Syiahindonesia.com - Dalam perbincangan mengenai aliran-aliran dalam Islam, salah satu poin yang paling krusial dan sering menjadi sumber gesekan adalah doktrin eksklusivitas kebenaran. Kelompok Syiah Rafidhah dikenal memiliki pandangan yang sangat tajam terhadap siapa pun yang berada di luar garis ideologi mereka. Meskipun di hadapan publik mereka sering menggaungkan slogan "pendekatan antar mazhab" (taqrib), namun literatur fundamental mereka menyimpan vonis kesesatan—bahkan kekafiran—bagi mayoritas umat Islam (Ahlussunnah wal Jama’ah). Memahami alasan di balik pelabelan sesat ini sangat penting agar umat Islam di Indonesia tidak terjebak dalam diplomasi palsu yang menutupi akidah takfiri mereka.
1. Menjadikan Imamah sebagai Syarat Mutlak Keimanan
Alasan utama mengapa Syiah menganggap orang di luar mazhab mereka sesat adalah karena mereka menempatkan Imamah (kepemimpinan 12 Imam) sebagai pilar agama yang paling utama. Bagi mereka, iman seseorang tidak akan diterima oleh Allah SWT jika tidak disertai dengan keyakinan terhadap kema'shuman dan otoritas para Imam.
Dalam kitab Al-Mahasin karya Al-Barqi (salah satu rujukan Syiah), disebutkan riwayat yang mengklaim bahwa Allah tidak akan menerima amal perbuatan hamba-Nya kecuali jika hamba tersebut "mengenal" (mengakui) Imam mereka. Akibatnya, miliaran umat Islam yang bersyahadat, shalat, dan berhaji namun tidak meyakini doktrin 12 Imam, dianggap oleh Syiah sebagai orang yang "tersesat dari jalan yang benar" dan amalnya sia-sia.
2. Pandangan terhadap "An-Nawashib" (Musuh Ahlul Bait)
Syiah sering kali menggunakan istilah An-Nawashib (orang-orang yang memusuhi Ahlul Bait) secara serampangan. Dalam definisi ekstrem mereka, siapa pun yang mendahulukan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan di atas Ali bin Abi Thalib dikategorikan sebagai Nashibi.
Vonis sebagai Nashibi ini berimplikasi sangat berat dalam hukum Syiah:
Orang tersebut dianggap lebih buruk daripada orang kafir asli.
Darah dan hartanya dianggap "halal" dalam beberapa riwayat ekstrem mereka.
Mereka dipastikan kekal di dalam neraka.
Dengan melabeli Ahlussunnah sebagai pembenci Ahlul Bait (hanya karena menghormati para Sahabat), Syiah membangun dinding pemisah yang tebal dan memandang semua orang di luar kelompoknya sebagai musuh agama.
3. Tuduhan Pengkhianatan terhadap "Wasiat" Nabi
Syiah menganggap umat Islam di luar mazhab mereka sesat karena dianggap telah berkhianat terhadap wasiat Nabi Muhammad SAW di Ghadir Khum. Mereka meyakini bahwa Nabi telah secara eksplisit menunjuk Ali sebagai penggantinya, namun mayoritas sahabat dan umat Islam kemudian "sengaja" mengabaikannya.
Logika mereka adalah: "Jika Anda menolak pemimpin yang ditunjuk Tuhan, maka Anda telah menolak Tuhan itu sendiri." Pandangan hitam-putih inilah yang menyebabkan mereka tidak bisa menerima keberagaman mazhab dalam Islam. Bagi mereka, hanya ada satu kelompok yang selamat (Al-Firqah an-Najiyah), yaitu pengikut 12 Imam, sementara yang lainnya adalah pengikut "pemerintahan thaghut" (khulafaur rasyidin selain Ali).
4. Pengaruh Doktrin Takfiri dari Para Tokoh Klasik
Klaim kesesatan ini bukan sekadar opini individu, melainkan tertanam dalam kitab-kitab induk yang diajarkan di hauzah-hauzah (pesantren) Syiah. Tokoh besar mereka, Al-Majlisi, dalam kitab Biharul Anwar menyatakan dengan tegas bahwa siapa pun yang mengingkari Imamah salah satu dari para Imam, maka ia sama saja dengan orang yang mengingkari kenabian semua Nabi.
Vonis ini sangat berbahaya karena menutup pintu dialog yang jujur. Ketika seseorang sudah dianggap setara dengan pengingkar Nabi, maka tidak ada lagi ruang bagi persaudaraan iman yang hakiki.
Dampak Pandangan Eksklusif Ini bagi Umat di Indonesia
Paham yang menganggap orang lain sesat secara total ini membawa dampak negatif bagi masyarakat Indonesia:
Merusak Toleransi Intern umat Islam: Menciptakan ketegangan di tengah masyarakat yang selama ini rukun.
Memicu Sikap Merasa Benar Sendiri: Penganut Syiah di Indonesia cenderung menutup diri dan memandang rendah ibadah umat Islam lainnya karena dianggap "tidak sah" tanpa restu Imam.
Politik Belah Bambu: Mereka menggunakan narasi "minoritas yang tertindas" untuk mendapatkan simpati, padahal secara ideologis mereka-lah yang memandang mayoritas sebagai kelompok yang sesat.
Langkah Antisipasi
Perkuat Akidah Ahlussunnah: Pahami bahwa rukun iman dan Islam sudah sempurna sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW kepada para Sahabat.
Jangan Terkecoh Slogan "Persatuan": Selalu pertanyakan, bagaimana mungkin mengajak bersatu jika di dalam kitab-kitab mereka masih tersimpan pelabelan kafir dan sesat terhadap sahabat Nabi dan pengikutnya?
Kembali ke Literasi Sahih: Bacalah buku-buku yang membongkar isi kitab asli Syiah agar kita tahu apa yang sebenarnya mereka yakini di balik masker taqiyyah mereka.
Kesimpulan
Syiah menganggap semua orang di luar mazhab mereka sesat karena mereka telah mengganti standar kebenaran Islam dari "Al-Qur'an dan Sunnah" menjadi "Kepatuhan pada Imam". Dengan menjadikan Imamah sebagai harga mati, mereka secara otomatis memvonis mayoritas umat Islam sebagai kelompok yang menyimpang. Sebagai Muslim yang mencintai kedamaian dan kebenaran, kita harus waspada terhadap paham takfiri terselubung ini yang dapat merusak persatuan bangsa dan kesucian akidah Islam.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: