Breaking News
Loading...

Syiah dan Propaganda Kebencian terhadap Para Sahabat

Syiahindonesia.com - Kerukunan dan kedamaian umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, sangat bergantung pada penghormatan terhadap simbol-simbol suci agama. Salah satu pilar kehormatan Islam setelah figur Rasulullah SAW adalah generasi Sahabat Nabi—generasi terbaik yang dididik langsung di madrasah kenabian, yang mengorbankan harta, jiwa, dan raga mereka demi tegaknya panji Islam di muka bumi. Di dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, menghormati dan mencintai para Sahabat Nabi adalah bagian integral dari keimanan, sesuai dengan ketetapan Allah SWT yang telah rida kepada mereka.

Namun, kedamaian ini terusik oleh eksistensi dan penetrasi ideologi Syiah, khususnya sekte Dua Belas Imam (Itsna Asyariyyah). Bertolak belakang dengan klaim kedamaian yang sering mereka dengungkan di ruang publik, ajaran Syiah menyimpan doktrin destruktif berupa propaganda kebencian, caci maki, dan pengkafiran massal terhadap para Sahabat Nabi. Bagi teologi Syiah, kebencian terhadap mayoritas Sahabat bukan sekadar letupan emosi sejarah, melainkan bagian dari ritual ibadah dan syarat mutlak sahnya iman seseorang. Propaganda sistematis inilah yang menjadi bom waktu yang sangat berbahaya bagi persatuan bangsa dan kemurnian akidah di Indonesia.

1. Doktrin Tabarra': Kewajiban Berlepas Diri dan Melaknat Sahabat

Untuk memahami mengapa kaum Syiah begitu masif memproduksi propaganda kebencian, kita harus membedah pilar akidah mereka yang disebut Tabarra'. Di dalam sistem teologi Syiah, iman tidak akan sempurna hanya dengan mencintai Ahlul Bait (Walla’), melainkan harus dibarengi dengan membenci, melaknat, dan mengutuk musuh-musuh Ahlul Bait (Tabarra').

Siapakah yang mereka identifikasikan sebagai musuh utama Ahlul Bait? Tragisnya, mereka adalah para Sahabat terdekat Rasulullah SAW yang justru paling berjasa bagi dakwah Islam, terutama Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan RA.

Di dalam kitab-kitab induk rujukan mereka, para pendeta Syiah secara ekstrem memvonis murtad hampir seluruh Sahabat setelah wafatnya Nabi SAW. Salah satu riwayat yang paling sering mereka agungkan terdapat dalam kitab Ushul al-Kafi karangan Al-Kulaini, di mana dituliskan:

“Seluruh manusia (para Sahabat) murtad setelah wafatnya Nabi SAW kecuali tiga orang saja: Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi.”

Memosisikan generasi terbaik Islam sebagai kelompok pengkhianat dan murtad adalah akar dari segala bentuk propaganda terselubung yang mereka tebarkan ke tengah-tengah umat Islam yang awam.

2. Praktik Laknat Sanamay Quraisy (Dua Berhala Quraisy)

Kebencian Syiah terhadap para Sahabat tidak berhenti pada tataran teori di dalam kitab, melainkan diwujudkan dalam bentuk doa-doa ritual khusus yang mengandung caci maki keji. Salah satu pusaka ritual mereka yang paling populer adalah doa bernama Du'a Sanamay Quraisy (Doa Dua Berhala Quraisy).

Dalam ritual doa ini, kaum Syiah secara rutin melaknat dua khalifah pertama Islam, yaitu Abu Bakar dan Umar RA, dengan sebutan "Dua Berhala Quraisy", "dua setan", dan "dua penyihir". Mereka menganggap kedua Sahabat mulia tersebut sebagai biang keladi dari segala penyimpangan agama dan kezalan di muka bumi. Mengutuk kedua tokoh agung ini dipandang oleh para ulama besar Syiah terdahulu maupun kontemporer sebagai amalan yang mendatangkan pahala yang sangat besar, melebihi ibadah-ibadah sunah lainnya.

3. Penghancuran Karakter para Istri Nabi (Ummul Mukminin)

Selain menyasar para khalifah, propaganda kebencian Syiah juga diarahkan secara keji untuk menghancurkan reputasi kesucian istri-istri Rasulullah SAW, khususnya Sayyidah Aisyah binti Abu Bakar dan Sayyidah Hafsah binti Umar RA.

Meskipun Allah SWT telah menyucikan nama Sayyidah Aisyah RA langsung dari atas langit ketujuh melalui ayat-ayat dalam Surah An-Nur terkait fitnah keji (Haditsul Ifki), kaum Syiah tetap nekat memproduksi narasi-narasi palsu di dalam majelis-majelis internal mereka. Mereka menuduh Ummul Mukminin Aisyah RA dengan tuduhan nifak (kemunafikan), pengkhianatan terhadap Nabi, hingga vonis bahwa beliau adalah ahli neraka. Pembunuhan karakter terhadap istri Nabi ini secara tidak langsung merupakan penghinaan besar kepada pribadi Rasulullah SAW, karena tidak mungkin seorang Nabi maksum dibiarkan oleh Allah didampingi oleh istri-istri yang buruk akhlak dan imannya.

4. Strategi Taqiyah: Topeng Palsu di Hadapan Publik

Umat Islam di Indonesia perlu waspada karena para misionaris Syiah sangat lihai dalam membungkus propaganda ini melalui strategi Taqiyah (kamuflase atau menyembunyikan akidah asli).

Ketika mereka berbicara di seminar nasional, media massa, atau dialog antar-mazhab di Indonesia, mereka akan menggunakan bahasa-bahasa yang manis. Mereka akan mengeklaim bahwa Syiah menghormati Sahabat, atau berdalih bahwa isu caci maki terhadap Sahabat hanyalah isu masa lalu yang sengaja digoreng oleh kelompok radikal untuk memecah belah umat.

Namun, topeng toleransi ini akan runtuh seketika apabila kita memeriksa buku-buku referensi utama mereka yang dicetak di Qom (Iran) atau Beirut (Lebanon), serta situs-situs resmi dan siaran televisi internasional milik lembaga Syiah. Di sana, caci maki, ejekan, dan laknat terhadap Sahabat disiarkan secara terbuka tanpa sensor. Taqiyah hanyalah alat defensif agar ajaran mereka tidak ditolak secara frontal oleh mayoritas Muslim Indonesia yang berakidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Concluding Note & Konsekuensi Bahaya bagi NKRI

Propaganda kebencian yang dipelihara oleh ajaran Syiah bukan sekadar masalah teologi internal belaka, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas sosial dan keamanan nasional di Indonesia. Ketika suatu kaum didoktrin untuk membenci personil-personil yang dihormati oleh mayoritas penduduk sebuah negara, maka benih-benih konflik horizontal dan radikalisme telah ditanam secara nyata.

Sikap kritis dan antisipatif dari para ulama, ormas Islam, serta pemerintah Indonesia sangat diperlukan untuk membentengi masyarakat dari infiltrasi paham ini. Mencintai Ahlul Bait yang hakiki adalah dengan mencontoh kemuliaan akhlak mereka—di mana Sayyidina Ali, Hasan, dan Husain sendiri menghormati para Khalifah terdahulu dan bahkan menamai anak-anak mereka dengan nama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Membongkar propaganda palsu Syiah adalah bentuk pembelaan nyata kita terhadap kehormatan Rasulullah SAW, keluarga beliau, dan para Sahabatnya yang mulia.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: