Breaking News
Loading...

Syiah dan Penyimpangan dalam Memahami Ma'shum-nya Imam

Syiahindonesia.com – Dalam bangunan akidah Islam, kesucian para pembawa risalah ilahi merupakan hal yang sangat fundamental. Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah menyepakati bahwa Allah SWT memberikan sifat Ishmah (kema'shuman/penjagaan dari dosa dan kesalahan) secara eksklusif kepada para Nabi dan Rasul. Penjagaan suci ini bertujuan agar wahyu syariat yang disampaikan kepada umat manusia terjaga dari distorsi, kelalaian, dan hawa nafsu.

Namun, di dalam teologi sekte Syiah, khususnya Syiah Dua Belas Imam (Itsna Asyariyah), konsep kema'shuman ini telah ditarik keluar dari koridornya yang sah dan mengalami pembajakan yang sangat radikal. Syiah memperluas sifat ishmah ini kepada para Imam mereka (Sayyidina Ali r.a. dan 11 keturunannya). Penyimpangan fatal dalam memahami hakikat kema'shuman ini bukan sekadar masalah istilah, melainkan sebuah bentuk ekstrimisme (ghuluw) yang merusak batas antara hak kenabian dan kedudukan manusia biasa, serta meruntuhkan kesempurnaan risalah Nabi Muhammad ﷺ.

1. Hakikat Ishmah yang Benar dalam Akidah Islam

Bagi umat Islam yang berjalan di atas manhaj yang lurus, sifat ma'shum adalah hak istimewa yang bersifat terbatas dan fungsional. Para Nabi dijaga oleh Allah SWT dalam hal penyampaian wahyu agar tidak terjadi kekeliruan, serta dijaga dari terjerumus ke dalam dosa-dosa besar (kaba'ir) yang dapat menjatuhkan kehormatan dakwah mereka. Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur'an melalui Surat An-Najm ayat 3-4:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

"Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)."

Ayat ini mempertegas bahwa ruang lingkup kema'shuman mutlak berkaitan erat dengan otoritas Nubuwwah (kenabian) dan turunnya wahyu. Setelah Nabi Muhammad ﷺ wafat, maka putuslah rantai wahyu dan berakhir pula keberadaan manusia ma'shum di muka bumi. Para sahabat Nabi, tabiin, hingga para ulama setelahnya adalah manusia biasa yang tidak sunyi dari salah, lupa, maupun keliru (khatha').

2. Kedudukan Ekstrem Kema'shuman Imam Versi Teologi Syiah

Sekte Syiah melakukan penyesatan teologis dengan mengeklaim bahwa 12 Imam mereka memiliki tingkat kema'shuman yang sama persis, bahkan dalam beberapa literatur melampaui kema'shuman para Nabi sebelum Rasulullah ﷺ. Ulama besar rujukan Syiah, Muhammad Ridha al-Muzaffar, dalam kitab akidahnya Aqa'id al-Imamiyyah secara tegas menulis:

"Kami meyakini bahwa Imam itu seperti Nabi; wajib memiliki sifat ma'shum dari seluruh keburukan dan dosa, baik yang lahir maupun yang batin, dari masa kanak-kanak hingga mati, sengaja maupun lupa."

Pemberian sifat ishmah mutlak kepada para Imam ini melahirkan konsekuensi hukum yang sangat cacat:

  • Penyetaraan Ucapan Imam dengan Wahyu: Setiap fatwa, perkataan, dan bahkan mimpi para Imam dinilai oleh Syiah sebagai sumber syariat yang mengikat dan suci dari kesalahan.

  • Hak Mengubah Hukum Allah: Karena dianggap selalu benar, perkataan para Imam dapat merevisi atau membatalkan (nasakh) hukum-hukum yang telah ditetapkan di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah sahih yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

3. Kontradiksi Fakta Sejarah dengan Mitos Kema'shuman

Ulama-ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah telah lama membongkar bahwa klaim kema'shuman para Imam Syiah ini runtuh ketika dihadapkan pada realita sejarah yang valid. Sosok mulia seperti Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a., Imam Hasan r.a., maupun Imam Ja'far al-Shadiq dalam kehidupan nyata senantiasa menampilkan karakter hamba Allah yang tawaduk, berijtihad, bahkan saling mengoreksi.

Beberapa bukti kontradiksi tersebut di antaranya:

  1. Perbedaan Keputusan Politik: Imam Hasan r.a. memilih untuk melakukan perdamaian dan menyerahkan kekhalifahan kepada Mu'awiyah r.a. (Amul Jama'ah) demi mencegah tumpahnya darah umat. Kebijakan ini sangat bertolak belakang dengan langkah militer yang diambil oleh sang ayah (Ali r.a.) sebelumnya. Jika keduanya sama-sama ma'shum dan mendapatkan bimbingan gaib yang satu, mengapa ijtihad politik mereka bisa berbeda secara frontal?

  2. Pengakuan Dosa dan Tobat: Dalam doa-doa yang sahih dari jalur Ahlul Bait (seperti Doa Kumail yang dinisbatkan kepada Ali r.a.), dipenuhi oleh untaian kalimat permohonan ampun atas dosa dan kesalahan. Syiah terjebak dalam dilema: jika Ali r.a. ma'shum, mengapa beliau menangis meminta ampun atas dosa? Jika doa itu hanya sandiwara untuk mengajari umat, maka hal itu menodai kejujuran spiritual beliau.

4. Dampak Kerusakan Akidah Akibat Mitos Ishmah Syiah

Penyimpangan pemahaman mengenai sifat ma'shum ini membawa kerusakan berantai pada seluruh sendi beragama umat Islam, yang dapat dipetakan melalui perbandingan fakta berikut:

Dampak TeologisPandangan Ahlus Sunnah wal Jama’ahPenyimpangan Doktrin Syiah
Status Kesempurnaan IslamAgama Islam telah sempurna setelah wafatnya Nabi ﷺ berdasarkan Surat Al-Ma'idah ayat 3.Syariat terus berkembang dan berubah melalui lisan 12 Imam hingga abad ke-3 Hijriah.
Sikap Terhadap UlamaPendapat ulama dihormati namun tetap diuji menggunakan dalil Al-Qur'an dan Hadis.Perkataan Mullah dan Ulama tertinggi Syiah (Faqih) dianggap sakral karena mengeklaim mewakili Imam ma'shum.
Otoritas Berpikir (Akal)Mendorong ijtihad ilmiah berdasarkan kaidah-kaidah ushul fikih yang baku.Mematikan daya kritis umat karena seluruh keputusan mutlak berada di tangan hierarki Imamah.

5. Kewaspadaan Terhadap Infiltrasi Doktrin Ishmah di Indonesia

Di Indonesia, para propagandis Syiah tidak akan memperkenalkan doktrin kema'shuman Imam ini secara vulgar menggunakan istilah teologis yang berat. Mereka membungkusnya secara halus melalui narasi-narasi kultural yang manipulatif.

Umat Islam di Nusantara wajib mewaspadai pola penyusupan doktrin ini:

  • Eksploitasi Gelar Kehormatan: Mereka mengaburkan makna antara rasa hormat Sunni kepada keturunan Nabi (Dzurriyyah/Habaib) dengan doktrin ishmah ala Syiah. Mereka mencoba mendoktrinkan bahwa mencintai Ahlul Bait berarti harus menelan mentah-mentah seluruh ajaran sekte Syiah.

  • Merusak Kepercayaan Pada Ulama Sunni: Melalui diskusi-diskusi filsafat dan tasawuf kontemporer, mereka mencoba membangun opini bahwa ulama-ulama Sunni (seperti Imam Syafii atau Imam Asy'ari) adalah manusia biasa yang penuh salah, sehingga umat harus beralih merujuk kepada figur "Imam Maksum" versi mereka demi mendapatkan kebenaran sejati.

Kesimpulan

Penyimpangan sekte Syiah dalam memahami konsep kema'shuman (ishmah) para Imam adalah bentuk kelancangan teologis yang merongrong fondasi kenabian Rasulullah ﷺ. Dengan menyematkan sifat suci dari salah dan lupa kepada manusia-manusia selain Nabi, Syiah secara praktis telah menciptakan institusi kenabian baru yang dibungkus dengan nama Imamah.

Sebagai umat Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia, kita wajib membentengi diri dari racun pemikiran ini. Kita wajib memuliakan Sayyidina Ali r.a., Imam Hasan, Imam Husain, dan seluruh keluarga Nabi dengan porsi yang adil dan jujur sesuai tuntunan syariat, yaitu sebagai manusia-manusia mulia pahlawan Islam, tanpa harus menjatuhkan diri ke dalam kubangan kultus individu yang merusak kemurnian tauhid kita kepada Allah SWT.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: