Breaking News
Loading...

Kesalahan Syiah dalam Memahami Rukun Islam dan Rukun Iman

Syiahindonesia.com - Akidah Islam adalah bangunan yang berdiri kokoh di atas fondasi yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Fondasi tersebut terangkum dalam Rukun Islam dan Rukun Iman. Bagi Ahlussunnah wal Jama’ah, rukun-rukun ini bersifat mutlak (tsawabit) dan tidak boleh ditambah maupun dikurangi. Namun, kelompok Syiah Rafidhah telah melakukan perombakan mendasar pada struktur rukun tersebut dengan menyisipkan doktrin politis sebagai bagian dari inti keimanan. Di Indonesia, pengaburan rukun ini sering kali tidak disadari oleh masyarakat awam, padahal perbedaan ini bukanlah sekadar masalah teknis, melainkan perbedaan dalam memandang esensi agama. Membedah kesalahan Syiah dalam memahami Rukun Islam dan Iman adalah kunci untuk menyadari sejauh mana penyimpangan mereka dari jalur yang haq.


1. Pergeseran Rukun Islam: Menempatkan Wilayah di Atas Segalanya

Dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menegaskan bahwa Islam dibangun di atas lima perkara: Syahadat, Shalat, Zakat, Haji, dan Puasa. Namun, dalam kitab rujukan utama Syiah, Al-Kafi (Jilid 2, hal. 18), susunan ini diubah secara total.

Syiah menetapkan lima rukun (yang mereka sebut sebagai Da'aim al-Islam): Shalat, Zakat, Puasa, Haji, dan Al-Wilayah (kepemimpinan Imam). Yang paling fatal adalah pernyataan tokoh mereka dalam kitab tersebut:

"Dan tidak ada satu pun perintah yang diserukan secara lebih ditekankan daripada Al-Wilayah."

Dengan doktrin ini, Syiah telah melakukan kesalahan besar dengan:

  • Menghapus Syahadat sebagai rukun pertama: Dalam banyak literatur mereka, syahadat sering kali digantikan atau digabungkan dengan pengakuan terhadap Wilayah Ali.

  • Memprioritaskan Politik di atas Ibadah: Mereka menganggap Wilayah (kepemimpinan 12 Imam) lebih utama daripada shalat dan zakat. Tanpa meyakini Wilayah, ibadah lainnya dianggap tidak bernilai.

2. Kesalahan dalam Rukun Iman: Doktrin Imamah

Ahlussunnah wal Jama’ah meyakini enam rukun iman: Iman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat, serta Qada dan Qadar. Ini adalah kesepakatan (ijma') yang bersumber dari Hadits Jibril.

Syiah melakukan penyimpangan dengan memasukkan Imamah sebagai bagian dari rukun iman. Akibat dari kesalahan ini adalah:

  • Mensejajarkan Imam dengan Rasul: Mereka meyakini Imam memiliki otoritas ilahiyah, maksum (suci dari dosa), dan menerima ilham yang setara dengan wahyu.

  • Pengafiran Umat Islam: Karena Imamah dianggap rukun iman, maka siapa pun yang tidak mengimaninya (termasuk seluruh umat Islam di luar Syiah) dianggap telah kafir atau tidak sempurna imannya.

Allah SWT menegaskan kesempurnaan agama tanpa perlu tambahan doktrin Imamah dalam Surah Al-Ma'idah ayat 3:

الْÙŠَÙˆْÙ…َØ£َÙƒْÙ…َÙ„ْتُÙ„َÙƒُÙ…ْدِينَÙƒُÙ…ْÙˆَØ£َتْÙ…َÙ…ْتُعَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ْÙ†ِعْÙ…َتِيوَرَضِيتُÙ„َÙƒُÙ…ُالْØ¥ِسْÙ„َامَدِينًا

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu."

Jika agama sudah sempurna pada masa Nabi, maka penambahan rukun Imamah adalah bentuk bid'ah akidah yang menyesatkan.

3. Keyakinan tentang Al-Adl (Keadilan Tuhan) yang Menyimpang

Syiah memasukkan Al-Adl sebagai rukun iman yang berdiri sendiri, yang sebenarnya berakar dari pemikiran Muktazilah. Kesalahan mereka bukan pada mengakui Allah itu Adil, karena Ahlussunnah pun meyakini Allah Maha Adil.

Namun, Syiah (dan Muktazilah) menggunakan akal untuk membatasi kehendak Allah. Mereka berpendapat bahwa Allah "wajib" melakukan hal-hal yang baik bagi hamba-Nya menurut ukuran akal manusia. Ini bertentangan dengan prinsip Tauhid yang menyatakan bahwa Allah Maha Berkehendak dan tidak ada satu pun makhluk yang bisa mewajibkan sesuatu kepada-Nya.

4. Konsep Ma’ad (Hari Kebangkitan) yang Dibumbui Raj’ah

Meskipun Syiah mencantumkan iman kepada hari akhir, mereka menodainya dengan doktrin Raj’ah. Mereka meyakini bahwa sebelum kiamat terjadi, Imam Mahdi mereka akan bangkit dan menghidupkan kembali beberapa orang yang sudah mati, terutama para sahabat Nabi (seperti Abu Bakar dan Umar), untuk disiksa dan dihukum sebagai bentuk dendam sejarah.

Keyakinan ini adalah khurafat yang tidak memiliki dasar dalam Al-Qur'an maupun Sunnah shahihah. Hari kebangkitan dalam Islam adalah hari pembalasan yang adil di hadapan Allah, bukan ajang balas dendam politik bagi sekelompok sekte.


Perbandingan Rukun Iman: Ahlussunnah vs Syiah

Rukun ImanAhlussunnah wal Jama’ahSyiah Rafidhah
DasarAl-Qur'an & Hadits Jibril (Shahih).Kitab Al-Kafi & Ijtihad Mullah.
Jumlah6 Rukun (Pasti).5 Usuluddin (Tauhid, Adl, Nubuwwah, Imamah, Ma'ad).
Kedudukan ImamPemimpin biasa yang bisa salah.Maksum & Rukun Iman yang paling utama.
Status PenolakTetap Muslim (selama tidak syirik).Dianggap Kafir/Murtad.

Dampak Penyimpangan Rukun bagi Umat Islam

Perbedaan rukun ini bukan sekadar permainan angka, melainkan berdampak pada:

  1. Rusaknya Konsep Tauhid: Karena ketaatan kepada Imam dijadikan setara dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul.

  2. Membuka Pintu Kesyirikan: Melalui pengultusan individu yang dianggap memiliki sifat-sifat ketuhanan.

  3. Memecah Belah Umat: Karena mereka membangun dinding pemisah dengan mengafirkan siapa pun yang tidak mengimani rukun buatan mereka.

Kesimpulan

Kesalahan Syiah dalam memahami Rukun Islam dan Rukun Iman adalah kesalahan yang bersifat fundamental dan ushul. Mereka telah mengubah wajah Islam dari agama tauhid yang murni menjadi ajaran yang berpusat pada pengultusan imam dan dendam sejarah. Sebagai Muslim di Indonesia, kita wajib memegang teguh Rukun Islam yang lima dan Rukun Iman yang enam sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Jangan biarkan infiltrasi paham Syiah mengaburkan fondasi keimanan kita.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: