Syiahindonesia.com - Al-Qur'anul Karim adalah mukjizat terbesar Rasulullah ﷺ yang dijaga langsung otentisitasnya oleh Allah SWT dari segala bentuk perubahan, penambahan, maupun pengurangan hingga akhir zaman. Bagi umat Islam yang berjalan di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, keyakinan terhadap kesucian dan kesempurnaan mushaf Al-Qur'an yang ada di tangan kaum Muslimin hari ini (Mushaf Utsmani) adalah pilar akidah yang mutlak. Barangsiapa yang meyakini adanya perubahan atau pengurangan dalam Al-Qur'an, maka ia telah jatuh ke dalam kekufuran yang nyata.
Namun, di tengah perbincangan mengenai sekte Syiah, salah satu pertanyaan krusial yang sering muncul adalah: "Benarkah orang Syiah memiliki Al-Qur'an tersendiri yang berbeda dengan milik umat Islam?"
Secara fisik dan praktis di lapangan saat ini, jika Anda berkunjung ke rumah-rumah atau masjid-masjid Syiah di Iran, Irak, maupun di Indonesia, Anda akan menemukan bahwa mushaf yang mereka baca dan cetak memiliki teks yang persis sama dengan Mushaf Utsmani milik kaum Muslimin Sunni. Tidak ada satu huruf pun yang berbeda dalam mushaf cetakan modern tersebut. Namun, masalah mendasar yang menjadi sorotan tajam para ulama Sunnah tidak terletak pada mushaf cetakan lahiriahnya, melainkan pada doktrin teologis purba yang tercatat dalam kitab-kitab rujukan utama akidah Syiah mengenai Tahrif al-Qur'an (perubahan Al-Qur'an).
1. Doktrin Tahrif al-Qur'an dalam Kitab-Kitab Klasik Syiah
Meskipun secara resmi tokoh-tokoh Syiah kontemporer menyatakan bahwa Al-Qur'an mereka sama dengan Sunni, literatur primer dan klasik yang menjadi fondasi teologi Syiah justru dipenuhi oleh riwayat-riwayat yang menyatakan bahwa Al-Qur'an telah mengalami pengurangan dan distorsi oleh para sahabat Nabi setelah Rasulullah ﷺ wafat.
Ulama-ulama besar pilar mazhab Syiah terdahulu secara terang-terangan menegaskan doktrin ini:
Al-Kulaini (Wafat 329 H): Dalam kitab Al-Kafi (kitab hadis paling suci dan otoritatif di dunia Syiah), ia memuat bab khusus yang berisi riwayat-riwayat bahwa Al-Qur'an yang diturunkan kepada Jibril berjumlah 17.000 ayat (tiga kali lipat lebih banyak dari Al-Qur'an yang ada sekarang yang berjumlah sekitar 6.236 ayat).
Al-Majlisi (Wafat 1111 H): Dalam kitabnya Mir'at al-Uqul, ia menegaskan bahwa riwayat-riwayat mengenai mutawatir-nya pengurangan dan perubahan Al-Qur'an dalam teologi Syiah tidak bisa dibantah, dan menolaknya berarti meruntuhkan seluruh riwayat tentang keimaman.
An-Nuri Ath-Thabarsi (Wafat 1320 H): Seorang ulama besar Syiah yang menulis kitab khusus berjudul Fashl al-Khithab fi Itsbat Tahrif Kitab Rabb al-Arbab (Keputusan Tegas dalam Membuktikan Perubahan Kitab Tuhan). Kitab ini secara khusus mengumpulkan ribuan dalil internal Syiah untuk membuktikan bahwa Al-Qur'an telah diubah oleh para sahabat.
2. Mitos "Mushaf Fatimah" dan "Al-Qur'an Ali"
Dalam eskatologi dan keyakinan Syiah, mereka memercayai keberadaan beberapa naskah suci tersembunyi yang kedudukannya sangat sakral, di antaranya:
Mushaf Ali
Syiah mengeklaim bahwa setelah Rasulullah ﷺ wafat, Ali bin Abi Thalib r.a. mengumpulkan Al-Qur'an yang asli secara kronologis beserta tafsir nuzul-nya yang eksplisit menyebutkan nama-nama 12 Imam Syiah dan celaan terhadap musuh-musuh mereka. Ketika Ali menyodorkannya kepada para sahabat, para sahabat menolaknya. Syiah meyakini naskah "asli" ini kemudian dibawa kabur dan disembunyikan, yang kelak hanya akan dibawa keluar oleh Imam Mahdi versi mereka (Al-Qaim) di akhir zaman.
Mushaf Fatimah
Doktrin Syiah menyebutkan bahwa setelah Nabi ﷺ wafat, malaikat Jibril turun kepada Fatimah r.a. untuk menghiburnya dan mendiktekan sebuah kitab yang tebalnya tiga kali lipat dari Al-Qur'an kita. Meskipun ulama Syiah hari ini berkilah bahwa Mushaf Fatimah bukanlah Al-Qur'an melainkan kitab berisi ramalan masa depan, keberadaan teks "wahyu sampingan" ini tetap merusak konsep bahwa wahyu syariat telah terputus dan sempurna setelah wafatnya Rasulullah ﷺ.
3. Metode Tafsir Bathiniyyah yang Merusak Makna Teks
Jika secara fisik teks Al-Qur'an yang mereka pegang saat ini sama, di manakah letak perbedaannya secara aplikatif? Perbedaan fundamentalnya terletak pada Metode Penafsiran (Takwil).
Syiah menggunakan metode tafsir bathin (simbolik ekstrem) untuk memaksakan doktrin politik mereka ke dalam ayat-ayat Al-Qur'an. Hampir setiap kata bermakna positif di dalam Al-Qur'an ditafsirkan sebagai Ali bin Abi Thalib atau para Imam, sedangkan kata-kata bermakna negatif ditafsirkan sebagai para sahabat Nabi (seperti Abu Bakar, Umar, atau Utsman).
Sebagai contoh, dalam Surat Al-Baqarah ayat 67 ketika Allah memerintahkan Bani Israil untuk menyembelih seekor sapi betina (baqarah), ulama-ulama Syiah dalam kitab tafsir mereka (seperti Tafsir Al-Ayyasyi) menakwilkan bahwa "sapi betina" yang dimaksud di situ adalah Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha. Distorsi makna secara keji inilah yang pada hakikatnya membuat mereka memiliki "pemahaman Al-Qur'an" yang sepenuhnya berbeda dan menyimpang dari Islam.
4. Retorika Taqiyyah Ulama Syiah Modern
Umat Islam harus memahami mengapa ulama Syiah kontemporer (seperti Ayatullah Khomeini atau Ali Khamenei) di era modern ini mati-matian menolak tuduhan bahwa mereka memiliki Al-Qur'an yang berbeda. Hal ini didasari oleh dua alasan strategis:
Strategi Defensif (Taqiyyah): Jika Syiah secara terbuka mengakui bahwa mereka memercayai Al-Qur'an hari ini telah dipalsukan, maka dunia Islam secara mutlak akan langsung mengeluarkan mereka dari lingkaran Islam (mengafirkan mereka secara mufakat). Oleh karena itu, demi keselamatan politik dan teologis, mereka memakai doktrin Taqiyyah untuk menampilkan wajah bahwa Al-Qur'an mereka sama.
Menunggu Imam Mahdi: Secara akidah, mereka meyakini bahwa Al-Qur'an yang sempurna dan asli saat ini sedang disimpan oleh Imam Zaman (Imam ke-12) di dalam gua persembunyian (ghaibah). Jadi, membaca Al-Qur'an yang ada sekarang hanyalah status "darurat" sampai Imam mereka keluar membawa Al-Qur'an yang asli.
5. Panduan Sikap bagi Umat Islam Sunni di Indonesia
Menghadapi propaganda Syiah di Indonesia yang sering mengeklaim diri mereka tidak berbeda dalam urusan Al-Qur'an, umat Islam wajib membentengi diri dengan peta fakta berikut:
Kesimpulan
Menjawab pertanyaan "Benarkah Syiah memiliki Al-Qur'an yang berbeda?", jawabannya harus dipilah secara ilmiah: Secara fisik teks yang beredar saat ini, tidak berbeda; namun secara ideologis, teologis, dan metodologi penafsiran, Syiah memiliki konsep Al-Qur'an yang sangat jauh berbeda dan menyimpang dari keyakinan umat Islam.
Menerima klaim sepihak Syiah bahwa mereka bersih dari doktrin merusak Al-Qur'an tanpa mengkritisi kitab-kitab rujukan utama mereka adalah kenaifan yang berbahaya. Tugas kita sebagai Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah terus menyuarakan kebenaran ilmiah, menjaga kemurnian pemahaman Kitabullah dari takwil-takwil batil kelompok sekte, serta memastikan bahwa akidah generasi muda Islam di Nusantara tetap terjaga di atas keyakinan bahwa Al-Qur'an yang kita pegang hari ini adalah sesempurna-sempurnanya wahyu yang dijaga langsung oleh Allah SWT.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: