Syiahindonesia.com – Sejarah adalah cermin masa lalu yang berfungsi sebagai kompas bagi generasi mendatang untuk memahami realitas keagamaan dan sosial. Dalam Islam, penulisan dan penyampaian fakta sejarah menuntut integritas moral yang luar biasa tinggi—sebagaimana ketatnya para ulama dalam menjaga autentisitas sanad hadits. Namun, di dalam tradisi penulisan teologi dan sejarah versi Syiah Itsna Asyariyyah (Imam Dua Belas), narasi sejarah tidak lagi diperlakukan secara objektif, melainkan dirombak secara radikal dan diselewengkan demi menyokong legitimasi doktrin mazhab mereka.
Demi mempertahankan pilar utama ajaran mereka, yaitu konsep kepemimpinan suci mutlak (Imamah), para teolog Syiah melakukan distorsi sejarah secara masif. Akibatnya, lahir rentetan fiksi sejarah yang sengaja dipelihara untuk mencuci otak para pengikutnya.
1. Rekayasa Mitos "Tragedi Pintu Rumah" Sayyidah Fatimah
Salah satu bentuk penyelewengan sejarah paling ekstrem yang dipelihara oleh Syiah untuk memantik emosi kebencian pengikutnya adalah mitos penyerangan rumah Sayyidah Fatimah Az-Zahra oleh Sayyidina Umar bin Khattab. Mereka mengklaim bahwa pasca-wafatnya Nabi, Umar mendatangi rumah Ali untuk memaksa baiat, lalu mendobrak pintu hingga menjepit tubuh Fatimah yang sedang hamil, mengakibatkan keguguran janinnya (yang mereka namakan Muhsin) hingga menyebabkan kematian putri Nabi tersebut.
Bantahan Fakta Sejarah yang Otentik:
Menghina Harga Diri Sayyidina Ali: Narasi fiktif ini secara tidak sadar merendahkan kehormatan Ali bin Abi Thalib. Ali dikenal sebagai singa Allah (Asadullah) yang pemberani. Sangat mustahil secara logika dan watak kesatria Arab jika Ali hanya berdiam diri di dalam rumah menyaksikan istrinya, putri Rasulullah, dianiaya di depan matanya sendiri.
Keharmonisan Hubungan Ali dan Umar: Hubungan riil di antara keduanya sangatlah erat dan harmonis. Sayyidina Ali memberikan salah seorang putri kandungnya dari Fatimah, yaitu Ummu Kultsum, untuk dinikahi oleh Sayyidina Umar bin Khattab. Jika Umar adalah pembunuh istri dan anaknya, mana mungkin Ali sudi menikahkan putri kesayangannya dengan pembunuh ibunya sendiri? Dongeng kelam ini sengaja diciptakan berabad-abad kemudian untuk merusak citra Khulafaur Rasyidin.
2. Memutarbalikkan Fakta Pelaku Pembunuhan Imam Husain di Karbala
Tragedi Karbala, di mana cucu tercinta Rasulullah SAW, Sayyidina Husain bin Ali, gugur secara syahid, adalah luka mendalam bagi seluruh umat Islam. Kelompok Syiah mengeksploitasi tragedi ini setiap tahun untuk menuding umat Islam Sunni sebagai ahli waris spiritual dari para pembunuh Husain.
Fakta Sejarah yang Disembunyikan Syiah: Jika kita membuka kitab-kitab sejarah primer, termasuk literatur internal Syiah klasik (seperti kitab Al-Irsyad karya Syaikh Al-Mufid atau perkataan Zainal Abidin bin Husain), terungkap fakta mencengangkan bahwa orang-orang yang mengkhianati dan membunuh Husain adalah para pengikut Syiah Kufah sendiri.
Penduduk Kufah (yang mengaku sebagai Syiah/pembela Ali) mengirimkan ribuan surat ke Madinah yang berjanji akan membaiat dan membela Husain jika beliau datang ke Irak. Namun, ketika pasukan dinasti merapat, kaum Syiah Kufah ini justru berbalik arah karena takut dan tergiur materi. Mereka membiarkan Husain terkepung dan gugur. Penyelewengan sejarah dilakukan oleh para pemuka Syiah modern untuk mencuci dosa sejarah nenek moyang mereka dengan cara melemparkan kesalahan kepada institusi Sahabat dan kaum Sunni.
3. Mengaburkan Silsilah Keteladanan Sahabat Anshar dan Muhajirin
Al-Qur'an secara eksplisit memuji integritas moral para Sahabat Nabi dari kalangan Muhajirin dan Anshar, bahkan menyatakan bahwa Allah telah rida kepada mereka (QS. At-Taubah: 100). Namun, sejarah emas peradaban Islam ini didekonstruksi secara total oleh Syiah.
Mereka menulis ulang sejarah masa awal Islam dengan narasi konspirasi tingkat tinggi. Menurut kronik sejarah Syiah, mayoritas Sahabat Nabi—termasuk figur mulia seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Khalid bin Walid, hingga Thalhah dan Zubair—digambarkan sebagai kelompok oportunis yang berpura-pura masuk Islam hanya demi mengincar kekuasaan pasca-wafatnya Nabi. Menghapus jasa-jasa para Sahabat dalam penaklukan dunia dan kodifikasi Al-Qur'an adalah penyelewengan sejarah terbesar yang bertujuan meruntuhkan fondasi transmisi ajaran Islam itu sendiri.
4. Pemalsuan Dokumen Sejarah Berupa "Kitab Sulaim bin Qais"
Untuk memperkuat argumen mereka, para ulama Syiah kerap bersandar pada sebuah kitab sejarah kuno yang dinamakan Kitab Sulaim bin Qais. Kitab ini diklaim sebagai buku sejarah dan hadits pertama dalam Islam yang mencatat seluruh konspirasi para Sahabat pasca-wafatnya Nabi.
Kepalsuan Akademik: Para kritikus naskah sejarah—bahkan sebagian ulama interal Syiah sendiri yang kritis seperti Al-Mufid—mengakui bahwa kitab ini adalah kitab palsu (fabrikasi) yang dibuat oleh seorang narator bernama Aban bin Abi Ayyasy. Kitab tersebut dipenuhi dengan kontradiksi kronologi waktu yang sangat fatal dan tidak sinkron dengan fakta geografis masa itu. Namun, demi konsumsi doktrin orang awam, kitab fiktif ini tetap diposisikan sebagai referensi sejarah yang suci.
Kesimpulan: Melawan Distorsi Sejarah dengan Fakta Otentik
Penyelewengan sejarah yang dilakukan oleh sekte Syiah bukanlah kekhilafan intelektual tanpa sengaja, melainkan sebuah strategi defensif untuk melestarikan teologi mazhabnya. Jika kebenaran sejarah dibuka secara jujur kepada para pengikutnya—bahwa para Sahabat hidup rukun, Ali menghormati Abu Bakar dan Umar, serta Syiah Kufah-lah yang mengkhianati Husain—maka seluruh dogma kebencian yang menjadi roda penggerak agama Syiah akan runtuh tak bersisa.
Bagi umat Islam di Indonesia, penting untuk membekali diri dengan literasi sejarah Islam yang valid (Tarikh al-Islami) yang ditulis oleh para sejarawan tepercaya seperti Ibnu Katsir, Al-Dzahabi, dan Ibnu Jarir At-Thabari. Mengetahui kebenaran sejarah adalah perisai kokoh untuk menjaga akal sehat dan benteng akidah dari jerat distorsi historis ala Syiah.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: