Syiahindonesia.com - Dalam Islam, menjaga kemurnian ibadah dan akidah dari penambahan-penambahan yang tidak memiliki dasar dari Rasulullah ﷺ adalah kewajiban yang sangat mendasar. Rasulullah ﷺ telah memberikan peringatan keras melalui sabdanya: "Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan agama kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka amalan tersebut tertolak" (HR. Bukhari & Muslim). Namun, jika kita melihat praktik dan doktrin Syiah, kita akan menemukan berbagai bentuk bid'ah—baik dalam ranah akidah maupun ibadah—yang tidak hanya sekadar baru, tetapi juga bersifat menyesatkan karena bertentangan dengan prinsip-prinsip Al-Qur'an dan As-Sunnah. Membedah konsep bid’ah dalam Syiah adalah langkah penting untuk menyadari betapa jauhnya aliran ini telah keluar dari rel Islam yang murni.
1. Bid'ah dalam Akidah: Doktrin Imamah
Bid'ah terbesar dalam ajaran Syiah adalah penciptaan rukun iman baru, yaitu Imamah. Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ telah sempurna dengan rukun iman yang enam. Namun, Syiah menambahkan kewajiban mengimani 12 Imam sebagai syarat sahnya keislaman seseorang.
Menjadikan masalah kepemimpinan politik sebagai bagian dari inti akidah yang menentukan kafir atau mukminnya seseorang adalah bentuk bid'ah teologis yang sangat berbahaya. Hal ini mengakibatkan pengkafiran massal terhadap para sahabat Nabi dan mayoritas umat Islam yang tidak meyakini doktrin buatan tersebut.
2. Bid'ah dalam Adzan dan Shalat
Syiah melakukan perubahan pada syariat shalat yang telah mapan selama berabad-abad. Salah satu yang paling mencolok adalah penambahan kalimat dalam adzan, yaitu: "Asyhadu anna Aliyan Waliyyullah" (Aku bersaksi bahwa Ali adalah wali Allah).
Meskipun Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu adalah sahabat yang mulia, memasukkan nama beliau ke dalam syariat adzan yang bersifat tauqifi (sesuai petunjuk wahyu) adalah bentuk kelancangan dalam beragama. Selain itu, praktik menggabungkan (jamak) dua shalat (Zhuhur-Ashar dan Maghrib-Isya) setiap hari tanpa ada sebab syar'i (seperti safar atau hujan) juga merupakan bentuk penggampangan syariat yang menyalahi tuntunan Nabi ﷺ.
3. Bid'ah Ritual: Menyiksa Diri pada Hari Asyura
Setiap bulan Muharram, dunia menyaksikan ritual berdarah penganut Syiah yang memukul-mukul dada, menyayat kepala dengan pedang, hingga mencambuk punggung dengan rantai besi. Mereka mengeklaim ini adalah bentuk duka cita atas syahidnya Imam Husain r.a.
Ritual menyiksa diri ini adalah bid'ah yang nyata dan bertentangan dengan akhlak Islam. Rasulullah ﷺ melarang umatnya melakukan Niahah (meratap secara berlebihan) dan melukai tubuh saat tertimpa musibah. Perbuatan ini lebih menyerupai tradisi jahiliyah atau ritual agama luar daripada ibadah yang diridhai Allah.
4. Legalisasi Zina melalui Bid'ah Nikah Mut’ah
Syiah tetap mempertahankan praktik Nikah Mut'ah (kawin kontrak) dan menjadikannya sebagai ibadah yang berpahala besar. Padahal, sejarah mencatat dengan jelas bahwa Rasulullah ﷺ telah mengharamkan praktik ini secara mutlak dan selamanya pada saat penaklukan Khaibar dan Fathu Makkah.
Menghidupkan kembali praktik yang sudah dihapus (nasakh) oleh Nabi ﷺ dan membungkusnya dengan janji-janji pahala surgawi adalah bid'ah yang merusak moralitas dan tatanan keluarga Muslim. Ini adalah bentuk penistaan terhadap kehormatan wanita dengan kedok agama.
5. Bid'ah dalam Penghormatan terhadap Makam
Penganut Syiah sering kali melakukan ritual-ritual di sekitar makam para imam yang melampaui batas, seperti sujud ke arah kuburan, berthawaf di sekelilingnya, dan meyakini bahwa berdoa di sana ribuan kali lebih utama daripada di Masjidil Haram.
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan: "Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai masjid (tempat sujud/ibadah)" (HR. Ahmad). Mengubah makam menjadi pusat peribadatan yang menyaingi kesucian masjid adalah bid'ah yang membuka pintu kemusyrikan secara lebar.
6. Penggunaan Tanah Karbala (Turbah) untuk Sujud
Syiah mewajibkan atau sangat menekankan penggunaan kepingan tanah kering dari Karbala (Turbah) sebagai tempat meletakkan dahi saat sujud. Mereka meyakini bahwa sujud tidak sempurna kecuali di atas tanah tersebut. Ini adalah penambahan dalam tata cara shalat yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi ﷺ maupun para imam Ahlul Bait yang asli. Keyakinan akan "kesaktian" tanah tertentu merupakan bentuk khurafat yang disisipkan ke dalam rukun shalat.
Kewaspadaan bagi Umat Islam di Indonesia
Penyebaran paham Syiah di Indonesia sering kali dilakukan dengan cara-cara halus, seperti mengajak masyarakat melakukan ritual-ritual baru yang tampak islami namun mengandung unsur pengkultusan. Umat Islam harus waspada karena:
Bid'ah Menghilangkan Sunnah: Semakin banyak bid'ah yang dilakukan, semakin hilang kecintaan dan praktik terhadap Sunnah Nabi yang asli.
Merusak Keikhlasan: Banyak ritual Syiah yang lebih menonjolkan aspek emosional dan demonstratif daripada ketulusan ibadah kepada Allah.
Ancaman Akidah: Bid'ah dalam Syiah bukan sekadar masalah teknis, tapi sering kali berujung pada penyimpangan akidah yang fatal.
Kesimpulan
Konsep bid’ah dalam Syiah merupakan bentuk penyimpangan yang sistematis. Dari mengubah rukun iman hingga menciptakan ritual berdarah, semua itu menunjukkan bahwa Syiah bukan sekadar mazhab pemikiran, melainkan sebuah gerakan yang secara aktif melakukan dekonstruksi terhadap syariat Islam. Sebagai umat Islam yang mencintai kemurnian agama, kita harus teguh memegang prinsip bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (bid'ah). Menjauhi bid'ah Syiah adalah cara kita menjaga kehormatan agama dan keselamatan di akhirat.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: