Syiahindonesia.com - Dalam bangunan teologi Islam yang murni (Ahlussunnah wal Jama'ah), konsep kesucian secara mutlak hanyalah milik Allah SWT, sementara keterjagaan dari dosa dan kesalahan (Ishmah) hanya dianugerahkan kepada para Nabi dan Rasul dalam kapasitasnya sebagai penyampai wahyu. Namun, kelompok Syiah melakukan pergeseran radikal dengan memperluas konsep kemaksuman ini kepada dua belas imam mereka. Pengultusan yang melampaui batas ini melahirkan berbagai kesalahan fatal yang menabrak prinsip-prinsip dasar tauhid, logika syariat, dan fakta sejarah. Artikel ini akan membedah kesalahan-kesalahan mendasar tersebut.
1. Menyejajarkan Makhluk dengan Sifat Khusus para Nabi
Kesalahan paling mendasar dari doktrin kesucian imam (Ishmah) dalam Syiah adalah menyejajarkan kedudukan manusia biasa (non-Nabi) dengan para utusan Allah SWT. Mereka meyakini bahwa para imam terjaga dari segala bentuk dosa besar, dosa kecil, kekeliruan berpikir, bahkan sifat lupa sejak bayi hingga wafat.
Padahal, dalam Islam, hak istimewa ini hanya diberikan kepada para Nabi untuk menjamin bahwa syariat yang mereka sampaikan terbebas dari campur tangan kesalahan manusiawi. Allah SWT menegaskan batas kedudukan manusia di hadapan kekuasaan-Nya:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ
"Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa"..." (QS. Al-Kahfi: 110)
Jika Rasulullah SAW sendiri menekankan sisi kemanusiaan beliau yang dibimbing oleh wahyu, maka mengklaim adanya sekelompok manusia lain setelah beliau yang memiliki kesucian setara tanpa adanya wahyu baru adalah sebuah lompatan akidah yang tidak memiliki dasar hukum.
2. Menganggap Perkataan Imam sebagai Sumber Hukum yang Mandiri
Karena menganggap para imam memiliki kesucian mutlak dan mustahil salah, Syiah memposisikan setiap ucapan, tindakan, dan persetujuan (taqrir) para imam setara dengan hadits Nabi SAW. Hal ini berakibat pada pembagian otoritas syariat.
Bagi Ahlussunnah, agama Islam telah sempurna dengan wafatnya Rasulullah SAW. Menjadikan individu lain sebagai sumber hukum mandiri yang fatwanya tidak boleh dikritik atau diuji dengan Al-Qur'an dan Sunnah secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa risalah Nabi Muhammad SAW belum tuntas. Ini adalah pelecehan terselubung terhadap kesempurnaan agama yang telah dijamin oleh Allah dalam Surat Al-Ma'idah ayat 3.
3. Kontradiksi dengan Sikap Rendah Hati Ahlul Bait
Manipulasi konsep kesucian ini dipatahkan secara telak oleh lembaran sejarah hidup para imam Ahlul Bait itu sendiri. Sosok-sosok mulia seperti Ali bin Abi Thalib, Hasan, Husain, hingga Ali Zainal Abidin terkenal dengan ketakwaan dan rintihan doa-doa mereka yang penuh dengan permohonan ampun (istighfar) kepada Allah SWT.
Secara logika:
Jika mereka adalah makhluk yang maksum (suci secara otomatis dari dosa dan salah), untuk apa mereka menangis memohon ampunan di sepertiga malam?
Apakah istighfar mereka hanya sebuah kepura-puraan (sandiwara)? Tentu tidak.
Ibadah dan istighfar yang dilakukan oleh para imam adalah bukti nyata dari sifat ubudiyah (penghambaan) yang tulus sebagai manusia yang merasa fakir di hadapan Allah. Doktrin kesucian mutlak yang diciptakan para teolog Syiah justru merusak nilai-nilai keteladanan spiritual asli yang ditunjukkan oleh Ahlul Bait.
4. Menutup Ruang Kritik, Ijtihad, dan Musyawarah
Konsep kesucian imam melahirkan budaya kepatuhan buta di kalangan pengikut Syiah. Karena sang pemimpin dianggap mustahil keliru, maka seluruh kebijakan politik, fatwa keagamaan, bahkan keputusan perang harus diterima tanpa boleh dipertanyakan.
Hal ini bertentangan dengan prinsip Islam yang menghidupkan tradisi musyawarah (Syura) dan saling menasihati dalam kebenaran (Tawashau bil Haqq). Dalam sejarah Islam, para sahabat bahkan sering kali mengoreksi atau memberikan masukan kepada para Khalifah seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab jika kebijakan mereka dirasa kurang tepat, dan para pemimpin agung tersebut menerimanya dengan lapang dada. Doktrin Ishmah Syiah mematikan nalar kritis umat dan membuka pintu bagi otoritarianisme keagamaan yang absolut.
5. Dampak Fatal: Mengaburkan Batas antara Tauhid dan Kultus
Ketika kesucian mutlak dilekatkan pada diri manusia, batas antara pengagungan yang syar'i dan pengultusan yang menjurus pada kesyirikan menjadi kabur. Dampak nyata dari doktrin ini terlihat pada ritual-ritual Syiah di mana mereka memohon keselamatan, rezeki, dan ampunan langsung di kuburan para imam dengan seruan-seruan khusus.
Islam datang untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan hanya kepada Allah semata. Menjadikan kesucian imam sebagai pilar keselamatan menggeser poros ketergantungan hati umat dari Sang Pencipta kepada figur-figur manusia yang dikultuskan.
Kesimpulan
Kesalahan fatal Syiah dalam memahami makna kesucian imam berakar dari pemikiran yang berlebih-lebihan (Ghuluw) dalam memuliakan manusia. Mereka mengubah sosok-sosok teladan Ahlul Bait yang zuhud dan taat menjadi figur mistis yang memiliki sifat-sifat khusus para Nabi.
Sebagai umat Islam di Indonesia yang berpegang pada manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah, kita wajib mencintai dan menghormati keluarga Rasulullah SAW (Ahlul Bait) secara proporsional. Kita meneladani keshalihan, keilmuan, dan perjuangan mereka, namun kita menolak keras doktrin kemaksuman palsu yang merusak tatanan akidah Islam dan menodai kesempurnaan risalah Nabi Muhammad SAW.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: