Breaking News
Loading...

Kesalahan Fatal dalam Konsep Keimanan menurut Syiah

Syiahindonesia.com - Keimanan dalam Islam adalah pondasi utama yang menentukan keselamatan seorang hamba di dunia dan akhirat. Dalam ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah, rukun iman telah ditetapkan secara jelas berdasarkan dalil-dalil Al-Qur'an dan Sunnah yang shahih. Namun, jika kita membedah konsep keimanan menurut sekte Syiah, khususnya Syiah Dua Belas Imam (Itsna Asyariyyah), kita akan menemukan serangkaian kesalahan fatal yang menggeser esensi tauhid menjadi pengkultusan makhluk. Mereka menciptakan rukun-rukun baru yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. Memahami penyimpangan ini sangat penting bagi umat Islam di Indonesia agar tidak terjerumus ke dalam perangkap ideologi yang secara fundamental telah merusak struktur akidah Islam yang murni.

1. Menjadikan "Imamah" sebagai Rukun Iman yang Utama

Kesalahan paling mendasar dalam akidah Syiah adalah memasukkan Imamah (kepemimpinan para Imam) ke dalam pokok keimanan (Ushuluddin). Mereka meyakini bahwa seseorang tidak akan diterima iman dan amal ibadahnya jika tidak mengimani kepemimpinan 12 Imam mereka. Bahkan, dalam banyak literatur Syiah, kedudukan Imamah dianggap lebih tinggi daripada rukun Islam lainnya seperti shalat, zakat, dan haji.

Bagi umat Islam Sunni, hal ini adalah bid'ah akidah yang menyesatkan. Allah SWT telah menyempurnakan rukun iman melalui lisan Nabi-Nya tanpa pernah menyebutkan kewajiban mengimani imam-imam tertentu setelah beliau. Allah berfirman:

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ

"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi..." (QS. Al-Baqarah: 177).

Ayat ini menyebutkan pokok-pokok iman secara lengkap tanpa mencantumkan "Imamah" di dalamnya. Memaksakan Imamah sebagai bagian dari iman adalah upaya sistematis untuk mengkafirkan mayoritas umat Islam yang tidak sepaham dengan mereka.

2. Keyakinan Terhadap "Ishmah" (Kemakshuman) Imam

Syiah meyakini bahwa para Imam mereka bersifat Ma'shum, yaitu suci dari segala dosa, kesalahan, dan lupa, sejak lahir hingga wafat. Kedudukan ini mereka sejajarkan, bahkan dalam beberapa aspek dilebihkan, dari kedudukan para Nabi. Ulama Sunni menegaskan bahwa sifat Ma'shum hanya diberikan Allah kepada para Nabi dalam hal penyampaian wahyu.

Memberikan sifat kemakshuman kepada manusia biasa setelah wafatnya Rasulullah ﷺ berarti membuka pintu bagi munculnya "nabi-nabi baru" dengan kedok imam. Jika seorang imam dianggap tidak pernah salah, maka setiap perkataannya akan dianggap sebagai syariat baru. Hal ini jelas bertentangan dengan kedudukan Rasulullah ﷺ sebagai penutup para Nabi (Khatamun Anbiya).

3. Penyimpangan Tauhid: Menisbatkan Sifat Ketuhanan kepada Imam

Kesalahan fatal berikutnya adalah doktrin bahwa para Imam mengatur atom-atom di alam semesta, mengetahui segala hal yang ghaib secara mandiri, dan bahwa Allah menciptakan dunia demi mereka. Dalam kitab Al-Kafi, terdapat riwayat yang menyatakan bahwa para Imam adalah "Wajah Allah," "Mata Allah," dan "Lisan Allah" di tengah makhluk-Nya dalam makna yang menjurus pada panteisme (wihdatul wujud).

Pengkultusan ini telah keluar dari batas tauhid yang murni. Allah SWT berfirman mengenai kekuasaan-Nya yang tidak terbagi:

قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

"Katakanlah: 'Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa'." (QS. Ar-Ra'd: 16).

Memberikan hak pengaturan alam kepada Imam adalah bentuk syirik besar dalam aspek Rububiyah.

4. Doktrin "Bada'": Menghina Ilmu Allah

Syiah memiliki konsep keimanan yang disebut Bada', yaitu keyakinan bahwa Allah bisa mengubah keputusan-Nya karena baru mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui-Nya. Mereka sering menggunakan alasan ini jika ramalan atau janji imam-imam mereka tidak terbukti di kenyataan.

Ulama Sunni memandang doktrin ini sebagai penghinaan keji terhadap Allah SWT. Hal ini menggambarkan Allah seolah-olah memiliki kekurangan dan ketidaktahuan (jahal). Padahal, ilmu Allah meliputi segala sesuatu yang telah, sedang, dan akan terjadi secara sempurna tanpa ada perubahan.

5. Pengkafiran Sahabat sebagai Syarat Iman

Dalam konsep Al-Wala' wal Bara' versi Syiah, keimanan seseorang dianggap tidak sah kecuali ia berlepas diri (Bara') dan melaknat para sahabat Nabi, terutama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Mereka membangun keimanan di atas pondasi kebencian.

Islam mengajarkan bahwa mencintai sahabat adalah bagian dari iman, dan membenci mereka adalah ciri kemunafikan. Rasulullah ﷺ bersabda:

آيَةُ الإِيمَانِ حُبُّ الأَنْصَارِ، وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الأَنْصَارِ

"Tanda iman adalah mencintai kaum Anshar (sahabat), dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar." (HR. Bukhari dan Muslim).

Jika membenci Anshar saja disebut munafik, lantas bagaimana dengan kelompok yang mengkafirkan Abu Bakar dan Umar yang merupakan sebaik-baiknya sahabat?

6. Taqiyyah: Iman yang Berlandaskan Kebohongan

Syiah menjadikan Taqiyyah (menyembunyikan keyakinan atau berbohong) sebagai kewajiban agama. Mereka mengeklaim bahwa "tidak ada agama bagi yang tidak memiliki Taqiyyah." Akibatnya, konsep kebenaran dalam iman mereka menjadi kabur. Seorang penganut Syiah bisa saja mengucapkan kata-kata manis di depan Sunni, namun di dalam hatinya ia menyimpan keyakinan yang jauh berbeda.

Dalam Islam, iman adalah kesesuaian antara keyakinan hati, ucapan lisan, dan amal perbuatan. Menjadikan kebohongan sebagai ritual ibadah adalah bentuk kerusakan moral dan akidah yang sangat fatal.

7. Penantian "Imam Gaib" yang Khayali

Keimanan Syiah juga bergantung pada sosok Imam ke-12 yang diklaim bersembunyi di dalam lubang (Sardab) selama lebih dari seribu tahun. Mereka mewajibkan pengikutnya untuk mengimani keberadaan sosok yang tidak pernah terlihat dan tidak memberikan manfaat syar'i secara nyata ini. Fokus keimanan umat dialihkan dari mengikuti Sunnah Nabi yang nyata kepada penantian sosok imajiner yang penuh dengan mitos.


Kesimpulan

Konsep keimanan dalam Syiah dipenuhi dengan kesalahan fatal yang secara sistematis merusak pondasi tauhid. Dengan menempatkan Imam di atas Nabi, menghalalkan kebohongan melalui Taqiyyah, dan membangun agama di atas cacian terhadap sahabat, Syiah telah menciptakan sebuah sistem kepercayaan yang sangat jauh dari Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Sebagai umat Islam di Indonesia, kita harus tetap teguh memegang rukun iman yang murni dan waspada terhadap setiap upaya penyesatan akidah yang berusaha mengaburkan batasan antara yang haq dan yang bathil. Keimanan yang benar adalah yang mendatangkan ketenangan dan persatuan, bukan yang membawa kebencian dan pengkultusan makhluk secara berlebihan.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: