Syiahindonesia.com – Di antara sekian banyak klaim yang dibangun oleh kelompok Syiah untuk memperkokoh narasi keagamaan mereka, isu mengenai Wasiat Rasulullah SAW menjelang wafat adalah salah satu yang paling krusial. Kelompok Syiah—khususnya sekte Dua Belas Imam (Itsna Asyariyyah)—secara masif mendoktrinkan bahwa Rasulullah SAW telah meninggalkan wasiat tertulis maupun lisan yang secara eksplisit menunjuk Ali bin Abi Thalib RA dan keturunannya sebagai pemegang tongkat komando kepemimpinan umat Islam (Khalifah).
Umat Islam yang berjalan di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah tentu menolak keras dongeng politik ini. Konsep kepemimpinan dalam Islam dibangun di atas fondasi kejujuran sejarah, musyawarah, dan ketakwaan, bukan di atas manipulasi teks ataupun hadis-hadis palsu. Jika kita menguliti klaim-klaim Syiah mengenai wasiat ini secara ilmiah dan objektif, maka akan tampak jelas titik-titik kebohongannya.
1. Pemutarbalikan Fakta "Tragedi Hari Kamis" (Hadis Al-Qirthas)
Salah satu dalil yang paling sering digoreng oleh para dai Syiah untuk membodohi kaum awam adalah peristiwa yang terjadi beberapa hari sebelum Nabi SAW wafat, yang dikenal dalam literatur sejarah sebagai Hadis Al-Qirthas (Hadis Kertas). Saat itu, Nabi yang sedang sakit keras bersabda, "Kemarilah, aku akan tuliskan untuk kalian sebuah kitab (wasiat) agar kalian tidak sesat setelahku." Namun, melihat kondisi Nabi yang sangat payah dan kepayahan, Umar bin Khattab RA dan para sahabat berpendapat agar Nabi tidak dibebani lebih lanjut, seraya berkata, "Cukuplah bagi kita Kitabullah (Al-Qur'an)."
Di mana letak kebohongan Syiah? Kelompok Syiah memelintir peristiwa ini dengan menuduh Umar bin Khattab telah melakukan "sabotase" dan menghalangi Nabi untuk menuliskan nama Ali RA sebagai Khalifah.
Fakta ilmiah yang meruntuhkan tuduhan ini adalah:
Nabi hidup beberapa hari setelah peristiwa itu: Jika menuliskan wasiat kepemimpinan itu adalah perintah syariat yang bersifat wahyu mutlak, Rasulullah SAW pasti akan tetap menulis atau mendiktenya pada hari Jumat, Sabtu, atau Ahad sebelum beliau wafat pada hari Senin. Fakta bahwa Nabi tidak menulisnya membuktikan bahwa hal itu adalah bentuk kasih sayang/pilihan (irsyad), bukan perintah wajib (amr) yang bersifat doktrinal.
Ali bin Abi Thalib berada di tempat: Saat peristiwa itu terjadi, Ali bin Abi Thalib ada di dalam kamar tersebut. Jika benar penulisan itu untuk haknya, mengapa Ali yang terkenal pemberani justru diam saja dan tidak mengambilkan kertas serta pena untuk Rasulullah? Sikap diamnya Ali adalah bukti nyata bahwa beliau sendiri tidak memahami bahwa kalimat Nabi itu merujuk pada urusan kekhalifahan dirinya.
2. Dongeng tentang "Kitab Wasiat" yang Dibawa Malaikat
Untuk menambal ketiadaan bukti otentik dalam Al-Qur'an dan Hadis sahih mengenai wasiat kepemimpinan Ali, ulama-ulama klasik Syiah menciptakan narasi-narasi mistis yang tidak masuk akal sehat.
Di dalam kitab induk mereka, Al-Kafi karya Al-Kulaini (Juz 1, hal. 280), tertulis sebuah bab khusus mengenai "Wasiat" yang diklaim diturunkan dari langit. Mereka mengklaim bahwa Malaikat Jibril membawa sebuah kitab yang distempel dengan stempel-stempel emas langsung dari Allah SWT untuk diberikan kepada Nabi Muhammad, yang kemudian diserahkan kepada Ali bin Abi Thalib. Di dalam kitab fiktif tersebut, diklaim berisi instruksi agar para sahabat tunduk kepada Ali.
Narasi khurafat semacam ini sengaja diciptakan untuk membius pengikutnya agar tidak lagi mengkritisi ketiadaan dalil tekstual (nash) yang nyata dalam Al-Qur'an terkait kekhalifahan Ali.
3. Kontradiksi: Wasiat Nabi Justru Meminta Abu Bakar Menjadi Imam
Bukan hanya tidak ada wasiat untuk Ali, Rasulullah SAW menjelang wafatnya justru meninggalkan wasiat dan isyarat yang sangat benderang yang mengarah kepada keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq RA.
Ketika Rasulullah SAW sudah tidak mampu lagi bangkit untuk pergi ke masjid karena sakitnya yang kian menghimpit, beliau memberikan wasiat lisan yang sangat tegas:
مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ
“Perintahkan Abu Bakar agar dia memimpin shalat bagi manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Bahkan ketika Sayyidah Aisyah sempat mengusulkan agar Umar saja yang maju karena Abu Bakar adalah orang yang berhati lembut dan mudah menangis, Nabi SAW tetap mengulanginya sampai tiga kali dan bersabda, "Allah dan kaum mukminin menolak (orang lain) kecuali Abu Bakar."
Shalat adalah urusan agama yang paling tinggi derajatnya. Perintah Rasulullah agar Abu Bakar menggantikan posisinya sebagai Imam shalat adalah wasiat praktis yang dipahami oleh seluruh sahabat—termasuk Ali bin Abi Thalib—bahwa Abu Bakar-lah yang paling layak memimpin urusan dunia dan politik umat setelah beliau wafat.
4. Pengakuan Jujur dari Mulut Ali bin Abi Thalib Sendiri
Kebohongan Syiah tentang adanya wasiat rahasia untuk Ali paling telak diruntuhkan oleh pernyataan-pernyataan Ali bin Abi Thalib sendiri yang direkam dalam kitab-kitab sejarah yang valid.
Dalam sebuah riwayat yang sahih dalam Shahih Bukhari, ketika Nabi SAW sedang sakit keras, Ali bin Abi Thalib keluar dari rumah Nabi. Orang-orang bertanya, "Wahai Abbas (paman Nabi), bagaimana kondisi Rasulullah?" Abbas menjawab, "Demi Allah, aku melihat tanda kematian di wajahnya. Mari kita menghadap Nabi dan bertanya, siapakah yang memegang urusan kepemimpinan ini setelah beliau? Jika hak itu ada pada kita (Ahlul Bait), kita akan mengetahuinya. Jika ada pada orang lain, kita meminta Nabi memberi wasiat agar orang itu berbuat baik kepada kita."
Apa jawaban Ali bin Abi Thalib? Ali menolak keras dan berkata:
وَاللَّهِ لَئِنْ سَأَلْنَاهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَنَعَنَاهَا لَا يُعْطِينَا النَّاسُ بَعْدَهُ أَبَدًا، وَإِنِّي وَاللَّهِ لَا أَسْأَلُهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Demi Allah, jika kita memintanya kepada Rasulullah SAW lalu beliau menolaknya, maka manusia tidak akan pernah memberikannya kepada kita selamanya. Dan demi Allah, aku tidak akan menanyakannya kepada Rasulullah SAW.” (HR. Bukhari).
Riwayat ini adalah bom waktu bagi teologi Syiah. Jika benar sudah ada "wasiat ilahi" atau pengumuman massal di Ghadir Khum sebelumnya bahwa Ali adalah khalifah, untuk apa Abbas dan Ali masih bingung dan ragu tentang siapa yang akan memegang kepemimpinan setelah Nabi wafat? Dialog ini membuktikan secara mutlak bahwa tidak pernah ada wasiat khusus dari Nabi terkait penunjukan Ali sebagai khalifah pertama.
Kesimpulan
Slogan dan narasi yang dibangun oleh kelompok Syiah mengenai adanya wasiat Rasulullah SAW yang dikhianati oleh para Sahabat adalah murni kebohongan historis. Ali bin Abi Thalib RA adalah sosok teladan yang agung, jujur, dan berjiwa besar. Tuduhan Syiah bahwa Ali menyembunyikan wasiat atau haknya dirampas justru merupakan penghinaan terselubung terhadap keberanian dan integritas sang Asadullah (Singa Allah) tersebut. Estafet kepemimpinan dari Abu Bakar, Umar, Utsman, hingga Ali berjalan di atas jalur musyawarah yang berkah, demi menjaga persatuan umat dan kejayaan Islam.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: