Syiahindonesia.com - Dalam diskursus perbandingan pemikiran, setiap kelompok atau sekte keagamaan umumnya memiliki klaim kebenaran (truth claim) masing-masing. Namun, dalam teologi Syi'ah Imamiyyah Atsna 'Asyariyyah (Dua Belas Imam), klaim sebagai satu-satunya kelompok yang selamat dan benar bukan sekadar keyakinan sekunder, melainkan doktrin mutlak yang mengunci mati ruang dialog teologis.
Bagi ideologi Syiah, kebenaran tidak dinilai dari sejauh mana seseorang mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah secara tekstual, melainkan dari ketundukan mutlak pada satu institusi metafisik: Imamah. Fondasi eksklusivitas inilah yang membuat mereka memandang seluruh umat di luar kelompoknya berada dalam kesesatan.
Berikut adalah akar doktrin mengapa kelompok Syiah mengeklaim diri sebagai satu-satunya pemilik kebenaran mutlak:
1. Doktrin Ismah: Kesucian Para Imam yang Setara Nabi
Ahlussunnah wal Jama'ah meyakini bahwa manusia yang maksum (suci dari dosa dan kesalahan) hanyalah para Nabi dan Rasul dalam hal penyampaian wahyu. Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, tidak ada lagi manusia yang perkataan atau keputusannya bersifat sakral dan bebas dari salah.
Sebaliknya, Syiah membangun teologi mereka di atas doktrin Ismah bagi 12 Imam mereka. Mereka meyakini:
Para imam memiliki tingkat kesucian, maksum, dan penerimaan ilham yang setara—bahkan dalam beberapa literatur ekstrem diklaim melebihi—para Nabi terdahulu.
Segala sabda, fatwa, dan tindakan para imam diposisikan sebagai sumber syariat yang sejajar dengan Al-Qur'an.
Karena menganggap para pemimpin mereka sebagai "perpanjangan tangan Tuhan" yang tidak mungkin salah, maka secara otomatis institusi keagamaan Syiah merasa memegang monopoli kebenaran ilahi. Siapa pun yang menyelisihinya dianggap menyelisih kehendak langit.
2. Eksklusivitas Wilayah sebagai Syarat Sah Iman
Bagi umat Islam secara umum, keselamatan di akhirat bersandar pada rukun iman dan rukun Islam yang diamalkan secara ikhlas karena Allah. Namun, Syiah merombak total batasan ini dengan memasukkan konsep Wilayah (loyalitas dan kepemimpinan politik-spiritual kepada para Imam) sebagai tiang agama yang paling utama.
Dalam kitab rujukan induk mereka, Al-Kafi karya Al-Kulaini, terdapat riwayat yang menegaskan bahwa Islam dibangun di atas lima perkara: salat, zakat, puasa, haji, dan wilayah. Dan ditekankan bahwa "tidak ada seruan yang lebih kuat ketimbang seruan terhadap wilayah."
Implikasi dari doktrin eksklusif ini sangat ekstrem:
Orang yang beribadah seumur hidup di depan Ka'bah namun tidak berbaiat kepada 12 Imam Syiah, maka seluruh amalnya dinilai batal, tidak sah, dan berstatus kafir/sesat di akhirat.
Cara pandang ini secara otomatis mendepak miliaran umat Islam di luar Syiah dari garis keselamatan agama, menjadikan sekte Syiah sebagai satu-satunya "kelompok yang selamat" (al-firqah an-najiyah) dalam versi mereka sendiri.
3. Klaim sebagai Pewaris Sah Ruang Lingkup Kebatinan Islam
Syiah menganggap diri mereka sebagai satu-satunya kelompok yang memahami esensi terdalam (bathin) dari agama Islam, sementara kaum muslimin di luar mereka (Ahlussunnah) dianggap hanya menyentuh kulit luarnya saja (zhahir).
Melalui klaim sepihak ini, mereka merasa berhak untuk merombak atau mengabaikan makna-makna tekstual Al-Qur'an dan beralih pada takwil-takwil liar yang diproduksi oleh para mullah. Klaim superioritas spiritual inilah yang memelihara rasa percaya diri sosiologis di kalangan pengikut Syiah, meskipun doktrin-doktrin mereka secara nyata menabrak logika sejarah dan kaidah bahasa Arab.
4. Narasi Kedzaliman Sejarah sebagai Pengikat Emosional
Sentimen sebagai "satu-satunya yang benar" juga dirawat secara psikologis melalui narasi mizantropi (merasa dizalimi secara historis). Kelompok Syiah memosisikan diri mereka sebagai sisa-sisa pengikut kebenaran yang tertindas oleh mayoritas umat Islam sejak zaman pasca-wafatnya Rasulullah SAW.
Ritual-ritual tahunan yang penuh ratapan (seperti peringatan Asyura) berfungsi untuk merekatkan identitas kelompok dan menanamkan doktrin ke dalam benak pengikutnya bahwa dunia di luar Syiah adalah dunia yang dipenuhi musuh-musuh Ahlul Bait. Pola pikir defensif-radikal ini menutup rapat celah otokritik di internal mereka, sehingga klaim kebenaran sepihak terus direproduksi dari generasi ke generasi.
Kesimpulan
Klaim kelompok Syiah bahwa mereka adalah satu-satunya pemilik kebenaran tunggal berakar dari pengultusan manusia lewat doktrin Ismah dan penambahan rukun iman berupa Wilayah. Ini bukan sekadar perbedaan interpretasi hukum (fikih), melainkan sebuah pembangkangan teologis yang memisahkan diri secara sadar dari tubuh besar umat Islam (Sawaadul A'dzam).
Sebagai benteng akidah di Indonesia, pemahaman terhadap motif eksklusivitas Syiah ini penting agar umat Islam tidak terkecoh oleh retorika-retorika persatuan palsu yang kerap mereka dengungkan di ruang publik demi menyembunyikan doktrin pengafiran massal yang ada di dalam kitab-kitab suci mereka.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: