Breaking News
Loading...

Mengapa Syiah Menganggap Orang di Luar Mazhab Mereka sebagai Kafir?

Syiahindonesia.com - Salah satu sisi paling ekstrem dan berbahaya dari ideologi Syiah Rafidhah adalah doktrin pengafiran (takfir) terhadap umat Islam di luar kelompok mereka. Di Indonesia, penganut Syiah sering kali menutupi kenyataan ini dengan retorika "ukhuwah" dan "persatuan," namun di dalam kitab-kitab rujukan utama mereka, terdapat vonis yang sangat jelas bahwa siapa pun yang tidak meyakini doktrin Imamah dianggap telah keluar dari Islam. Memahami akar dari keyakinan takfiri Syiah ini sangat krusial bagi umat Islam agar tidak terkelabui oleh tampilan lahiriah mereka, sekaligus sebagai pengingat akan pentingnya menjaga kemurnian akidah Ahlussunnah wal Jama’ah.


1. Imamah sebagai Rukun Iman yang Paling Utama

Akar dari pengafiran Syiah terhadap umat Islam terletak pada posisi Imamah (kepemimpinan 12 Imam) dalam sistem akidah mereka. Bagi Ahlussunnah, rukun iman ada enam. Namun bagi Syiah, Imamah adalah rukun iman yang paling pokok. Mereka meyakini bahwa pengangkatan Ali bin Abi Thalib dan keturunannya adalah perintah Allah yang setara dengan perintah shalat atau tauhid.

Dalam kitab Al-Kafi (Jilid 2, hal. 18), kitab hadits paling otoritatif bagi Syiah, disebutkan bahwa Islam dibangun atas lima perkara: Shalat, Zakat, Puasa, Haji, dan Al-Wilayah (Imamah). Kemudian ditegaskan:

"Dan tidak ada satu pun seruan (perintah) yang lebih ditekankan daripada Al-Wilayah (Imamah)."

Karena mereka menganggap Imamah sebagai bagian inti dari iman, maka secara otomatis siapa pun yang tidak mengimaninya—termasuk mayoritas umat Islam (Ahlussunnah)—dianggap telah kafir karena menolak salah satu rukun agama mereka.

2. Vonis Kafir terhadap Para Sahabat Nabi

Sebelum mengafirkan umat Islam zaman sekarang, Syiah terlebih dahulu mengafirkan para sahabat Nabi SAW yang mulia. Mereka memalsukan riwayat yang menyatakan bahwa para sahabat telah murtad setelah Rasulullah SAW wafat hanya karena mereka membaiat Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Salah satu riwayat dalam kitab Rijal al-Kasyi menyatakan: "Semua manusia (sahabat) menjadi murtad setelah wafatnya Nabi kecuali tiga orang: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzarr Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi."

Vonis kafir ini mencakup Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, Hafshah, dan ribuan sahabat lainnya yang telah dijamin masuk surga oleh Allah dalam Al-Qur'an. Jika generasi terbaik umat ini saja mereka kafirkan, maka tidak mengherankan jika umat Islam saat ini yang mengikuti jalan para sahabat tersebut juga dianggap kafir oleh mereka.

3. Keyakinan bahwa Hanya Syiah yang Masuk Surga

Implikasi dari doktrin Imamah ini adalah keyakinan eksklusif bahwa hanya kelompok mereka yang akan selamat di akhirat, sementara orang di luar mazhab mereka (Ahlussunnah) dianggap sebagai musuh Allah (An-Nawashib).

Dalam literatur Syiah, istilah "An-Nashibi" (pembenci Ahlul Bait) disematkan secara sepihak kepada siapa saja yang mendahulukan Abu Bakar dan Umar di atas Ali bin Abi Thalib. Status Nashibi ini dalam hukum mereka setara dengan kafir harbi, bahkan lebih buruk dari orang kafir asli (Yahudi dan Nasrani), karena dianggap sebagai pengkhianat wasiat Nabi.

Rasulullah SAW telah memberikan peringatan keras terhadap perbuatan mengafirkan sesama Muslim tanpa alasan syar'i:

إِذَاقَالَالرَّجُلُلِأَخِيهِ:يَاكَافِرُ،فَقَدْبَاءَبِهَاأَحَدُهُمَا

"Apabila seseorang berkata kepada saudaranya: 'Wahai Kafir!', maka vonis itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya." (HR. Bukhari & Muslim).

4. Strategi Taqiyyah: Wajah Ganda dalam Takfir

Di Indonesia, tokoh-tokoh Syiah jarang sekali menyebut Ahlussunnah sebagai "kafir" di depan publik. Hal ini dikarenakan doktrin Taqiyyah (berpura-pura). Mereka dilarang menunjukkan akidah takfiri mereka selama mereka berada dalam posisi minoritas atau merasa tidak aman.

Mereka akan menyebut kita sebagai "saudara seiman," namun di dalam kitab-kitab doa dan majelis internal mereka, mereka memohon kepada Allah agar melaknat "dua berhala Quraisy" (Abu Bakar dan Umar) dan orang-orang yang mengikuti mereka. Inilah bentuk kemunafikan sistematis yang digunakan untuk melindungi diri sembari terus melakukan infiltrasi ideologis.


Bahaya Paham Takfiri Syiah bagi Persatuan Bangsa

Mengapa kita harus waspada terhadap paham pengafiran ini?

  • Menanamkan Kebencian: Doktrin ini melatih penganutnya untuk membenci tetangga, saudara, bahkan orang tua mereka sendiri jika tetap berada dalam manhaj Ahlussunnah.

  • Legalitas Kekerasan: Secara teologis, jika seseorang sudah dianggap kafir atau Nashibi, maka harta dan darahnya menjadi halal dalam pandangan ekstremis mereka jika kondisi memungkinkan.

  • Merusak Kedamaian Indonesia: Narasi pengafiran terhadap simbol-simbol suci umat Islam (Sahabat dan Istri Nabi) adalah pemantik konflik horizontal yang paling efektif di tanah air.

Kesimpulan

Klaim Syiah bahwa orang di luar mazhab mereka adalah kafir bukanlah sekadar isu isapan jempol, melainkan pilar yang tertulis rapi dalam kitab-kitab rujukan mereka. Pengafiran ini bermula dari pengangkatan manusia (imam) menjadi rukun iman dan berujung pada kebencian terhadap para sahabat Nabi. Sebagai umat Islam di Indonesia, kita wajib cerdas melihat realitas ini. Jangan tertipu oleh jargon persatuan semu mereka, karena di balik itu terdapat keyakinan yang menganggap kita telah keluar dari Islam. Tetaplah istiqamah di atas jalan As-Salafus Shalih yang penuh dengan kasih sayang dan kejujuran.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: