Breaking News
Loading...

Benarkah Syiah Mengajarkan Kebencian terhadap Islam?

Syiahindonesia.com - Di era keterbukaan informasi seperti saat ini, upaya untuk menyaring pemikiran dan ideologi asing yang masuk ke Indonesia menjadi hal yang sangat krusial. Salah satu paham transnasional yang terus berusaha menanamkan pengaruhnya di tanah air adalah teologi Syiah Rafidhah. Di ruang publik, mereka sering kali mengampanyekan slogan persatuan umat Islam (Wahdah Islamiyah) dan toleransi antar-mazhab. Namun, jika kita menelusuri doktrin-doktrin mendasar yang tertulis dalam kitab-kitab rujukan utama (kitab mu'tabar) mereka, muncul sebuah kesimpulan yang sangat ironis dan menggetarkan: teologi Syiah pada hakikatnya mengajarkan kebencian yang mendalam terhadap pilar-pilar utama yang membentuk peradaban Islam itu sendiri.

Menyatakan bahwa Syiah mengajarkan kebencian terhadap Islam bukanlah sebuah tuduhan emosional yang tak berdasar, melainkan sebuah kesimpulan ilmiah. Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW tidak bisa dipisahkan dari Al-Qur'an al-Karim, keteladanan para Sahabat yang menyebarkannya, serta kemurnian syariat yang dijaga dari generasi ke generasi. Ketika sebuah sekte secara sistematis meruntuhkan otoritas tiga pilar tersebut, maka pada hakikatnya mereka sedang memusuhi esensi dari ajaran Islam itu sendiri.

1. Kebenaran Doktrin Takfiri Terhadap Mayoritas Sahabat Nabi

Islam tidak sampai ke generasi kita di Indonesia secara langsung dari langit, melainkan melalui perantara perawi yang jujur dan setia, yaitu para Sahabat Rasulullah SAW. Mereka adalah manusia-manusia pilihan yang mengorbankan harta, jiwa, dan raga demi tegaknya kalimat Allah di muka bumi.

Namun, di dalam kitab-kitab induk hadis dan riwayat Syiah (seperti Kitab Rijal al-Kassyi dan Al-Kafi), terdapat sebuah doktrin mengerikan yang mewajibkan pengikutnya untuk meyakini bahwa mayoritas Sahabat Nabi telah murtad, kafir, dan berkhianat sepeninggal Rasulullah SAW. Salah satu riwayat yang sangat masyhur dalam literatur mereka mengeklaim:

كَانَالنَّاسُأَهْلَرِدَّةٍبَعْدَالنَّبِيِّصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَآلِهِإِلَّاثَلَاثَةً

“Manusia (para Sahabat) seluruhnya menjadi ahli murtad setelah wafatnya Nabi SAW, kecuali tiga orang saja.” (Rijal al-Kassyi, Hal. 6).

Tiga orang yang mereka kecualikan hanyalah Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi. Tokoh-tokoh agung penyangga kejayaan Islam seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, serta ribuan pejuang Perang Badar dan Uhud lainnya divonis kafir oleh teologi Syiah.

Logika sederhana kita akan bertanya: Jika para penghulu, pejuang, dan penyebar agama Islam ini dianggap murtad dan jahat, maka secara tidak langsung Syiah sedang menuduh bahwa agama Islam disebarkan oleh sekelompok orang kafir. Ini adalah bentuk penodaan terselubung terhadap kredibilitas agama Islam di mata dunia.

2. Infiltrasi Kebencian terhadap Istri Tercinta Nabi, Ummul Mukminin

Salah satu tanda kesempurnaan iman seorang Muslim adalah mencintai keluarga Nabi Muhammad SAW (Ahlul Bait), termasuk di dalamnya adalah para istri beliau yang diridai Allah dan digelari sebagai Ibu bagi Orang-orang Beriman (Ummul Mukminin). Di antara para istri Nabi, Sayyidah Aisyah binti Abu Bakar RA menduduki posisi yang sangat mulia sebagai salah satu wanita tercerdas yang meriwayatkan ribuan hadis hukum Islam.

Dalam teologi Syiah Rafidhah, Sayyidah Aisyah justru diposisikan sebagai target utama caci maki, fitnah, dan ritual melaknat (Tabarra'). Melalui kitab-kitab tafsir mereka (seperti Tafsir al-Qumi), para mullah Syiah secara keji mencoba menghidupkan kembali fitnah perselingkuhan (Haditsul Ifki) yang secara tegas telah dibersihkan oleh Allah SWT melalui penurunan wahyu belasan ayat dalam Surah An-Nur.

Menuduh istri Rasulullah SAW melakukan perbuatan nista bukan hanya bentuk pelecehan terhadap martabat sang nabi, melainkan juga pendustaan nyata terhadap firman Allah SWT:

إِنَّالَّذِينَجَاءُوابِالْإِفْكِعُصْبَةٌمِنْكُمْۚلَاتَحْسَبُوهُشَرًّالَكُمْۖبَلْهُوَخَيْرٌلَكُمْ

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu...” (QS. An-Nur: 11).

Ketika sebuah sekte menjadikan aktivitas menghina istri orang suci pilihan Tuhan sebagai bagian dari ritual ibadah untuk mendekatkan diri kepada para Imam mereka, maka terlihat jelas bahwa ajaran tersebut tidak didasarkan pada cinta, melainkan pada kebencian sistematis terhadap figur-figur mulia Islam.

3. Penolakan Total Terhadap Khazanah Hadis dan Hukum Islam

Pilar kedua dalam syariat Islam setelah Al-Qur'an adalah Sunnah atau Hadis Nabi SAW. Umat Islam di seluruh dunia, termasuk kaum Muslimin di Indonesia, telah sepakat (ijma') bahwa kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim adalah kitab tersahih di bawah kolong langit setelah Al-Qur'an.

Syiah secara total menolak dan mengharamkan penggunaan kitab-kitab hadis Ahlussunnah. Alasan mereka sederhana namun destruktif: karena hadis-hadis tersebut diriwayatkan melalui jalur para Sahabat yang mereka kafirkan. Dengan menolak seluruh khazanah hadis Sunni, Syiah secara otomatis telah membuang mayoritas warisan hukum Islam, mulai dari tata cara salat, zakat, puasa, hingga pernikahan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Sebagai gantinya, mereka memproduksi narasi-narasi hukum baru yang bersumber dari kitab mereka sendiri (seperti Al-Kafi), di mana ucapan para Imam mereka diposisikan setara dengan firman Allah. Akibatnya, lahirlah fiqih-fiqih aneh yang menyelisihi syariat Islam yang murni, seperti penghalalan Nikah Mut'ah (nikah kontrak) yang sejatinya identik dengan legalisasi perzinaan, serta pengubahan lafaz azan dan tata cara wudu yang baku.

Perbandingan Paradigma Teologi: Islam vs Syiah

Untuk membentengi pemahaman umat secara scannable dan jelas, berikut adalah tabel kontras antara prinsip dasar Islam (Ahlussunnah) dengan ajaran kebencian sektarian Syiah:

Unsur Fondasi IslamPandangan Islam yang Murni (Ahlussunnah)Doktrin Teologi Syiah Rafidhah
Status Para SahabatManusia pilihan, adil ('Udul), wajib dicintai dan dihormati.Mayoritas murtad dan berkhianat; wajib dilaknat secara rutin.
Kehormatan Istri NabiSuci, mulia, dan berstatus sebagai Ummul Mukminin.Dituduh berkhianat dan menjadi simbol kejahatan sejarah.
Otoritas Kitab HadisMenjadikan Bukhari, Muslim, dll. sebagai rujukan hukum tertinggi.Menolak total kitab Sunni; menganggapnya sebagai kumpulan kebohongan.
Vonis terhadap UmatSetiap orang yang bersyahadat dan menghadap kiblat adalah Muslim.Mengafirkan kaum Sunni (al-Ammah) karena tidak mengimani 12 Imam.

Strategi Infiltrasi dan Bahayanya Bagi NKRI

Di Indonesia, paham Syiah tidak akan pernah menyebarkan ajaran kebencian ini secara terang-terangan di hadapan publik pada tahap awal. Mereka menggunakan doktrin Taqiyyah (legalisasi berbohong demi menyembunyikan identitas asli). Mereka akan mendekati masyarakat melalui pendekatan budaya, pemberian beasiswa pendidikan ke Iran, penyusupan ke lembaga-lembaga akademis, hingga pendirian yayasan-yayasan kemanusiaan berkedok cinta Ahlul Bait.

Namun, ketika seorang Muslim awam sudah terjerat ke dalam lingkaran inti ajaran ini, ia akan dididik secara perlahan untuk mulai meragukan otentisitas Al-Qur'an, membenci para Sahabat, dan memisahkan diri dari jamaah kaum Muslimin. Bahaya terbesar dari ajaran ini bukan hanya merusak akidah, melainkan juga potensi disintegrasi bangsa. Jika sebuah kelompok diajarkan untuk menaruh dendam ideologis terhadap mayoritas penduduk Muslim di sekitarnya, maka benih-benih konflik sektarian seperti yang terjadi di Timur Tengah (Suriah, Irak, dan Yaman) akan dengan mudah tersulut di bumi Nusantara.

Kesimpulan

Berdasarkan fakta-fakta ilmiah di atas, jawaban atas pertanyaan apakah Syiah mengajarkan kebencian terhadap Islam adalah sebuah keprihatinan yang nyata. Dengan mengafirkan para Sahabat penyebar wahyu, menodai kesucian para istri Nabi, serta membuang khazanah hadis shahih Islam, Syiah pada hakikatnya sedang merobek-robek tubuh Islam dari dalam. Sebagai umat Islam yang mencintai kemurnian agama dan menjaga kedamaian di Indonesia, kita wajib membentengi keluarga dan lingkungan kita dari syubhat kaum Rafidhah ini. Persatuan yang sejati hanya akan tegak di atas kejujuran akidah, bukan di atas kepura-puraan Taqiyyah yang memelihara bara dendam sejarah.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: