid

Syiahindonesia.com - Dalam panggung sejarah Islam, Khalid bin Walid radhiyallahu 'anhu berdiri sebagai sosok Panglima Islam perkasa yang dijuluki langsung oleh Rasulullah SAW sebagai Saifullah al-Maslul (Pedang Allah yang Terhunus). Di bawah komando militer dan kejeniusan taktiknya, panji-panji Islam berhasil meruntuhkan dua kekaisaran adidaya pada zamannya—Persia Sasania dan Romawi Bizantium—serta membebaskan wilayah Syam dan Irak menuju naungan Islam.

Bagi kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Khalid bin Walid adalah salah satu Sahabat Nabi terbaik yang jasa dan pengorbanannya membela agama Allah sangat dirasakan hingga hari ini. Namun, dalam tradisi teologi dan penulisan sejarah kelompok Syiah Raafidhah / Itsna Asyariyyah (Dua Belas Imam), nama Khalid bin Walid justru dijadikan sasaran penghinaan, celaan, dan pembunuhan karakter secara sistematis.

Berikut adalah beberapa bentuk penghinaan dan narasi kebencian kelompok Syiah terhadap Sayyidina Khalid bin Walid RA:

1. Menolak Gelar Mulia Saifullah dan Menggantinya dengan Sebutan Keji

Gelar Saifullah (Pedang Allah) diberikan langsung oleh Rasulullah SAW kepada Khalid bin Walid pasca-Perang Mu'tah, di mana Khalid berhasil menyelamatkan pasukan Muslimin dari kepungan ratusan ribu tentara Bizantium dengan taktik yang sangat cemerlang.

Bentuk Penghinaannya: Para penulis dan penceramah Syiah secara terang-terangan menolak gelar kenabian tersebut. Dalam berbagai literatur propaganda mereka, gelar Saifullah disindir dan diubah menjadi Saifusy Syaithan (Pedang Setan) atau pedang kezaliman. Menolak pujian mutawatir dari Nabi SAW kepada sahabatnya merupakan bentuk pembangkangan terhadap sabda Rasulullah SAW sendiri.

2. Dituduh Sebagai Pembunuh dan Pemerkosa dalam Peristiwa Malik bin Nuwairah

Salah satu tuduhan paling populer yang selalu diulang-ulang oleh tokoh Syiah untuk merusak citra Khalid bin Walid adalah peristiwa penumpasan kelompok murtad dan pembangkang zakat di bawah pimpinan Malik bin Nuwairah pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA.

Bentuk Penghinaannya: Kelompok Syiah menuduh Khalid bin Walid membunuh Malik bin Nuwairah secara zalim semata-mata karena bernafsu untuk menikahi istrinya yang cantik (Laila binti al-Minhal). Mereka menggambarkan Khalid sebagai sosok yang kejam, haus darah, dan tidak bermoral.

Bantahan dan Realita Sejarah: Tuduhan ini adalah fitnah keji yang diproduksi oleh para pemalsu sejarah dari kalangan Syiah Kufah. Fakta sejarah yang otentik menunjukkan bahwa:

  1. Khalid bin Walid mengeksekusi Malik bin Nuwairah berdasarkan ijtihat militer dan keagamaan, karena Malik menolak membayar zakat (yang merupakan pilar murtad secara hukum pada masa Perang Riddah) serta mengeluarkan ucapan yang meremehkan Rasulullah SAW.

  2. Pernikahan Khalid dengan Laila dilakukan setelah berakhirnya masa iddah secara sah menurut syariat Islam.

  3. Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA tetap mempertahankan Khalid sebagai panglima utama, karena memahami bahwa tindakannya adalah hasil ijtihad seorang panglima perang di medan pertempuran.

3. Fitnah Dituduh Mengincar Nyawa Sayyidina Ali bin Abi Thalib

Demi mempertajam narasi kebencian dan membenturkan antara Sahabat dengan Ahlul Bait, literatur Syiah menciptakan konspirasi buatan yang sangat tidak masuk akal.

Bentuk Penghinaannya: Dalam beberapa kitab rujukan Syiah (seperti Kasyful Ghummah dan narasi penceramah mereka), Khalid bin Walid difitnah pernah diperintah oleh Sayyidina Abu Bakar dan Umar untuk membunuh Sayyidina Ali bin Abi Thalib saat sedang shalat. Mereka merekayasa cerita bahwa rencana tersebut batal di detik-detik terakhir.

Dongeng konspirasi ini tidak hanya menghina Khalid bin Walid dan Abu Bakar, tetapi juga melecehkan akal sehat. Hubungan antara Sayyidina Ali dan para Sahabat lainnya dibangun di atas dasar saling menghormati. Tidak ada satu pun riwayat sahih dalam kitab sejarah Islam yang membenarkan adanya percobaan pembunuhan antar-Sahabat utama tersebut.

4. Motif Kebencian Syiah: Khalid Menghancurkan Kekaisaran Persia

Mengapa kelompok Syiah begitu membenci Khalid bin Walid melebihi tokoh-tokoh lainnya? Jawabannya terletak pada peninggalan sejarah dan emosi kebangsaan (Majusi/Persia) yang menyusup ke dalam teologi Syiah.

Latar Belakang Kebencian: Khalid bin Walid adalah panglima yang memimpin penaklukan wilayah Irak dan menumbangkan kejayaan Kekaisaran Persia Sasania dalam berbagai pertempuran dahsyat (seperti Perang Zafar, Ullais, dan Al-Anbar). Kehancuran dinasti Imperium Persia dan padamnya api keagamaan Majusi di tangan pasukan Khalid meninggalkan luka sejarah yang mendalam bagi para penganut fanatisme Persia kuno. Kebencian historis atas runtuhnya Kerajaan Persia ini kemudian dibungkus dengan doktrin agama dan dialamatkan kepada Khalid bin Walid.

Kesimpulan

Penghinaan kelompok Syiah terhadap Khalid bin Walid RA merupakan cerminan dari ketidakmampuan mereka menerima kenyataan sejarah tentang kejayaan pahlawan-pahlawan Islam. Ketika seorang sahabat yang dipuji oleh Rasulullah SAW dan dipelihara jasanya oleh seluruh umat Islam justru dihina dan dituduh secara keji, maka terlihat jelas betapa melencengnya pandangan teologi tersebut dari garis lurus Islam.

Bagi kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia, memuliakan Sayyidina Khalid bin Walid Saifullah dan mendoakan keridhaan Allah bagi seluruh Sahabat Nabi adalah kewajiban iman. Nama besar Khalid bin Walid akan tetap harum dalam lembaran sejarah sebagai Sang Pedang Allah yang tak pernah kalah di medan perang demi menegakkan kalimat Laa Ilaha Illallah.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: