Breaking News
Loading...

Mengapa Syiah Mengajarkan Ritual yang Tidak Ada dalam Islam?

Syiahindonesia.com - Islam adalah agama yang telah sempurna sejak wafatnya Rasulullah SAW. Segala bentuk ibadah dan ritual telah diatur secara rinci melalui Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih. Namun, ketika kita memperhatikan praktik keagamaan kelompok Syiah Rafidhah, kita akan menemukan berbagai ritual yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi maupun para sahabat, bahkan cenderung ekstrim dan menyimpang dari logika syariat. Di Indonesia, fenomena ini sering kali dibungkus dengan alasan "kecintaan pada keluarga Nabi", padahal pada hakikatnya ritual tersebut merupakan bid'ah munkarah yang menjauhkan umat dari esensi ketakwaan. Mengapa mereka menciptakan ritual-ritual tersebut? Berikut adalah alasan di balik munculnya praktik-praktik asing dalam ajaran Syiah.


1. Pelampiasan Dendam Sejarah dan Rasa Bersalah

Banyak ritual Syiah, terutama yang berkaitan dengan bulan Muharram (Asyura), berakar dari sejarah pengkhianatan nenek moyang mereka terhadap Sayyidina Husain bin Ali RA. Sejarah mencatat bahwa penduduk Kufah (Syiah Kufah) yang mengundang Husain, justru membiarkannya terkepung hingga syahid di Karbala.

Untuk menutupi rasa bersalah dan pengkhianatan tersebut, mereka menciptakan ritual meratap, memukul dada, hingga melukai diri sendiri dengan benda tajam (tatbir). Tindakan ini bukan bagian dari Islam, karena Rasulullah SAW secara tegas melarang ritual niyahah (meratap):

لَيْسَمِنَّامَنْضَرَبَالْخُدُودَ،وَشَقَّالْجُيُوبَ،وَدَعَابِدَعْوَىالْجَاهِلِيَّةِ

"Bukan termasuk golongan kami orang yang menampar-nampar pipi, merobek-robek baju, dan menyeru dengan seruan jahiliyah (meratap)." (HR. Bukhari).

2. Infiltrasi Budaya Majusi (Persia) dan Paganisme

Syiah berkembang pesat di wilayah bekas kekaisaran Persia. Banyak ritual mereka yang sebenarnya adalah serapan dari budaya Majusi kuno yang kemudian diberi label "Islam". Contohnya adalah pengagungan terhadap hari Nayrouz (tahun baru Persia) dan pembangunan tempat-tempat suci yang menyerupai kuil untuk memuja para Imam.

Ritual sujud di atas tanah Karbala (turbah) dan menganggap tanah tersebut memiliki kekuatan gaib adalah bentuk penyimpangan yang mendekati kesyirikan. Dalam Islam, seluruh bumi Allah adalah tempat sujud yang suci, dan tidak ada keutamaan khusus bagi tanah tertentu kecuali tanah di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha.

3. Upaya Membangun Identitas Kelompok yang Eksklusif

Ritual yang berbeda dan aneh sengaja diciptakan oleh para tokoh Syiah untuk membangun tembok pemisah antara pengikut mereka dengan umat Islam lainnya (Ahlussunnah). Dengan memiliki cara shalat, cara wudhu, dan peringatan-peringatan hari besar yang berbeda, mereka memastikan pengikutnya tetap berada dalam kungkungan sektarianisme.

Mereka menciptakan ritual seperti "Idul Ghadir" yang diklaim lebih mulia daripada Idul Fitri dan Idul Adha. Tujuannya jelas: untuk menanamkan dalam benak pengikutnya bahwa mereka memiliki "agama" yang berbeda dan lebih tinggi derajatnya daripada umat Islam secara umum.

4. Pengultusan Individu yang Melampaui Batas

Ritual-ritual Syiah banyak yang ditujukan untuk mengagungkan para Imam secara berlebihan (ghuluw). Ziarah ke makam-makam Imam sering kali dilakukan dengan cara-cara yang bertentangan dengan tauhid, seperti memohon doa langsung kepada penghuni kubur, mencium jeruji makam secara histeris, hingga thawaf di sekeliling kuburan.

Pemujaan ini adalah bentuk pengabaian terhadap perintah Allah untuk hanya menyembah dan memohon kepada-Nya:

وَأَنَّالْمَسَاجِدَلِلَّهِفَلَاتَدْعُوامَعَاللَّهِأَحَدًا

"Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah." (QS. Al-Jin: 18).


Dampak Ritual Asing Syiah bagi Umat Islam

Munculnya ritual-ritual yang tidak ada dasarnya dalam Islam ini membawa dampak buruk:

  • Mencitrakan Islam sebagai Agama yang Kejam: Ritual berdarah pada hari Asyura sering kali digunakan media barat untuk menstigma Islam sebagai agama yang irasional dan penuh kekerasan.

  • Merusak Akidah Tauhid: Mengalihkan ketergantungan hamba dari Allah kepada perantara (imam/makam).

  • Membuang Waktu dan Harta: Banyak energi umat habis untuk ritual meratap dan seremoni yang tidak membawa perbaikan akhlak maupun kesejahteraan.

Langkah Antisipasi bagi Muslim Indonesia

  1. Berpegang Teguh pada Sunnah: Setiap kali melihat ritual baru, tanyakan: "Apakah Rasulullah dan para sahabat pernah melakukannya?" Jika tidak, maka tinggalkanlah.

  2. Pahami Makna Bid'ah: Sadarilah bahwa menambah-nambah ritual dalam agama adalah perbuatan yang tertolak.

  3. Waspadai Jargon "Seni Budaya": Syiah sering membungkus ritual mereka sebagai kegiatan seni atau budaya untuk menghindari kecurigaan umat Islam.

Kesimpulan

Ritual-ritual aneh dalam ajaran Syiah bukanlah bagian dari Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Praktik tersebut lahir dari dendam sejarah, asimilasi budaya pra-Islam, dan ambisi untuk menciptakan sekte yang eksklusif. Sebagai Muslim yang mencintai kesucian agama, kita harus menolak segala bentuk ritual yang merusak akidah tauhid dan merusak kemuliaan syariat Islam. Islam adalah agama yang memudahkan, bukan agama yang menyiksa diri atau memuja makhluk.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: