Breaking News
Loading...

Mengapa Ulama Sunni Menganggap Syiah Menyimpang?

Syiahindonesia.com - Dalam menjaga kemurnian agama Islam, para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunni) bertindak sebagai benteng pertahanan yang menyaring setiap jengkal pemikiran agar tetap selaras dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sepanjang sejarah perkembangannya, ulama Sunni secara konsensus (ijma') menetapkan bahwa paham Syiah telah keluar dari koridor akidah Islam yang murni dan dikategorikan sebagai kelompok yang menyimpang.

Penilaian ini bukan didasari oleh sentimen kelompok, persaingan politik, atau kebencian personal. Para ulama menetapkan fatwa penyimpangan tersebut berdasarkan bukti-bukti tekstual yang otentik dari kitab-kitab primer Syiah sendiri, yang secara terang-terangan meruntuhkan pilar-pilar fundamental agama.

Berikut adalah alasan-alasan utama mengapa ulama Sunni menganggap Syiah menyimpang:

1. Pengkultusan Manusia yang Merusak Konsep Tauhid

Penyimpangan paling fatal yang disorot oleh ulama Sunni adalah doktrin Imamah. Syiah memposisikan 12 Imam mereka pada derajat suci yang melampaui batas kemakhlukan. Kitab-kitab babon mereka (seperti Al-Kafi dan Biharul Anwar) mengajarkan bahwa para Imam memiliki sifat ma'shum (suci dari dosa dan lupa), mengetahui seluruh hal ghaib, serta memiliki otoritas Wilayah Takwiniyah (kekuasaan untuk mengatur atom-atom di alam semesta).

Bagi ulama Sunni, memberikan hak prerogatif Allah (seperti mengatur alam dan mengetahui hal ghaib mutlak) kepada manusia adalah bentuk kesesatan nyata yang merusak kemurnian Tauhid Rububiyah dan Asma' wa Shifat.

2. Penghancuran Pilar Islam Lewat Pengkafiran Sahabat Nabi

Islam sampai kepada generasi hari ini melalui mata rantai (sanad) para sahabat yang loyal menemani perjuangan Rasulullah ﷺ. Namun, Syiah membangun teologinya di atas narasi kebencian dan pengkafiran massal terhadap mayoritas sahabat Nabi, termasuk figur-figur agung seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan.

Ulama Sunni menegaskan bahwa mencaci dan mengkafirkan sahabat bukan sekadar masalah sejarah, melainkan upaya meruntuhkan legitimasi agama. Jika para pembawa risalah (sahabat) dianggap kafir dan berkhianat, maka Al-Qur'an dan Hadits yang mereka bawa otomatis akan diragukan keabsahannya. Hal ini bertentangan dengan Surat Al-Fath ayat 18, di mana Allah secara tegas menyatakan telah ridha kepada para sahabat.

3. Menodai Kehormatan Istri-Istri Rasulullah ﷺ (Ummahatul Mukminin)

Penyimpangan Syiah yang sangat menyakiti hati umat Islam adalah kelancangan mereka dalam menuduh, memfitnah, dan melaknat para istri Nabi, khususnya Ibunda Aisyah radhiyallahu 'anha dan Ibunda Hafshah radhiyallahu 'anha.

Para ulama Sunni sepakat bahwa menuduh Ibunda Aisyah dengan kalimat-kalimat keji adalah bentuk kekafiran nyata, karena Allah SWT telah menurunkan wahyu khusus dalam Surat An-Nur untuk menyucikan nama baik beliau. Menistakan istri Nabi sama saja dengan menghina dan menyakiti pribadi Rasulullah ﷺ.

4. Peraguan terhadap Otentisitas dan Kesucian Al-Qur'an

Ulama Sunni mengidentifikasi adanya cacat akidah yang berat dalam literatur klasik Syiah mengenai keotentikan firman Allah. Banyak ulama besar Syiah terdahulu yang menulis secara terang-terangan bahwa Al-Qur'an yang ada di tangan umat Islam saat ini telah mengalami pengurangan (Tahrif) oleh para sahabat untuk menghapus ayat-ayat tentang kepemimpinan Ali r.a.

Meskipun saat ini mereka menggunakan taktik Taqiyyah untuk mengaku menerima Al-Qur'an yang sama, fakta bahwa kitab-kitab yang memuat doktrin Tahrif tersebut tetap dijadikan rujukan utama tanpa adanya ralat, membuat ulama Sunni tetap menaruh kewaspadaan tinggi atas penyesatan ini.

5. Mereduksi dan Memalsukan Makna Sunnah Nabi

Bagi Sunni, Sunnah adalah perkataan, perbuatan, dan ketetapan Rasulullah ﷺ. Namun, Syiah memperluas makna Sunnah menjadi perkataan para Imam mereka yang dianggap maksum. Mereka memutus sanad hadits dari mayoritas sahabat dan hanya menerima riwayat dari jalur kelompok mereka sendiri.

Demi mengisi kekosongan hukum akibat penolakan hadits massal tersebut, mereka memproduksi ribuan hadits palsu (maudhu') yang dinisbatkan kepada Ahlul Bait. Hal ini dianggap oleh ulama Sunni sebagai bentuk pengubahan syariat secara sengaja.

6. Melegalkan Kebohongan (Taqiyyah) Sebagai Bagian Ibadah

Dalam teologi Sunni, kejujuran adalah akhlak paling mulia dan fondasi agama. Sebaliknya, Syiah menjadikan Taqiyyah (berpura-pura dan berbohong demi menutupi mazhab) sebagai kewajiban yang setara dengan sembilan per sepuluh bagian agama.

Ulama Sunni memandang doktrin ini sangat berbahaya karena menghancurkan kepastian hukum, merusak kepercayaan antar-Muslim, dan menjadi senjata untuk menyusupkan paham sesat ke tengah masyarakat awam tanpa terdeteksi.

7. Menghidupkan Kembali Praktik Prostitusi Berkedok Agama (Mut'ah)

Ulama Sunni dari seluruh madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali) telah sepakat bahwa Nikah Mut'ah (kawin kontrak) telah diharamkan oleh Rasulullah ﷺ secara mutlak hingga hari kiamat. Syiah secara sepihak menolak hukum tersebut dan tetap menghalalkannya, bahkan menjanjikan pahala surga yang bombastis bagi pelakunya. Ulama Sunni menganggap hal ini sebagai legalisasi perzinahan yang merusak institusi pernikahan, menzalimi hak wanita, dan menghancurkan kejelasan nasab anak.

Kesimpulan

Bagi ulama Sunni, penyimpangan Syiah bukanlah perbedaan cabang hukum (furu'iyah/khilafiyah) seperti perbedaan cara bersedekap dalam shalat, melainkan perbedaan fundamental dalam masalah Ushuluddin (pokok-pokok akidah). Syiah dianggap menyimpang karena mereka merombak fondasi dasar Islam: mengusik kemurnian Tauhid, merongrong otoritas wahyu dan sunnah, serta menanamkan dendam kesumat kepada generasi terbaik Islam. Oleh karena itu, membentengi umat dari paham ini adalah kewajiban syar'i demi menjaga keselamatan iman kita di hadapan Allah SWT.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: