Breaking News
Loading...

Kesesatan Akidah Raj'ah dalam Syiah

Syiahindonesia.com - Di antara sekian banyak doktrin menyimpang yang dipelihara oleh kelompok Syiah Rafidhah, akidah Raj'ah (reinkarnasi/kebangkitan kembali sebelum kiamat) adalah salah satu yang paling asing dan merusak tatanan akidah Islam yang murni. Secara sederhana, Syiah meyakini bahwa sebelum terjadinya kiamat kubra, beberapa orang yang telah mati akan dihidupkan kembali ke dunia. Konsep ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur di majelis mereka, melainkan bagian dari keyakinan teologis yang wajib diimani oleh pengikutnya. Jika kita menelaah konsep ini dengan kacamata syariat yang jernih, akan terlihat jelas bahwa Raj'ah adalah bentuk pengadopsian khurafat kuno yang bertentangan secara diametral dengan Al-Qur'an dan Sunnah.

1. Hakikat dan Skandalo Doktrin Raj'ah

Klaim Syiah: Mereka mendoktrinkan bahwa ketika Imam Mahdi versi mereka keluar dari persembunyiannya (gua/serdab), Allah SWT akan menghidupkan kembali sekelompok orang dari umat terdahulu. Orang-orang yang dihidupkan kembali ini dibagi menjadi dua kelompok ekstrem: orang yang paling murni keimanannya (para Imam dan pengikut setianya) dan orang yang paling murni kekafirannya/kejahatannya.

Tujuan utama dari kebangkitan prematur ini bukanlah untuk ujian keimanan baru, melainkan untuk sebuah agenda balas dendam sejarah. Syiah meyakini bahwa Imam Mahdi bersama pengikutnya yang hidup kembali akan menghukum, menyiksa, dan menyalib musuh-musuh mereka di dunia sebelum mereka semua merasakan siksa neraka yang sesungguhnya di akhirat.

2. Pertentangan Mutlak dengan Al-Qur'an al-Karim

Akidah Raj'ah secara tegas meruntuhkan hukum alam (sunnatullah) mengenai kematian dan alam barzakh yang telah ditetapkan di dalam Al-Qur'an. Allah SWT berfirman mengenai orang yang telah mati:

حَتَّىٰإِذَاجَاءَأَحَدَهُمُالْمَوْتُقَالَرَبِّارْجِعُونِلَعَلِّيأَعْمَلُصَالِحًافِيمَاتَرَكْتُۚكَلَّاۚإِنَّهَاكَلِمَةٌهُوَقَائِلُهَاۖوَمِنْوَرَائِهِمْبَرْزَخٌإِلَىٰيَوْمِيُبْعَثُونَ

"... (orang kafir berkata): 'Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.' Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah kalimat yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (barzakh) sampai hari mereka dibangkitkan." (QS. Al-Mu'minun: 99-100).

Ayat ini menegaskan adanya Barzakh—sebuah dinding pemisah yang sifatnya absolut. Tidak ada satu pun manusia yang telah mati bisa menyeberang kembali ke alam dunia sebelum hari kebangkitan massal (Yaumul Ba'ats). Doktrin Syiah yang menyatakan manusia bisa bolak-balik hidup di dunia setelah mati adalah bentuk pendustaan nyata terhadap ayat ini.

3. Pemuasan Dendam kepada Khulafaur Rasyidin

Jika kita membongkar kitab-kitab rujukan utama Syiah seperti Biharul Anwar karya Al-Majlisi, akan terlihat jelas siapa target utama dari doktrin Raj'ah ini. Mereka menuliskan riwayat palsu bahwa orang pertama yang akan dihidupkan kembali untuk disiksa oleh Imam Mahdi adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab.

Syiah mengkhayalkan bahwa kedua khalifah sah tersebut akan dikeluarkan dari kuburnya, dituduh atas segala kezaliman yang terjadi di dunia sejak zaman Nabi Adam, lalu dicambuk dan disalib di atas pohon kurma. Narasi yang sangat sadis dan dipenuhi kebencian ini membuktikan bahwa akidah Raj'ah sengaja diciptakan oleh para ideolog Syiah masa lalu untuk menjaga api dendam pengikutnya agar tidak pernah padam terhadap para sahabat terbaik Nabi SAW.

4. Akar Historis: Mengadopsi Ajaran Yahudi dan Reinkarnasi kuno

Secara ilmiah, konsep kembalinya orang mati ke dunia sebelum kiamat tidak dikenal dalam silsilah ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Para ulama tarikh dan pakar sekte (seperti Imam Al-Asy'ari dan Ibnu Hazm) menjelaskan bahwa pencetus pertama akidah Raj'ah di dalam tubuh umat Islam adalah Abdullah bin Saba', seorang Yahudi dari Yaman yang pura-pura masuk Islam pada masa Khalifah Utsman bin Affan.

Ibnu Saba' membawa konsep Raj'ah yang diadopsi dari kepercayaan sebagian kelompok Yahudi tentang kembalinya Nabi Ilyas atau Yosua, lalu menerapkannya secara paksa kepada Ali bin Abi Thalib. Seiring berjalannya waktu, khurafat Yahudi ini dimodifikasi oleh sekte Syiah Rafidhah menjadi keyakinan bahwa seluruh Imam dan musuh-musuhnya akan mengalami Raj'ah.

Perbandingan Konsep Kematian: Islam vs Akidah Raj'ah Syiah

Dimensi AkidahIslam yang Murni (Ahlussunnah)Syiah Rafidhah (Raj'ah)
Fase Setelah MatiMenetap di alam Barzakh (nikmat/siksa kubur).Bisa keluar kembali ke dunia atas kehendak Imam Mahdi.
Waktu KebangkitanSerentak pada hari kiamat (Yaumul Qiyamah).Terjadi dua kali: Sebelum kiamat (Raj'ah) dan saat kiamat.
Poros KeadilanDitegakkan secara adil dan mutlak oleh Allah di akhirat.Ditegakkan lewat aksi balas dendam fisik oleh Imam di dunia.
Asal-Usul DoktrinWahyu Ilahi (Al-Qur'an dan Sunnah Shahihah).Infiltrasi pemikiran Abdullah bin Saba' (Yahudi).

Bahaya Akidah Raj'ah bagi Pikiran Umat

Membiarkan doktrin Raj'ah ini menyusup ke tengah masyarakat melalui buku-buku atau kajian terselubung Syiah membawa dampak psikologis yang merusak:

  1. Skeptis Terhadap Keadilan Akhirat: Konsep ini seolah mengisyaratkan bahwa pengadilan Allah di akhirat nanti tidak cukup, sehingga mereka merasa perlu membuat panggung "keadilan sendiri" di dunia berupa penyiksaan fisik kepada musuh politik mereka.

  2. Menyuburkan Mentalitas Sadisme: Pengikut Syiah dididik sejak kecil untuk berkhayal dan menikmati narasi penyiksaan, pembongkaran kubur, dan penyaliban para sahabat Nabi. Ini membentuk kepribadian sektarian yang radikal dan minim empati.

  3. Meruntuhkan Iman Kepada Hari Akhir: Menambahkan fase kebangkitan parsial di dunia mengaburkan esensi dari tanda-tanda kiamat dan urutan hari akhir yang sudah baku di dalam rukun iman.

Kesimpulan

Kesesatan akidah Raj'ah dalam Syiah adalah bukti nyata bagaimana sebuah sekte dapat terjebak dalam khurafat ekstrem ketika mereka melepaskan diri dari bimbingan Al-Qur'an dan pemahaman para sahabat. Islam yang murni mengajarkan bahwa dunia adalah tempat beramal dan akhirat adalah tempat pembalasan. Tidak ada sistem "hidup gelombang kedua" di dunia demi memuaskan dendam politik masa lalu. Sebagai Muslim di Indonesia, kita harus membentengi akidah keluarga kita dari dongeng-dongeng mistis ala Rafidhah ini dan tetap setia pada kebenaran ayat-ayat Allah yang menjaga kesucian alam barzakh.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: