Breaking News
Loading...

Kesalahan Besar Syiah dalam Mengartikan Loyalitas kepada Imam

Syiahindonesia.com - Di dalam syariat Islam, loyalitas (Al-Wala') merupakan konsep yang sangat agung. Konsep ini mengatur bagaimana seorang hamba menambatkan kecintaan, pembelaan, dan kepatuhannya yang tertinggi hanya kepada Allah SWT, Rasul-Nya, dan sesama kaum mukminin. Loyalitas dalam Islam berfungsi sebagai perekat ukhuwah dan pemurni akidah.

Namun, di dalam teologi Syiah Itsna Asyariyyah (Imam Dua Belas), konsep loyalitas ini mengalami distorsi yang sangat radikal melalui doktrin Wilayah atau loyalitas mutlak kepada para Imam. Mereka mengubah makna loyalitas yang seharusnya berorientasi pada ketundukan syariat, menjadi sebuah dogma pengkultusan individu yang menabrak batasan-batasan tauhid.

Berikut adalah beberapa kesalahan besar sekte Syiah dalam mengartikan konsep loyalitas kepada para Imam mereka:

1. Menyejajarkan Ketaatan Imam dengan Ketaatan kepada Rasul

Kesalahan paling mendasar dari konsep loyalitas Syiah adalah kewajiban untuk taat secara mutlak kepada para Imam dalam segala hal, tanpa celah sedikit pun untuk menguji ucapan sang Imam dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Mereka meyakini bahwa para Imam memiliki sifat Ma'sum (suci dari dosa, lupa, dan salah).

Konsekuensi Teologis yang Menyimpang: Dalam Islam, ketaatan mutlak tanpa syarat hanya milik Allah dan Rasul-Nya, karena apa yang diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah wahyu. Menetapkan bahwa ada manusia lain pasca-wafatnya Nabi yang wajib ditaati secara mutlak dalam setiap titahnya—bahkan menganggap ucapan Imam setara dengan ayat Al-Qur'an—secara tidak langsung telah menyejajarkan posisi Imam dengan posisi Nabi. Ini adalah bentuk kelancangan teologis yang merusak konsep finalitas kenabian (Khataman Nabiyyin).

2. Loyalitas yang Dibangun di Atas Fondasi Kebenaran Sebelah Pihak (Bara'ah)

Dalam teologi Syiah, loyalitas (Wala') kepada Ahlul Bait dinilai tidak sah dan tidak akan diterima oleh Allah jika tidak dibarengi dengan Bara'ah (berlepas diri/membenci). Yang mereka maksud dengan Bara'ah di sini bukan membenci kemaksiatan atau kekafiran, melainkan kewajiban untuk membenci, mencaci, dan mengafirkan mayoritas Sahabat Nabi, terutama Sayyidina Abu Bakar, Umar, dan Utsman.

Sisi Penyimpangannya: Mereka mengurung pengikutnya dalam definisi loyalitas yang sempit dan destruktif. Seseorang dipaksa untuk membenci generasi terbaik Islam demi membuktikan "rasa cintanya" kepada para Imam. Ini adalah kesalahan logika dan moral yang sangat fatal. Cinta yang tulus kepada keluarga Nabi seharusnya melahirkan kedamaian dan keteladanan akhlak, bukan menjadi mesin pemroduksi kutukan dan mata rantai kebencian yang tak berujung terhadap manusia-manusia yang telah diridai oleh Allah SWT di dalam Al-Qur'an.

3. Menjadikan Loyalitas sebagai Penentu Status Keislaman

Bagi umat Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah, parameter keislaman seseorang diukur dari syahadat, penegakan salat, dan rukun Islam yang telah maklum. Selama seseorang tidak melakukan pembatalan keislaman yang qath'i, maka ia adalah seorang Muslim yang memiliki hak untuk dicintai dan dibela (Al-Wala').

Sekte Syiah membalik aturan ini secara ekstrem. Mereka menjadikan loyalitas dan pengakuan terhadap 12 Imam sebagai pilar penentu sah atau tidaknya keislaman seseorang di akhirat kelak. Di dalam kitab-kitab induk mereka, secara eksplisit dinyatakan bahwa sebaik apa pun amal ibadah, salat, dan puasa seorang Muslim Sunni, seluruh amalnya akan hangus dan ia tetap dihukumi kafir atau kekal di neraka jika tidak memiliki kartu loyalitas (wilayah) kepada para Imam Syiah. Dogma ini mereduksi keluasan rahmat Allah dan mengubah agama Islam menjadi sekte eksklusif yang sempit.

4. Melahirkan Doktrin Wilayah Takwiniyyah (Kendali Gaib atas Alam Semesta)

Efek domino dari kebablasannya konsep loyalitas ini memuncak pada lahirnya doktrin Wilayah Takwiniyyah. Sebagian ulama besar Syiah klasik hingga modern meyakini bahwa sebagai bentuk loyalitas Allah kepada para Imam, Allah mendelegasikan otoritas pengaturan alam semesta kepada mereka. Mereka mengklaim para Imam mampu mengatur atom-atom dunia, menurunkan hujan, hingga mengetahui kapan mereka akan mati atas kehendak mereka sendiri.

Ini adalah titik di mana konsep loyalitas telah bergeser sepenuhnya menjadi kemusyrikan yang nyata. Sifat-sifat Rububiyah (pengaturan alam) yang merupakan hak prerogatif Allah SWT secara mutlak, dipindahkan begitu saja kepada figur manusia dengan bungkus "loyalitas kepada Ahlul Bait".

Kesimpulan: Loyalitas yang Lurus Hanya di Bawah Naungan Tauhid

Kesalahan besar kelompok Syiah dalam menerjemahkan konsep loyalitas kepada para Imam membuktikan bahwa sekte ini telah melangkah terlalu jauh dalam mengkultuskan makhluk. Mereka mengorbankan kemurnian tauhid dan persatuan umat hanya demi menegakkan pilar kepemimpinan imajinatif yang sarat dengan muatan politis masa lalu.

Bagi kita umat Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah di Indonesia, loyalitas tertinggi kita berikan kepada Allah, Rasul-Nya, dan seluruh kaum mukminin tanpa terkecuali. Kita mencintai dan loyal kepada Sayyidina Ali dan seluruh Ahlul Bait, namun loyalitas tersebut kita bingkai dalam koridor syariat: memuliakan mereka tanpa mengkultuskannya, dan mencintai mereka tanpa harus menaruh dendam kepada para Sahabat Nabi yang mulia.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: