Breaking News
Loading...

Syiah dan Kesalahan dalam Memahami Makna Taqwa

Syiahindonesia.com - Taqwa adalah derajat tertinggi yang menjadi cita-cita setiap mukmin dalam Islam. Di dalam Al-Qur'an, Allah SWT menegaskan bahwa kemuliaan seorang hamba di sisi-Nya tidak ditentukan oleh nasab, suku, ataupun pangkat, melainkan semata-mata karena kadar ketaqwaannya. Namun, di dalam teologi Syiah, konsep taqwa mengalami distorsi yang sangat fundamental. Mereka menggeser makna taqwa dari esensi aslinya—yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya—menjadi kepatuhan fanatik kepada figur manusia serta legalisasi kepura-puraan. Artikel ini akan membedah kesalahan-kesalahan fatal Syiah dalam memahami makna taqwa.

1. Mereduksi Taqwa Menjadi "Taqiyah" (Legalisasi Kebohongan)

Kesalahan paling paradoks dalam teologi Syiah adalah penyamaan atau pengidentikan antara sifat taqwa dengan praktik Taqiyah (menyembunyikan akidah asli dan menampakkan hal yang sebaliknya demi kepentingan kelompok). Dalam literatur utama mereka, seperti kitab Al-Kafi karya Al-Kulaini, dinukil riwayat-riwayat palsu yang menyatakan bahwa: "Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki Taqiyah" atau "Taqiyah adalah sembilan persepuluh dari agama."

Koreksi Akidah: Dalam Islam, taqwa dibangun di atas pondasi kejujuran (shiddiq) dan ketulusan, sementara menyembunyikan kebenaran secara permanen dan berpura-pura di hadapan sesama muslim adalah ciri dari kemunafikan. Allah SWT berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَكُونُوا۟ مَعَ ٱلصَّٰdِقِينَ

"Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur)." (QS. At-Taubah: 119)

Menjadikan kepura-puraan dan kebohongan sistematis sebagai bagian integral dari taqwa adalah penodaan terhadap nilai moral Islam yang lurus.

2. Menggantungkan Taqwa pada Nasab dan Loyalitas Imamah

Islam yang murni (Ahlussunnah wal Jama'ah) memandang taqwa sebagai konsep yang adil dan universal. Siapa saja, baik ia keturunan bangsawan maupun hamba sahaya, memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi kekasih Allah (Waliyullah) jika ia bertaqwa.

Penyimpangan Syiah: Syiah merusak universalitas ini dengan mengklaim bahwa taqwa seseorang tidak akan bernilai dan tidak akan diterima oleh Allah jika ia tidak mengimani doktrin Imamah (kepemimpinan 12 imam yang maksum) dan memiliki loyalitas mutlak (Wilayah) kepada mereka. Di sisi lain, mereka memberikan "cek kosong" keselamatan bagi keturunan Ahlul Bait atau pengikut mereka, seolah-olah faktor genetika dan fanatisme kelompok bisa menggantikan amal shalih.

Allah SWT telah memutus rantai feodalisme nasab dalam beragama melalui firman-Nya:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

"...Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu..." (QS. Al-Hujurat: 13)

3. Menghalalkan Mut'ah sebagai Bentuk "Ibadah"

Taqwa dalam Al-Qur'an berkaitan erat dengan kemampuan seorang hamba dalam menjaga kesucian diri dan kehormatannya (iffah). Allah memuji orang-orang yang memelihara kemaluannya kecuali kepada istri-istri mereka yang sah.

Namun, Syiah membalikkan konsep ini dengan melegalisasi dan sangat menganjurkan praktik Nikah Mut'ah (nikah kontrak/berjangka). Mereka bahkan membuat riwayat palsu bahwa melakukan mut'ah mendatangkan derajat ketaqwaan yang tinggi dan pahala yang fantastis, setara dengan derajat para Nabi. Menjadikan pemuasan nafsu biologis jangka pendek yang telah diharamkan oleh Rasulullah SAW sebagai simbol "ketaqwaan" adalah bentuk dekonstruksi moral yang sangat berbahaya bagi tatanan keluarga dan masyarakat.

4. Mengaburkan Makna Amal Shalih dengan Ritual Khurafat

Bagi seorang mukmin, implementasi taqwa diwujudkan melalui amal-amal ibadah yang disyariatkan, seperti shalat yang khusyuk, puasa, zakat, jihad, dan akhlakul karimah. Syiah menggeser fokus ketaqwaan ini menjadi ritual-ritual emosional yang sarat khurafat dan bid'ah, seperti:

  • Meratapi kematian Husain di Karbala secara histeris setiap tahun.

  • Melakukan aksi menyiksa diri (Tatbir) dengan memukul dada atau melukai kepala menggunakan senjata tajam.

  • Memohon doa dan syafaat secara langsung (Istighatsah) kepada kuburan para imam.

Mereka meyakini bahwa ritual-ritual tersebut dapat menghapus dosa-dosa besar, sehingga esensi taqwa untuk menahan diri dari kemaksiatan menjadi terabaikan karena adanya jaminan "penebusan dosa" lewat air mata ratapan.

5. Menanamkan Dendam dan Pelaknat sebagai Indikator Iman

Salah satu buah dari ketaqwaan adalah hati yang bersih (qalbun salim), penuh kasih sayang kepada sesama muslim, dan menghormati para pendahulu yang telah berjasa bagi dakwah Islam.

Sebaliknya, kurikulum "taqwa" dalam Syiah justru diisi dengan doktrin Tabarra' (berlepas diri dan membenci). Mereka mengajari pengikutnya untuk mengutuk, melaknat, dan mencaci maki para sahabat Nabi yang mulia (seperti Abu Bakar, Umar, Utsman) serta Ummul Mukminin Aisyah RA. Menjadikan aktivitas melaknat manusia-manusia terbaik pilihan Allah sebagai bagian dari ibadah dan bukti ketaqwaan adalah kesesatan berpikir yang nyata.

Kesimpulan

Kesalahan fatal Syiah dalam memahami makna taqwa terletak pada perombakan standar nilai agama. Mereka mengubah taqwa dari yang seharusnya bermakna takut kepada Allah, jujur dalam bersikap, dan taat pada syariat, menjadi sebuah dogma politik kelompok yang melegalkan kebohongan (Taqiyah), merusak moral (Mut'ah), dan menyuburkan dendam kepada generasi awal Islam.

Sebagai umat Islam di Indonesia, kita harus berpegang teguh pada definisi taqwa yang orisinal sebagaimana yang dipraktikkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat beliau. Taqwa yang sejati adalah yang membersihkan jiwa, menyatukan umat di atas tauhid, dan melahirkan akhlak yang mulia, bukan yang bersembunyi di balik topeng kepura-puraan.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: