Syiahindonesia.com - Kejujuran (ash-shidq) merupakan pilar utama dalam Islam. Rasulullah SAW menegaskan bahwa kejujuran menuntun kepada kebaikan, sementara kedustaan menuntun kepada kejahatan. Dalam tradisi transmisi ilmu, Ahlus Sunnah wal Jama’ah menjadikan kejujuran perawi sebagai syarat mutlak diterimanya sebuah hadis dan ajaran agama.
Namun, di dalam teologi dan praktik keagamaan Syiah Raafidhah / Itsna Asyariyyah (Dua Belas Imam), kedustaan tidak hanya terjadi secara insidental, melainkan diinstitusionalkan sebagai bagian dari doktrin agama melalui konsep Taqiyyah. Selain itu, manipulasi riwayat dan pemalsuan atas nama Ahlul Bait menjadi metode utama mereka dalam menyebarkan ajaran.
Berikut adalah beberapa bentuk dan doktrin kedustaan dalam penyampaian ajaran Syiah:
1. Doktrin Taqiyyah: Pengesahan Dusta atas Nama Agama
Bentuk kedustaan paling mendasar dalam Syiah adalah doktrin Taqiyyah, yaitu menyembunyikan keyakinan atau menyuarakan hal yang berlawanan dengan isi hati demi kepentingan tertentu.
Sisi Penyimpangannya: Jika dalam Islam Ahlus Sunnah taqiyyah hanya diperbolehkan dalam kondisi darurat ekstrem yang mengancam nyawa (seperti di bawah ancaman pembunuhan), maka dalam Syiah taqiyyah dijadikan sebagai kewajiban rutin dan bagian integral dari akidah.
Dalam kitab induk Syiah Al-Kafi karya Al-Kulaini, mereka mencatut nama Imam Ja'far ash-Shadiq dengan riwayat palsu:
"Taqiyyah adalah bagian dari agamaku dan agama nenek moyangku. Tidak ada agama bagi orang yang tidak ber-taqiyyah."
Ulama Syiah bahkan menyamakan kedudukan taqiyyah dengan shalat. Dampak dari doktrin ini adalah munculnya kepribadian ganda (double standard): penganut Syiah dapat berpura-pura menyetujui akidah Sunnah di hadapan kaum Muslimin, namun menyembunyikan ajaran aslinya ketika berada di kelompok mereka sendiri.
2. Pemalsuan Riwayat dan Penyandaran Dusta kepada Ahlul Bait
Untuk melegitimasi doktrin-doktrin yang tidak memiliki landasan dalam Al-Qur'an dan Sunnah, para teolog Syiah memproduksi ribuan riwayat palsu yang disandarkan secara dusta kepada para Imam Ahlul Bait, khususnya Imam Ja'far ash-Shadiq dan Imam Muhammad al-Baqir.
Sisi Penyimpangannya: Para ulama ahli hadis sejak abad awal Islam, seperti Imam Ash-Syafi'i dan Imam Malik, telah memperingatkan bahaya kedustaan kelompok Raafidhah. Imam Ash-Syafi'i pernah menegaskan: "Aku tidak pernah melihat kelompok yang paling berani bersaksi palsu/berdusta melebihi kelompok Raafidhah (Syiah)."
Riwayat-riwayat palsu ini digunakan untuk mengafirkan para Sahabat Nabi, mewajibkan doktrin Imamah, menyanggah ayat-ayat Al-Qur'an, hingga mempropagandakan ritual-ritual yang tidak pernah disyariatkan oleh Rasulullah SAW.
3. Manipulasi Kitab-Kitab Rujukan dan Penyelundupan Narasi
Dalam menyampaikan ajarannya kepada masyarakat umum di negara-negara mayoritas Sunni, para dai dan propaganda Syiah sering melakukan manipulasi teks (tahrif) dan interpretasi liar terhadap kitab-kitab ulama Ahlus Sunnah.
Sisi Penyimpangannya:
Kutipan Sepotong-Sepotong (Quote-Mining): Mereka sering mengutip bagian tertentu dari kitab sejarah/hadis Sunni untuk mengesankan bahwa ulama Sunni mendukung pandangan Syiah, sambil membuang konteks asli dan penjelasan ulama terkait riwayat tersebut.
Pencampuran Istilah: Menggunakan istilah-istilah Islami seperti "mencintai Ahlul Bait" atau "persatuan Islam" sebagai pintu masuk propaganda, padahal makna "Ahlul Bait" dalam teologi Syiah telah dipersempit dan distorsi hanya pada 12 Imam pilihan mereka.
4. Memanfaatkan Media Massa dan Kamuflase Identitas
Di era modern, kedustaan penyampaian ajaran Syiah mewujud dalam bentuk penyamaran identitas lembaga, situs web, serta yayasan sosial.
Sisi Penyimpangannya: Banyak situs dan lembaga yang dikelola oleh kelompok Syiah tidak menyantumkan identitas teologi mereka secara jujur. Mereka kerap menampilkan profil seolah-olah sebagai lembaga kajian Islam umum atau yayasan kemanusiaan biasa. Tujuan dari kamuflase ini adalah untuk menarik simpati masyarakat awam sebelum secara bertahap menginjeksikan doktrin-doktrin kebencian terhadap para Sahabat Nabi dan istri-istri Rasulullah SAW.
Kesimpulan
Kedustaan yang terstruktur melalui doktrin Taqiyyah dan pemalsuan riwayat merupakan cacat metodologis paling mendasar dalam teologi Syiah. Agama yang dibangun di atas fondasi penyembunyian kebenaran dan pemutarbalikkan fakta tidak akan pernah menghasilkan pemahaman yang lurus.
Bagi kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia, kewaspadaan terhadap propaganda Syiah harus terus ditingkatkan. Menuntut ilmu dari sumber-sumber yang otentik, memegang teguh sanad yang sahih, serta kritis terhadap setiap narasi yang dilontarkan adalah cara terbaik untuk membentengi diri dari kesesatan dan kedustaan ajaran sektarian.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: