Breaking News
Loading...

Mengapa Imam Bukhari dan Muslim Tidak Mencantumkan Hadis Syiah?

Syiahindonesia.com - Kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim merupakan dua kitab rujukan hadis paling otentik di dalam Islam (As-Shahihain). Kedua imam besar ini menerapkan metodologi seleksi periwayatan yang sangat ketat untuk memastikan bahwa setiap sabda, perbuatan, dan ketetapan yang disandarkan kepada Rasulullah SAW benar-benar murni dan terbebas dari kepalsuan.

Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah: mengapa Imam Bukhari dan Imam Muslim tidak mencantumkan hadis-hadis yang menjadi poros akidah kelompok Syiah—seperti hadis tentang penunjukan 12 imam yang maksum, klaim wasiat rahasia, atau celaan terhadap para sahabat? Jawabannya terletak pada integritas ilmiah dan ketatnya standar penyaringan yang mereka gunakan. Berikut adalah alasan-alasan utamanya:

1. Syarat Mutlak Perawi: Sifat Jujur ('Adalah) dan Tidak Berdusta

Dalam ilmu hadis, syarat paling utama bagi seorang perawi (pembawa berita) agar hadisnya bisa diterima dalam kategori Shahih adalah memiliki sifat 'Adalah, yaitu seorang Muslim yang adil, bertakwa, menjaga kehormatan diri, dan dikenal jujur (tidak pernah berdusta).

Kekosongan dari Jalur Syiah: Teologi Syiah menempatkan doktrin Taqiyah (menyembunyikan keyakinan asli dan menampakkan kebalikannya di hadapan kaum Sunni) sebagai bagian dari ibadah utama. Bagi para pakar hadis seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim, doktrin ini merupakan cacat moral yang sangat fatal (jarh). Seseorang yang melegalisasi kepura-puraan dan kebohongan sistematis atas nama agama tidak dapat dipercaya integritas bicaranya. Jika mereka bisa berpura-pura dalam keseharian, maka tidak ada jaminan mereka tidak memalsukan kalimat di dalam riwayat hadis demi membela mazhabnya.

2. Larangan Menerima Riwayat dari Ahli Bid'ah yang Menyeru pada Kesesatan

Imam Bukhari dan Imam Muslim hidup pada masa di mana riwayat-riwayat palsu mulai diproduksi secara masif oleh kelompok-kelompok sekte politik dan keagamaan. Para ulama hadis memiliki kaidah yang tegas terkait perawi yang terpengaruh pemikiran Syiah (Tasyayyu'):

  • Jika seorang perawi memiliki kecenderungan mencintai Ahlul Bait secara personal namun ia jujur dan tidak menyebarkan doktrin kelompoknya, sebagian hadisnya yang bersifat umum masih bisa dipertimbangkan oleh para ulama.

  • Namun, jika perawi tersebut adalah seorang da'i/propaganda (Da'iyah) yang aktif menyebarkan pemikiran sesatnya—seperti mengafirkan para sahabat Nabi atau mengultuskan imam—maka para ulama sepakat untuk menolak mentah-mentah riwayatnya.

Hadis-hadis khas Syiah ditolak karena jalur sanadnya berputar pada para propagandis ekstrem (ghuluw) yang sengaja membuat-buat cerita demi kepentingan politik golongan mereka.

3. Penolakan terhadap Hadis yang Cacat Tekstual (Syadz dan Mu'allal)

Selain memeriksa kepribadian perawi, Imam Bukhari dan Imam Muslim menguji keselarasan teks hadis (matan). Sebuah hadis dikatakan shahih jika teksnya tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan tidak menyelisihi riwayat lain yang jauh lebih kuat (Syadz).

Hadis-hadis yang disodorkan oleh kelompok Syiah umumnya mengandung cacat tekstual yang nyata. Sebagai contoh:

  • Riwayat Syiah yang mengklaim mayoritas sahabat murtad setelah Nabi wafat menabrak ratusan ayat Al-Qur'an yang menegaskan bahwa Allah telah ridha kepada para Sahabat Muhajirin dan Anshar (seperti dalam QS. At-Taubah: 100).

  • Riwayat yang menyatakan bahwa para imam mengetahui hal ghaib secara mutlak bertentangan dengan akidah tauhid.

Karena matan hadis versi Syiah merusak tatanan logika syariat dan mendustakan ayat-ayat Allah, secara otomatis riwayat-riwayat tersebut gugur dalam metodologi seleksi As-Shahihain.

4. Penghormatan Mutlak terhadap Generasi Sahabat Nabi

Imam Bukhari dan Imam Muslim meyakini sepenuhnya prinsip 'Adalatus Shahabah (seluruh sahabat Nabi adalah orang-orang yang adil dalam menyampaikan agama). Prinsip ini didasarkan pada rekomendasi langsung dari Allah dan Rasul-Nya.

Sekte Syiah membangun teologinya di atas fondasi kebencian dan pembunuhan karakter terhadap para sahabat senior, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ummul Mukminin Aisyah RA. Karena Syiah memutus rantai periwayatan dari para sahabat utama ini, mereka kehilangan jalur transmisi hadis yang otentik. Imam Bukhari dan Muslim tidak mungkin memasukkan riwayat dari orang-orang yang mengutuk guru-guru pertama umat Islam, karena menghina sahabat sama saja dengan meruntuhkan jembatan yang menghubungkan kita dengan Rasulullah SAW.

5. Komitmen Menjaga Kemurnian Agama dari Khurafat

Kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disusun dengan tujuan membersihkan khazanah Islam dari debu-debu dongeng purbakala, mistisisme berlebihan, dan manipulasi politik.

Literatur hadis Syiah (seperti yang belakangan dikumpulkan dalam kitab Al-Kafi atau Biharul Anwar) dipenuhi dengan narasi-narasi supranatural yang janggal, seperti klaim bumi diciptakan hanya demi para imam, atau ritual ratapan menyiksa diri yang menyerupai tradisi jahiliyah. Dengan tidak mencantumkan riwayat-riwayat cacat tersebut, Imam Bukhari dan Imam Muslim telah menyelamatkan kewarasan akidah dan kemurnian sunnah umat Islam hingga hari ini.

Kesimpulan

Tidak dicantumkannya hadis-hadis khas Syiah dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim bukan karena alasan subjektif atau kebencian personal, melainkan karena ketidaklolosan ilmiah. Riwayat-riwayat tersebut dibawa oleh para perawi yang cacat kejujurannya akibat doktrin Taqiyah, dipromosikan oleh para pembenci sahabat, dan memiliki teks yang bertentangan dengan Al-Qur'an.

Melalui ketegasan metodologi kedua imam besar ini, umat Islam di Indonesia dan seluruh dunia dapat dengan tenang mengamalkan Islam yang murni, bersih dari manipulasi politik sekte, serta berdiri tegak di atas kejujuran ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: