Breaking News
Loading...

Bagaimana Syiah Memanfaatkan Taqiyyah untuk Menyembunyikan Ajaran Sesatnya?

Syiahindonesia.com - Dalam upaya menjaga kemurnian akidah umat Islam di Indonesia, penting bagi kita untuk mengenali instrumen-instrumen yang digunakan oleh kelompok penyesat dalam menyebarkan pengaruhnya. Salah satu senjata paling ampuh dan sistematis yang digunakan oleh kelompok Syiah Rafidhah adalah doktrin Taqiyyah. Berbeda dengan konsep perlindungan diri dalam kondisi darurat yang dikenal dalam Islam, Syiah menjadikan Taqiyyah sebagai pilar utama untuk menyembunyikan identitas, memanipulasi informasi, dan melakukan infiltrasi ke tengah mayoritas Ahlussunnah wal Jama’ah. Artikel ini akan membongkar bagaimana mekanisme "kebohongan yang dilegalkan" ini bekerja sebagai strategi untuk mengaburkan kesesatan mereka di mata masyarakat awam.


1. Menjadikan Kebohongan Sebagai Ibadah Tertinggi

Penyimpangan pertama terletak pada kedudukan Taqiyyah dalam sistem keyakinan Syiah. Jika dalam Islam jujur adalah kewajiban dan bohong adalah dosa besar, Syiah justru memutarbalikkan logika tersebut. Dalam kitab rujukan utama mereka, Al-Kafi (Jilid 2, hal. 217), disebutkan riwayat yang mereka klaim dari Imam mereka:

لَادِينَلِمَنْلَاتَقِيَّةَلَهُ

"Tidak ada agama bagi orang yang tidak memiliki taqiyyah."

Mereka meyakini bahwa sembilan persepuluh (90%) dari agama adalah Taqiyyah. Dengan doktrin ini, seorang pengikut Syiah merasa sedang menjalankan ibadah yang sangat mulia ketika ia berhasil menipu umat Islam lainnya mengenai keyakinan aslinya. Inilah yang menyebabkan sulitnya melakukan dialog jujur dengan tokoh-tokoh Syiah, karena dusta telah menjadi bagian dari napas keimanan mereka.

2. Strategi "Wajah Ganda" di Tengah Ahlussunnah

Di Indonesia, Syiah memanfaatkan Taqiyyah untuk menampilkan wajah yang sangat toleran dan inklusif di hadapan publik. Beberapa bentuk praktiknya antara lain:

  • Shalat Berjamaah: Mereka ikut shalat di masjid-masjid Sunni, mengikuti tata cara Ahlussunnah (seperti melipat tangan/sedekap), namun dalam hati mereka menganggap shalat tersebut tidak sah dan hanya formalitas demi keamanan atau misi infiltrasi.

  • Memuji Sahabat secara Semu: Di depan tokoh-tokoh Islam atau media massa, mereka akan memuji Abu Bakar atau Umar. Padahal, di dalam kitab-kitab rahasia mereka dan majelis internal, melaknat kedua sahabat tersebut adalah ritual yang mendatangkan pahala besar.

  • Jargon Persatuan (Taqrib): Mereka terus mendengungkan isu "Ukhuwah" dan "Persatuan Islam" hanya untuk membungkam kritik terhadap kesesatan mereka, sementara di saat yang sama mereka terus melakukan dakwah bawah tanah untuk "mensyiahkan" umat Islam.

3. Taqiyyah dalam Menyembunyikan Doktrin Al-Qur'an dan Hadits

Untuk menghindari kemarahan umat Islam, Syiah menggunakan Taqiyyah untuk menyembunyikan keyakinan mereka yang paling ekstrem, seperti:

  • Tahrif Al-Qur'an: Di depan umum mereka mengaku menggunakan Al-Qur'an yang sama, namun mereka menyembunyikan riwayat-riwayat di kitab mereka yang menyatakan bahwa Al-Qur'an saat ini tidak lengkap.

  • Hadits Palsu: Mereka sering mengutip hadits-hadits dari Kutubus Sittah (Bukhari-Muslim) hanya untuk menyerang balik Ahlussunnah, padahal aslinya mereka tidak mengimani hadits-hadits tersebut dan hanya menjadikannya alat retorika.

Rasulullah SAW telah mengingatkan kita tentang sifat orang-orang yang lisannya berbeda dengan hatinya:

آيَةُالْمُنَافِقِثَلَاثٌ:إِذَاحَدَّثَكَذَبَ،وَإِذَاوَعَدَأَخْلَفَ،وَإِذَااؤْتُمِنَخَانَ

"Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika dipercaya ia berkhianat." (HR. Bukhari & Muslim).

4. Infiltrasi ke Lembaga Pendidikan dan Pemerintahan

Pemanfaatan Taqiyyah yang paling berbahaya adalah dalam ranah struktural. Aktivis Syiah sering kali menyembunyikan identitas keagamaannya agar bisa masuk ke dalam lembaga-lembaga strategis, ormas Islam besar, hingga birokrasi pemerintahan.

Setelah mendapatkan posisi, mereka mulai melunakkan kebijakan terhadap penyebaran paham Syiah atau mencoba mengubah kurikulum sejarah agar lebih memihak pada narasi kelompok mereka. Tanpa kewaspadaan terhadap doktrin Taqiyyah ini, umat Islam di Indonesia bisa "kecolongan" dengan masuknya para penyesat ke dalam jantung pertahanan umat.


Cara Mengantisipasi Tipu Daya Taqiyyah Syiah

Agar kita tidak menjadi korban manipulasi mereka, lakukan langkah-langkah berikut:

  1. Lihat Kitab Rujukan, Bukan Lisan: Jangan pernah menilai Syiah dari apa yang dikatakan tokohnya di seminar publik. Bukalah kitab-kitab rujukan utama mereka seperti Al-Kafi atau Biharul Anwar. Di sanalah akidah asli mereka tertulis tanpa sensor Taqiyyah.

  2. Uji dengan Pertanyaan Kunci: Tanyakan secara tegas posisi mereka terhadap pengafiran sahabat dan status kema'shuman Imam. Jika mereka menjawab dengan bahasa yang berputar-putar atau "abu-abu", itu adalah indikasi kuat penggunaan Taqiyyah.

  3. Waspadai Jargon "Pecinta Ahlul Bait": Hampir semua aktivis Syiah menggunakan label ini untuk menarik simpati. Ingatlah bahwa mencintai Ahlul Bait versi mereka selalu dibarengi dengan membenci para sahabat Nabi.

  4. Berpegang pada Kejujuran Salaf: Tanamkan bahwa Islam adalah agama yang terang benderang. Tidak ada satu pun ajaran Nabi yang harus disembunyikan dengan kebohongan sistematis.

Kesimpulan

Taqiyyah dalam ajaran Syiah adalah bentuk kemunafikan yang dilembagakan. Ia merupakan alat untuk menipu umat Islam dan menyebarkan kesesatan secara perlahan tanpa menimbulkan resistensi. Dengan menjadikan dusta sebagai pilar agama, Syiah telah merusak nilai kejujuran yang menjadi fondasi akhlak Muslim. Sebagai umat Islam Indonesia yang cerdas, kita harus selalu waspada dan tidak mudah tergiur oleh tampilan lahiriah mereka. Kejujuran adalah ciri orang beriman, sedangkan strategi Taqiyyah hanyalah topeng untuk menyembunyikan akidah yang rapuh dan menyimpang.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: