Breaking News
Loading...

Syiah dan Penyimpangan dalam Konsep Tauhid Rububiyyah

Syiahindonesia.com – Tauhid adalah inti dari seluruh risalah para nabi dan rasul yang diutus ke muka bumi. Di dalam khazanah akidah Islam yang murni, berdasarkan tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah yang sahih, tauhid dibagi menjadi tiga pilar utama yang tidak dapat dipisahkan: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyah, dan Tauhid Asma' was Sifat.

Pilar yang pertama, Tauhid Rububiyyah, adalah keyakinan mutlak bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Pencipta (Al-Khaliq), Pemilik (Al-Malik), Pengatur (Al-Mudabbir), dan Pemberi Rezeki (Al-Raziq) bagi seluruh alam semesta. Tidak ada satu pun makhluk—baik malaikat yang dekat maupun nabi yang diutus—yang berserikat dengan Allah dalam hak-hak prerogatif kedewaan ini.

Namun, di dalam bangunan teologi kelompok Syiah, khususnya sekte Dua Belas Imam (Itsna Asyariyyah), konsep dasar Tauhid Rububiyyah ini telah mengalami pengikisan dan penyimpangan yang sangat ekstrem. Demi mengukuhkan doktrin kemaksuman dan otoritas para Imam mereka, kelompok Syiah menyusupkan keyakinan-keyakinan yang memberikan sifat-sifat khusus kemahakuasaan Allah kepada manusia.

Berikut adalah bedah tuntas mengenai penyimpangan fatal Syiah dalam konsep Tauhid Rububiyyah berdasarkan kitab-kitab rujukan utama mereka:

1. Keyakinan Bahwa Dunia dan Akhirat Milik Para Imam

Dalam akidah Islam yang lurus, kepemilikan mutlak atas jagat raya beserta isinya, baik di dunia maupun di akhirat, adalah milik Allah SWT semata. Allah SWT berfirman:

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا فِيهِنَّ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ma'idah: 120).

Penyimpangan Teologi Syiah: Ulama-ulama besar klasik Syiah meruntuhkan konsep ini dengan membuat bab khusus dalam kitab-kitab hadis induk mereka yang menyatakan bahwa bumi dan seisinya adalah milik para Imam mereka. Di dalam kitab Al-Kafi karya Al-Kulaini (kitab paling suci dalam teologi Syiah), terdapat sebuah bab yang berjudul: “Bab: Bahwasanya Bumi Seluruhnya adalah Milik Para Imam.”

Di dalam bab tersebut, Al-Kulaini menukil riwayat palsu yang menyatakan:

أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ لِلْإِمَامِ يَضَعُهَا حَيْثُ يَشَاءُ وَيَدْفَعُهَا إِلَى مَنْ يَشَاءُ

“Tidakkah engkau mengetahui bahwa dunia dan akhirat itu adalah milik Imam? Dia meletakkannya di mana saja yang dia kehendaki dan memberikannya kepada siapa saja yang dia kehendaki.” (Ushul al-Kafi, Juz 1, Hal. 409).

Mendoktrinkan bahwa manusia memiliki hak mutlak untuk mengatur dunia dan akhirat adalah bentuk nyata dari pergeseran Tauhid Rububiyyah, di mana hak prerogatif Allah diserahkan kepada makhluk.

2. Doktrin Sifat "Tafwidh" (Penyerahan Pengaturan Alam Semesta)

Salah satu penyimpangan paling radikal dalam sekte Syiah adalah munculnya keyakinan Tafwidh di kalangan ulama mereka. Tafwidh adalah keyakinan bahwa Allah SWT setelah menciptakan alam semesta, kemudian menyerahkan tugas mengatur alam, menurunkan hujan, menumbuhkan tanaman, hingga membagi rezeki kepada para Imam maksum mereka.

Bantahan Al-Qur'an: Allah SWT secara eksplisit menegaskan bahwa Dialah satu-satunya pengatur tunggal urusan makhluk dari langit hingga ke bumi:

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi...” (QS. As-Sajdah: 5).

Di dalam kitab-kitab Syiah seperti Biharul Anwar karya Al-Majlisi, para Imam digambarkan memiliki kontrol penuh atas hukum alam (Wilayah Takwiniah). Mereka diyakini mampu menghidupkan orang mati, menyembuhkan penyakit tanpa obat, dan mengetahui setiap butir pasir yang bergerak di lautan. Ketika makhluk diyakini memegang kendali atas hukum alam independen dari kehendak langsung penciptaan Allah, maka konsep Rububiyyah telah ternoda.

3. Klaim Mengetahui Perkara Ghaib Secara Mutlak

Pengetahuan tentang perkara ghaib (masa depan, takdir, hari kiamat, urusan hati manusia) adalah kekhususan yang hanya dimiliki oleh Allah SWT. Allah berfirman:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

“Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (QS. An-Naml: 65).

Rasulullah SAW sendiri tidak mengetahui perkara ghaib kecuali apa yang diwahyukan oleh Allah kepadanya untuk kepentingan dakwah. Namun, Syiah melangkah jauh melampaui batas ini dengan mengklaim bahwa para Imam mereka mengetahui seluruh ilmu ghaib, baik yang telah lalu maupun yang akan datang, secara mandiri dan mutlak.

Dalam Ushul al-Kafi, terdapat bab khusus yang berbunyi: “Bab: Bahwasanya para Imam 'alaihimus salam apabila mereka ingin mengetahui sesuatu, maka mereka pasti mengetahuinya,” serta bab, “Bahwasanya para Imam mengetahui ilmu yang telah lalu dan yang akan datang, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi mereka.”

Menyamakan kapasitas keilmuan makhluk secara mutlak dengan ilmu Allah yang tidak terbatas adalah penyimpangan fatal yang merusak kesucian tauhid.

4. Eksploitasi Istilah "Rububiyyah" untuk Figur Pemimpin

Penyimpangan ini semakin diperparah dengan keberanian para mufasir (ahli tafsir) Syiah dalam mendistorsi ayat-ayat Al-Qur'an demi mencocokkan teks suci dengan pengkultusan tokoh. Salah satu contoh yang paling ekstrem adalah penafsiran mereka terhadap Surah Az-Zumar ayat 69:

وَأَشْرَقَتِ الْأَرْضُ بِنُورِ رَبِّهَا

“Dan terang benderanglah bumi dengan cahaya Tuhannya...” (QS. Az-Zumar: 69).

Manipulasi Tafsir Syiah: Dalam kitab tafsir rujukan utama mereka, Tafsir al-Qummi dan Tafsir al-Ayyasyi, mereka menafsirkan kata Rabbiha (Tuhannya bumi) dalam ayat tersebut bukan merujuk kepada Allah SWT, melainkan merujuk kepada Imam Syiah. Mereka menyatakan bahwa makna ayat tersebut adalah: "Bumi akan terang benderang dengan cahaya Imamnya ketika ia muncul." Pemutarbalikan lafazh Tuhan menjadi figur manusia ini adalah bukti nyata bagaimana doktrin sektarian dapat membutakan akal sehat dari mengagungkan Allah SWT.

Kesimpulan: Bahaya Akidah Syiah terhadap Fondasi Iman

Penyimpangan kelompok Syiah dalam konsep Tauhid Rububiyyah bukanlah sekadar perbedaan pendapat dalam masalah cabang agama (furu'), melainkan erosi pada tingkat akar tunggang keimanan (ushul). Ketika seorang hamba meyakini bahwa ada makhluk yang memiliki bumi dan akhirat, mampu mengatur alam semesta, serta mengetahui seluruh perkara ghaib setara dengan Allah, maka esensi kalimat Laa Ilaha Illallah telah runtuh.

Bagi umat Islam di Indonesia, membentengi diri dan keluarga dengan pemahaman tauhid yang murni sesuai pemahaman generasi Sahabat dan Tabi'ut Tabi'in adalah harga mati. Kewaspadaan terhadap infiltrasi buku-buku spiritualitas palsu versi Syiah harus terus ditingkatkan demi menjaga kesucian tauhid masyarakat muslim Nusantara dari noda-noda pengkultusan makhluk.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: