Syiahindonesia.com - Keimanan (Akidah) dalam Islam adalah pondasi paling krusial yang menentukan keselamatan seorang hamba di dunia dan akhirat. Islam yang murni, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW dan dipahami oleh generasi Sahabat (Ahlus Sunnah wal Jama’ah), telah menetapkan pilar-pilar iman secara kokoh, jelas, dan transparan melalui wahyu Al-Qur'an dan Sunnah yang shahih.
Namun, di dalam teologi Syiah, konsep keimanan mengalami pergeseran paradigma yang sangat ekstrem. Mereka merombak struktur rukun iman dan memasukkan doktrin-doktrin buatan manusia ke dalam inti sari akidah. Akibatnya, lahir berbagai kesalahan fatal dalam memahami makna keimanan yang justru menjauhkan pengikutnya dari kemurnian tauhid. Berikut adalah beberapa kesalahan fundamental tersebut:
1. Menjadikan "Imamah" sebagai Rukun Iman yang Paling Utama
Kesalahan paling fatal dan mendasar dalam teologi Syiah adalah penyusupan doktrin Imamah (kepemimpinan dua belas imam) ke dalam rukun iman. Bahkan, dalam banyak kitab rujukan utama mereka, Imamah ditempatkan sebagai pilar yang paling agung, melampaui shalat, zakat, dan puasa.
Penyimpangan Akidah: Rasulullah SAW telah menjelaskan rukun iman secara gamblang dalam Hadits Jibril yang sangat masyhur, yaitu iman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Hari Akhir, dan Qadha-Qadar. Tidak ada satu pun celah dalam hadits tersebut yang menyebutkan kewajiban mengimani dua belas individu tertentu sebagai bagian dari keimanan.
Dengan menjadikan Imamah sebagai rukun iman, Syiah secara otomatis menganggap miliaran umat Islam yang tidak mengimani imam-imam mereka sebagai orang yang kafir, murtad, atau kekal di neraka. Paradigma eksklusif ini membelokkan fungsi iman dari pemurnian ibadah kepada Allah menjadi ketundukan mutlak kepada figur manusia.
2. Mengaitkan Penerimaan Amal dengan Syarat Wilayah
Dalam Islam, syarat mutlak agar amal ibadah seseorang diterima di sisi Allah adalah Ikhlas (hanya mengharap rida Allah) dan Ittiba' (mengikuti tuntunan Rasulullah SAW).
Konsep Sesat Syiah: Syiah merusak prinsip ini dengan mengajarkan bahwa sebaik apa pun ibadah seorang Muslim—meskipun ia shalat malam setiap hari, bersedekah seluruh hartanya, dan mati syahid di depan Ka'bah—amalnya akan sia-sia dan ditolak oleh Allah jika ia tidak memiliki Wilayah (pengakuan dan loyalitas) kepada para Imam Syiah. Hal ini merupakan kelancangan besar terhadap rahmat Allah yang luas dan menciptakan syarat baru dalam syariat tanpa dasar hukum (nash) yang sah.
3. Doktrin Kema'shuman Imam yang Menyamai Sifat Kenabian
Konsep iman kepada para nabi dalam Islam mencakup keyakinan bahwa mereka terjaga dari dosa (Maksum) dalam hal menyampaikan risalah Ilahi. Namun, Syiah memperluas sifat kema'shuman ini kepada manusia biasa, yaitu para imam mereka.
Dampak Pengkultusan: Mereka meyakini para imam suci dari segala bentuk kesalahan, lupa, dan dosa, sejak lahir hingga wafat. Bahkan, tingkatannya diklaim lebih tinggi daripada para malaikat dan nabi-nabi terdahulu selain Nabi Muhammad SAW. Kesalahan fatal ini merusak makna iman karena:
Menyejajarkan otoritas manusia biasa dengan kedudukan nabi.
Membuka pintu ghuluw (berlebih-lebihan) yang menjurus pada kesyirikan, di mana perkataan imam dianggap sebagai syariat baru yang setara dengan wahyu Allah.
4. Mengaburkan Makna Iman dengan Doktrin "Taqiyyah"
Islam mengajarkan bahwa iman adalah apa yang diyakini dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan amal perbuatan. Kejujuran adalah mahkota dari keimanan. Sebaliknya, Syiah menempatkan Taqiyyah (menyembunyikan keyakinan atau berpura-pura/berbohong demi melindungi diri atau mazhab) sebagai bagian integral dari iman.
Dalam literatur mereka disebutkan: "Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki Taqiyyah."
Kerusakan Moral dan Spiritual: Ketika kedustaan dan manipulasi lisan dianggap sebagai bentuk "kesolehan" dan pilar keimanan, maka batasan antara kebenaran (haq) dan kebatilan menjadi kabur. Seseorang bisa saja mengaku Sunni di hadapan mayoritas Muslim, namun melaknat para Sahabat di forum internal mereka. Konsep iman yang berdiri di atas pondasi kepura-puraan ini sangat kontradiktif dengan sifat jujur (shiddiq) yang wajib dimiliki oleh setiap mukmin yang sejati.
5. Menggantungkan Iman pada Hal Ghaib yang Mistik (Imam Sirdab)
Salah satu pilar keimanan dalam Islam adalah percaya kepada hari akhir dan perkara ghaib yang diinformasikan oleh Allah dan Rasul-Nya (seperti surga, neraka, dan alam kubur). Syiah menyelewengkan konsep ini dengan mewajibkan pengikutnya mengimani keberadaan Imam ke-12 (Muhammad al-Mahdi) yang diklaim telah bersembunyi di dalam lubang bawah tanah (sirdab) selama lebih dari 1100 tahun.
Iman mereka digantungkan pada sosok ghaib yang tidak fungsional secara syariat, tidak memberikan bimbingan nyata, dan keberadaannya tidak didukung oleh bukti sejarah maupun dalil Al-Qur'an. Ini adalah bentuk mistifikasi agama yang menjebak umat dalam angan-angan kosong dan menjauhkan mereka dari realitas pengamalan Islam yang aplikatif.
Kesimpulan
Kesalahan fatal Syiah dalam memahami makna keimanan bersumber dari satu hulu: pengkultusan figur manusia secara berlebihan. Ketika "Imamah" dipaksakan masuk ke dalam wilayah akidah, maka pilar-pilar iman yang lain—seperti iman kepada kitab Allah dan para rasul—akan ikut terdistorsi demi menyesuaikan diri dengan doktrin tersebut. Sebagai Muslim yang mendamba keselamatan, kita harus memurnikan akidah kita dengan kembali kepada konsep iman yang jernih, lurus, dan universal yang telah diwariskan oleh Rasulullah SAW kepada para Sahabatnya.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: