Syiahindonesia.com - Konsep syafaat—yakni pertolongan atau perantaraan yang diberikan kepada hamba Allah pada hari kiamat dengan izin-Nya—merupakan salah satu bagian dari akidah yang disepakati oleh kaum Muslimin. Di dalam manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah, syafaat adalah hak mutlak milik Allah SWT yang dianugerahkan kepada siapa saja yang Dia ridai, terutama Baginda Nabi Muhammad SAW sebagai pemilik Syafaatul Uzhma (syafaat terbesar).
Namun, di tangan para ideolog Syiah Rafidhah, konsep syafaat ini mengalami pergeseran makna yang sangat fatal. Mereka mengubah doktrin syafaat dari yang semula merupakan sarana pengampunan berbasis ketauhidan dan izin Allah, menjadi sebuah komoditas teologis otomatis yang berpusat pada kultus individu para Imam. Berikut adalah beberapa kesalahan fatal Syiah dalam memahami konsep syafaat.
1. Hak Syafaat Otomatis Lewat Jalur "Ketaatan Buta" kepada Imam
Dalam teologi Ahlussunnah, syarat utama seseorang berhak mendapatkan syafaat di akhirat adalah bertauhid (tidak menyekutukan Allah) dan mendapatkan izin serta rida dari Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:
"...Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya..." (QS. Al-Baqarah: 255).
Sebaliknya, dalam doktrin Syiah, konsep ini diputarbalikkan. Mereka menanamkan keyakinan bahwa jaminan syafaat terbesar dan kepastian masuk surga diraih secara otomatis hanya dengan mengikrarkan loyalitas mutlak (Wilayah) kepada 12 Imam mereka, meratapi kematian syahid Imam Husein di Karbala, atau sekadar melakukan ziarah ke makam-makam para Imam. Narasi penjaminan otomatis ini sangat mirip dengan konsep indulgensi (surat penebusan dosa) abad pertengahan, di mana ritual kelompok mengalahkan esensi amal saleh individu dan ketauhidan.
2. Meremehkan Maksiat dan Amal Saleh (Efek Pembiaran Dosa)
Dampak paling destruktif dari penyimpangan konsep syafaat versi Syiah adalah lahirnya sikap meremehkan dosa dan maksiat di kalangan pengikutnya. Melalui ceramah para mullah dan kitab-kitab mereka, sering didengungkan narasi ekstrem seperti: "Setetes air mata yang tumpah karena meratapi duka Imam Husein akan menghapus dosa-dosa sebesar buih di lautan, meskipun orang tersebut tidak menjaga salatnya."
Doktrin berbahaya ini secara tidak langsung meruntuhkan syariat Islam. Jika seseorang merasa bahwa dosa-dosa besarnya pasti akan disapu bersih lewat syafaat otomatis para Imam hanya karena ia menangis di hari Asyura, maka motivasi untuk bertobat, beramal saleh, dan takut akan ancaman siksa neraka menjadi hilang. Ini adalah tipu daya setan yang membungkus kelalaian beragama dengan baju "cinta Ahlul Bait."
3. Menggeser Hak Prerogatif Allah kepada Manusia (Syirik dalam Syafaat)
Kesalahan paling mendasar dan fatal dalam akidah Syiah terkait masalah ini adalah tindakan mereka yang memosisikan para Imam bukan lagi sekadar sebagai pemohon syafaat dengan izin Allah, melainkan sebagai pemilik dan pembagi syafaat itu sendiri secara mandiri.
Di dalam doa-doa dan ziarah versi Syiah (seperti Ziarah Jami'ah Kabirah), mereka kerap memanggil dan memohon syafaat langsung kepada kuburan atau ruh para Imam (Istighatsah kepada makhluk), bukan memohon kepada Allah agar mengizinkan Nabi atau Imam memberi syafaat. Praktik memohon pertolongan dalam urusan gaib dan akhirat langsung kepada makhluk—meskipun ia seorang Imam atau Wali—telah menabrak batas-batas tauhid uluhiyah dan jatuh ke dalam jurang sinkretisme serta syirik doa.
Perbandingan Konsep Syafaat: Sunni vs Syiah
Prinsip Tauhid dalam Syafaat: Ahlussunnah wal Jama'ah tidak pernah mengingkari adanya syafaat bagi para pelaku dosa besar dari umat Islam pada hari kiamat. Namun, Ahlussunnah menegaskan bahwa syafaat tidak akan berguna bagi orang yang merusak tauhidnya. Syafaat didapatkan dengan cara menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, bukan dengan menciptakan ritual pemujaan berlebih-lebihan kepada makhluk yang justru dimurkai oleh Allah SWT.
Kesimpulan
Penyimpangan kelompok Syiah dalam memahami konsep syafaat berakar dari penyakit ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap figur para Imam. Dengan menjanjikan syafaat otomatis lewat jalur ritual duka dan pengultusan, mereka telah mereduksi keagungan syariat dan melahirkan generasi yang meremehkan dosa. Menjaga kemurnian konsep syafaat sesuai bimbingan Al-Qur'an dan Sunnah adalah benteng utama umat Islam agar tidak tergelincir ke dalam jerat-jerat kesyirikan yang diproduksi oleh kaum Rafidhah.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: