Syiahindonesia.com - Persatuan dan kesatuan umat (Ukhuwah Islamiyah) adalah salah satu perintah terbesar dalam Islam. Allah SWT secara tegas melarang umat-Nya untuk berpecah belah dan saling bermusuhan. Namun, dalam bentang sejarah peradaban Islam hingga realitas geopolitik modern, kelompok Syiah dinilai konsisten menjadi motor penggerak polarisasi dan fragmentasi di tengah-tengah umat. Tindakan memecah belah ini bukan sekadar letupan konflik sosial biasa, melainkan sebuah desain yang digerakkan oleh kombinasi doktrin keagamaan, dendam sejarah, dan ambisi kekuasaan politik transnasional.
1. Fondasi Akidah yang Berdiri di Atas Eksklusivisme
Penyebab paling mendasar mengapa Syiah memisahkan diri dan memecah tatanan umat adalah struktur akidah mereka yang eksklusif. Bagi Ahlus Sunnah wal Jamaah, parameter keislaman seseorang tegak di atas dua kalimat syahadat, penunaian rukun Islam, dan keyakinan pada rukun iman.
Sebaliknya, Syiah Itsna Asyariyyah (Imam Dua Belas) memasukkan Imamah (kepemimpinan 12 Imam) sebagai rukun agama yang paling utama (Ushulul Madzhab). Doktrin ini secara otomatis menciptakan garis pemisah yang tajam:
Mengafirkan Arus Utama: Siapa saja yang tidak mengimani ke-12 Imam mereka—termasuk mayoritas mutlak umat Islam di dunia—dianggap tidak sah imannya atau bahkan dinilai keluar dari Islam.
Agama yang Berbeda: Dengan parameter yang berbeda ini, Syiah secara sadar memosisikan diri mereka sebagai entitas yang terpisah dari tubuh besar umat Islam.
2. Memelihara Dendam Sejarah dan Kultur Ratapan
Persatuan membutuhkan rekonsiliasi dan kelapangan hati, namun Syiah adalah ideologi yang hidup dan bernapas dari dendam masa lalu. Setiap tahun, khususnya pada ritual Ashura (10 Muharram), mereka menghidupkan kembali narasi tragedi Karbala secara hiperbolis dan emosional.
Melalui ritual meratap dan menyiksa diri (Tathbir), pemimpin-pemimpin Syiah menanamkan mentalitas sebagai korban (victim mentality) kepada pengikutnya sejak usia dini. Mereka diarahkan untuk membenci kekhalifahan masa lalu dan mengidentifikasi umat Islam Sunni hari ini sebagai perpanjangan tangan dari musuh-musuh Ahlul Bait di masa lampau. Kultur kebencian yang dipelihara secara turun-temurun ini membuat integrasi sosial dan kedamaian antar-mazhab menjadi mustahil terwujud.
3. Doktrin Pengafiran Para Sahabat Nabi dan Istri Nabi
Generasi Sahabat dan para Ummahatul Mukminin (Istri-istri Nabi) adalah figur pemersatu dan teladan bagi seluruh umat Islam. Namun, demi memuluskan klaim bahwa hak politik Ali bin Abi Thalib telah dirampas, Syiah membangun doktrin bahwa mayoritas Sahabat Nabi (seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman) serta Ibunda Aisyah dan Hafshah telah murtad atau berkhianat setelah wafatnya Rasulullah SAW.
Penghinaan, laknat, dan caci maki terhadap para Sahabat (Sabbus Shahabah) yang menjadi bagian dari literatur resmi Syiah adalah pemantik utama konflik horizontal. Dengan menyerang figur-figur yang paling dihormati oleh miliaran umat Islam Sunni, Syiah secara sengaja membakar jembatan persatuan dan memicu kemarahan serta perpecahan di kalangan kaum muslimin.
4. Agenda Geopolitik Ekspansi Kekuasaan (Eksportasi Revolusi)
Di era kontemporer, upaya memecah belah ini bertransformasi menjadi agenda politik praktis yang disokong penuh oleh kekuatan negara. Sejak revolusi tahun 1979, Iran secara resmi mengadopsi doktrin Wilayatul Faqih dan menjadikannya sebagai basis gerakan transnasional dengan misi Eksportasi Revolusi.
Untuk menancapkan pengaruh geopolitiknya di negara-negara berpenduduk mayoritas Sunni, mereka menerapkan strategi divide and conquer (pecah belah dan kuasai):
Membentuk Proxy dan Milisi: Mereka mendirikan faksi-faksi militer atau politik lokal berskala kecil, mendanai mereka, dan menggerakkannya untuk merongrong atau menggulingkan pemerintahan yang sah (seperti yang terjadi di Yaman, Lebanon, Suriah, dan Irak).
Menciptakan Instabilitas: Ketika sebuah negara Muslim mengalami konflik internal dan ketidakstabilan politik, di situlah faksi Syiah masuk untuk merebut kendali strategis.
5. Dampak Infiltrasi Gerakan Sektarian di Indonesia
Di Indonesia, strategi memecah belah umat ini dilakukan secara bertahap dan menggunakan pendekatan kultural yang halus (soft infiltration):
Kamuflase Akademik: Menyusup melalui lembaga pendidikan, yayasan sosial, dan pusat studi dengan jargon "Pendekatan Mazhab" atau "Persatuan Islam".
Propaganda Emosional: Memanfaatkan kecintaan alami masyarakat Indonesia terhadap keturunan Nabi (Habaib/Ahlul Bait) untuk menyisipkan ajaran Syiah secara perlahan kepada masyarakat awam.
Konflik Sosial: Jika paham ini mengakar kuat pada sebagian kelompok, ia akan menciptakan friksi, perdebatan sengit di mimbar-mimbar agama, dan potensi disintegrasi bangsa yang mengancam keutuhan NKRI.
Allah SWT telah mengingatkan tentang bahaya perpecahan yang dapat melenyapkan kekuatan umat:
"...dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu..." (QS. Al-Anfal: 46).
Kesimpulan: Menjaga Ukhuwah dengan Mewaspadai Penyimpangan
Syiah berusaha memecah belah umat Islam karena eksistensi ajaran mereka memang menuntut adanya polarisasi. Tanpa narasi "kezaliman Sunni terhadap Ahlul Bait" dan tanpa pemeliharaan dendam masa lalu, doktrin Imamah mereka akan kehilangan relevansinya. Perpecahan adalah instrumen utama bagi mereka untuk mempertahankan identitas kelompok dan meluaskan ekspansi politik ideologisnya.
Bagi umat Islam di Indonesia, menjaga kemurnian akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah dan meningkatkan kewaspadaan terhadap gerakan infiltrasif Syiah adalah langkah mutlak. Persatuan umat yang sejati hanya bisa tegak di atas landasan kebenaran Al-Quran dan As-Sunnah yang lurus, bukan di atas fondasi teologi yang dipenuhi dengan caci maki terhadap para Sahabat Nabi SAW.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: