Syiahindonesia.com - Ayat Kursi (Surah Al-Baqarah: 255) adalah salah satu ayat paling agung dalam Al-Qur'an. Di dalamnya terkandung deklarasi keesaan Allah Subhanahu wa Ta'ala, kemahakuasaan-Nya, serta sifat-sifat ketuhanan (Rububiyyah dan Uluhiyyah) yang mutlak dan tidak berserikat dengan makhluk mana pun. Dalam pandangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunni), Ayat Kursi merupakan pilar murni murni akidah tauhid yang mengajarkan keagungan Zat, Ilmu, dan Kekuasaan Allah.
Namun, dalam tradisi penafsiran sekte Syiah Dua Belas Imam (Itsna Asyariyah), agungnya ayat tauhid ini tidak luput dari praktik pemelintiran teologis (tahrif ma'nawi). Demi menyokong doktrin kedudukan para Imam yang melampaui batas (ghuluw), sebagian mufasir dan tokoh Syiah membelokkan makna kata-kata kunci dalam Ayat Kursi agar bermakna para Imam mereka.
1. Bentuk Penyesatan Makna Ayat Kursi oleh Sekte Syiah
Kesalahan fundamental Syiah dalam menafsirkan Ayat Kursi terletak pada pemaksaan metode tafsir bathini yang mengebawahkan makna tauhid demi dogma kepemimpinan (Imamah).
Penafsiran Kata "Al-Kursi" (الْكُرْسِيُّ): Dalam aqidah Sunni berdasarkan penjelasan para sahabat seperti Ibn Abbas r.a., Kursi adalah tempat pijakan dua kaki Allah (sesuai keagungan-Nya tanpa tasybih) atau melambangkan keagungan ilmu dan kekuasaan-Nya yang meliputi langit dan bumi. Sebaliknya, dalam beberapa kitab tafsir otoritatif Syiah (seperti Tafsir Al-Qummi dan Al-Kafi karya Al-Kulaini), kata Kursi kerap disimpangkan sebagai simbol ilmu khusus yang hanya diwariskan secara eksklusif kepada para Imam Syiah.
Pemelintiran Sifat Ketuhanan Menjadi Sifat Imam: Dalam narasi ekstrim Syiah, ungkapan kekuasaan dan penjagaan Allah yang tiada henti dalam Ayat Kursi ditarik untuk menggambarkan kedudukan spiritual 12 Imam. Mereka mengeklaim bahwa para Imam memiliki pengetahuan gaib (ilm al-ghaib) serta peran Wilayah Takwiniyyah (kemampuan mengontrol alam semesta) yang menyamai atau mendekati sifat-sifat Allah yang termaktub dalam Ayat Kursi.
2. Pengebawaan Tauhid Demi Dogma Imamah
Dampak paling berbahaya dari pendekatan tafsir Syiah terhadap Ayat Kursi adalah pergeseran fokus utama ayat tersebut. Ayat Kursi diturunkan Allah untuk menegaskan:
Eksklusivitas Sifat-Sifat Allah: Tidak ada yang menyamai Allah dalam hal kehidupan yang kekal (Al-Hayyu) dan mengurus makhluk-Nya (Al-Qayyumu).
Penolakan Syirik dan Syafaat Tanpa Izin: Syafaat hanya milik Allah dan diberikan kepada yang diizinkan-Nya. Syiah, di sisi lain, sering menggunakan narasi syafaat untuk membangun doktrin bahwa para Imam memiliki otoritas independen dalam memberikan pengampunan dan syafaat mutlak bagi pengikutnya.
Dengan mengarahkan ayat yang murni membicarakan keagungan tauhid ini kepada figur manusia (para Imam), sekte Syiah secara tidak langsung telah melakukan tindakan ghuluw (berlebih-lebihan) yang mencederai prinsip dasar tauhid asma' wa shifat.
3. Matriks Komparasi Penafsiran Ayat Kursi: Sunni vs Syiah
Untuk melihat kontras pendekatan metodologis antara akidah Islam yang sahih dengan doktrin Syiah, berikut adalah tabel perbandingannya:
Kesimpulan
Ayat Kursi adalah benteng tauhid yang menegaskan kemahakuasaan Allah Ta'ala atas seluruh alam semesta. Upaya sekte Syiah dalam menyimpangkan makna ayat ini demi melegitimasi doktrin Imamah merupakan bentuk pemelintiran ayat Al-Qur'an yang sangat fatal. Menjaga kemurnian pemahaman Ayat Kursi sesuai manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kewajiban setiap muslim agar terhindar dari pemahaman ghuluw yang mencederai ikrar tauhid kita.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: