Syiahindonesia.com - Salah satu fakta paling menyakitkan dan memicu keretakan terbesar dalam sejarah peradaban Islam adalah keberanian kelompok Syiah Rafidhah (Itsna Asyariyyah) dalam menjatuhkan vonis kafir, murtad, atau sesat kepada mayoritas umat Islam. Bagi kaum Muslimin awam, tindakan ini terasa sangat ekstrem dan tidak masuk akal. Bagaimana mungkin miliaran umat Islam yang bersujud menghadap kiblat yang sama, berpuasa di bulan Ramadhan, dan bersaksi atas keesaan Allah serta kenabian Muhammad SAW, dianggap berada di luar Islam?
Keberanian Syiah dalam mengafirkan arus utama umat Islam (As-Sawadul A'dzam) bukanlah letupan emosi sesaat, melainkan sebuah konsekuensi logis yang tidak bisa dihindari dari struktur teologi dan rukun iman yang mereka bangun sendiri.
1. Menolak "Imamah" Berarti Menolak Rukun Iman Terbesar
Akar utama dari pengafiran masif ini terletak pada perombakan rukun iman yang dilakukan oleh ideologi Syiah. Dalam Islam yang murni (Ahlus Sunnah wal Jamaah), parameter keimanan seseorang diukur dari enam pilar yang masyhur dalam Hadits Jibril.
Namun, Syiah Itsna Asyariyyah memasukkan Imamah (keyakinan terhadap kepemimpinan suci 12 Imam maksum dari keturunan Ali bin Abi Thalib) sebagai bagian dari pokok agama (Ushuluddin). Bahkan, dalam pandangan teologi mereka, Imamah adalah pilar yang paling menentukan.
Konsekuensi Hukum Teologi Syiah: Seseorang yang menolak salah satu nabi atau rasul otomatis dihukum kafir oleh ijma' ulama. Karena Syiah menyejajarkan posisi Imam dengan Nabi dalam hal ketaatan mutlak dan kema'suman, maka siapa saja yang tidak mengimani 12 Imam mereka—termasuk mayoritas mutlak umat Islam di dunia hari ini (Sunni)—secara otomatis dicoret dari daftar mukmin sejati, bahkan dianggap keluar dari wilayah Islam (kafir) di akhirat kelak.
2. Doktrin Pengafiran Para Sahabat Nabi (Takfirush Shahabah)
Umat Islam Sunni hari ini adalah penerus beragama dari garis generasi para Sahabat Nabi yang menjaga, mengkodifikasi, dan menyebarkan Al-Quran serta Hadits ke seluruh penjuru dunia. Namun, bangunan sejarah versi Syiah didasarkan pada klaim bahwa mayoritas Sahabat telah melakukan makar politik terbesar setelah Rasulullah SAW wafat.
Syiah meyakini bahwa setelah Nabi Muhammad SAW wafat, para Sahabat sengaja menyembunyikan wasiat langit mengenai penunjukan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Dalam kitab rujukan suci mereka seperti Rijalul Khasyi, terdapat dogma yang sangat populer di kalangan internal Syiah:
"Seluruh manusia (Sahabat) murtad setelah wafatnya Nabi SAW, kecuali tiga orang: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi."
Karena umat Islam Sunni hari ini memuliakan, mencintai, dan mengambil syariat melalui jalur Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, serta ribuan Sahabat lainnya, maka dalam logika Syiah, kaum Sunni dinilai sebagai pengikut para "perampas kekuasaan" dan pembenci Ahlul Bait (Nashibi), yang halal untuk dikafirkan.
3. Fanatisme Buta Terhadap Kitab Induk yang Ekstrem
Keberanian mengafirkan ini terus dipelihara karena para pemuka agama Syiah mengunci akal pengikutnya dengan literatur klasik yang dipenuhi fatwa-fatwa radikal. Tokoh-tokoh besar pemikir Syiah masa lalu secara eksplisit menuliskan status kekafiran kaum Sunni dalam kitab-kitab mereka:
Al-Kulaini (Penulis Kitab Al-Kafi): Menegaskan bahwa siapa saja yang mengaku sebagai Imam namun bukan jalurnya, atau siapa saja yang menolak Imam yang sah, maka dia adalah musyrik.
Al-Majlisi (Penulis Kitab Biharul Anwar): Secara terbuka menyatakan bahwa kaum Sunni (Al-Ammah) adalah kafir, kekal di neraka, dan status mereka lebih buruk daripada kaum Yahudi dan Nasrani.
Ketika doktrin-doktrin yang mengalirkan kebencian ini terus dibacakan di husainiyah-husainiyah (tempat ibadah Syiah) dan majelis internal mereka, maka lahir secara subur mentalitas eksklusif yang memandang rendah keislaman orang di luar kelompok mereka.
4. Taktik Kamuflase (Taqiyyah) Menipu Umat Awam
Jika mereka memiliki doktrin sekeras itu, mengapa di dunia luar mereka sering mengampanyekan "Persatuan Islam" atau "Kedekatan Antar-Mazhab"? Jawabannya adalah Taqiyyah (kepura-puraan yang dilegalkan atas nama agama).
Aktivis Syiah sangat menyadari bahwa jika mereka membuka topeng takfir (pengafiran) ini secara terang-terangan di hadapan mayoritas Muslim Sunni di Indonesia, mereka akan langsung ditolak dan dikucilkan. Oleh karena itu, mereka menggunakan taktik bermuka dua:
Di luar (Forum Publik): Mereka merangkul tokoh-tokoh Sunni, menghadiri konferensi ukhuwah, dan menyatakan bahwa Sunni adalah saudara mereka dalam seiman.
Di dalam (Majelis Tertutup): Mereka kembali pada teks-teks asli kitab suci mereka yang menegaskan bahwa salatnya orang Sunni tidak sah, sembelihannya haram, dan mereka tidak akan mencium bau surga tanpa rida 12 Imam.
Kesimpulan: Benteng Akidah untuk Indonesia
Menjawab pertanyaan di atas: Syiah berani mengafirkan mayoritas umat Islam karena ideologi mereka memang didesain di atas pondasi pengkultusan individu (Imamah) dan pengafiran generasi Sahabat Nabi. Seseorang tidak bisa menjadi pengikut Syiah sejati tanpa mengadopsi rasa benci dan vonis menyimpang terhadap dunia Islam Sunni.
Bagi umat Islam di Indonesia, pemahaman mengenai anatomi berfikir Syiah ini sangat penting. Kita tidak boleh terkecoh oleh jargon-jargon toleransi palsu yang dibungkus dengan taqiyyah. Menjaga kemurnian akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah berarti mendudukkan perkara secara jujur, ilmiah, dan tegas: bahwa Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW telah sempurna melalui bimbingan para Sahabatnya, tanpa membutuhkan legitimasi sektarian kaum Syiah yang hobi mengafirkan umat.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: