Syiahindonesia.com - Dalam bangunan akidah Islam, konsep iman dan kufur adalah batasan paling dasar yang menentukan status seseorang di hadapan Allah SWT. Namun, terdapat perbedaan yang sangat kontras antara pemahaman Ahlussunnah wal Jama'ah (Islam yang murni) dengan ajaran Syiah dalam mendefinisikan siapa yang disebut mukmin dan siapa yang dianggap kafir. Perbedaan ini bukan sekadar masalah istilah, melainkan menyentuh akar rukun iman yang paling prinsipil. Artikel ini akan membedah bagaimana Syiah telah menggeser standar keimanan demi kepentingan doktrin Imamah mereka.
1. Standar Keimanan: Antara Tauhid dan Imamah
Bagi Ahlussunnah, rukun iman telah baku sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam Hadits Jibril, yaitu iman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Akhir, dan Takdir. Seseorang menjadi mukmin jika meyakini poin-poin tersebut.
Penyimpangan Syiah: Syiah menambahkan "Imamah" (keyakinan pada 12 Imam yang maksum) sebagai rukun iman yang paling utama. Dalam banyak literatur mereka, disebutkan bahwa iman seseorang tidak akan diterima oleh Allah meskipun ia ahli ibadah, jika ia tidak meyakini kepemimpinan 12 imam.
Allah SWT berfirman mengenai batasan iman:
وَمَن يَكْفُرْ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۢا بَعِيدًا
"...Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya." (QS. An-Nisa: 136)
Ayat ini tidak menyebutkan "Imamah" sebagai syarat keimanan. Dengan menambah rukun baru, Syiah telah menciptakan standar keselamatan sendiri yang tidak memiliki dasar dalam Al-Qur'an.
2. Konsep Kufur: Mengafirkan Mayoritas Umat Islam
Perbedaan yang paling berbahaya terletak pada siapa yang mereka anggap kafir. Karena Syiah menjadikan Imamah sebagai rukun iman, maka konsekuensinya adalah:
Mengafirkan Sahabat Nabi: Syiah meyakini mayoritas Sahabat Nabi (termasuk Abu Bakar, Umar, dan Utsman) telah kafir atau murtad karena tidak menyerahkan kepemimpinan kepada Ali bin Abi Thalib setelah Nabi wafat.
Mengafirkan Kaum Muslimin (Sunni): Banyak ulama Syiah garis keras menyatakan bahwa orang-orang yang menolak Imamah adalah "Kafir di akhirat" meskipun di dunia diperlakukan sebagai Muslim.
Ahlussunnah sangat berhati-hati dalam masalah takfir (pengafiran). Seseorang tidak boleh dikafirkan selama ia masih mengakui dua kalimat syahadat dan tidak melakukan pembatalan iman yang disepakati. Mengafirkan orang-orang yang telah dijamin surga oleh Allah (para Sahabat) adalah bentuk kesesatan nyata.
3. Posisi Amal dalam Keimanan
Dalam akidah Islam, amal shalih adalah buah dari iman. Namun, Syiah memanipulasi posisi amal dengan doktrin Wilayah.
Ahlussunnah: Meyakini bahwa pelaku dosa besar selama masih bertauhid tetaplah Muslim (tidak kafir) dan urusannya kembali kepada Allah.
Syiah: Menempatkan "Cinta kepada Imam" di atas segalanya. Sebaliknya, sebesar apa pun amal shalih seseorang (shalat, zakat, jihad), jika ia membenci atau tidak mengakui imamah, maka seluruh amalnya dianggap gugur dan ia kekal di neraka.
Janji keselamatan Syiah bukan lagi berdasarkan ketakwaan kepada Allah, melainkan berdasarkan loyalitas fanatik kepada individu-individu tertentu.
4. Pengaruh "Taqiyah" dalam Menyembunyikan Kekufuran
Satu hal yang unik dalam konsep iman Syiah adalah Taqiyah (berpura-pura). Syiah meyakini bahwa seorang mukmin (versi mereka) boleh bahkan wajib menampakkan kata-kata atau perbuatan kufur di hadapan kaum Sunni demi keamanan mazhabnya.
Hal ini merusak definisi iman yang seharusnya merupakan kesesuaian antara lisan, hati, dan perbuatan. Dengan Taqiyah, keimanan dalam Syiah menjadi sesuatu yang penuh kepura-puraan dan manipulasi, yang justru mendekati sifat kemunafikan dalam pandangan Islam.
5. Dampak Psikologis dan Sosial
Konsep iman dan kufur versi Syiah menciptakan mentalitas eksklusif dan penuh kebencian. Mereka memandang dunia ini terbagi menjadi dua: "Pengikut Ahlul Bait" (Syiah) yang mukmin dan "Musuh Ahlul Bait" (seluruh umat Islam selain mereka) yang kafir atau menyimpang.
Paham Takfiri (mudah mengafirkan) yang tersembunyi di balik doktrin Imamah ini adalah akar dari berbagai konflik sektarian di dunia Islam. Islam mengajarkan persaudaraan berdasarkan tauhid, sementara Syiah memutus persaudaraan tersebut berdasarkan sikap terhadap para imam.
Kesimpulan
Perbedaan konsep iman dan kufur antara Islam dan Syiah adalah jurang yang sangat dalam. Syiah telah merombak kriteria keimanan dengan memasukkan unsur pemujaan manusia (Imamah) dan mempermudah pengafiran terhadap para Sahabat serta mayoritas umat Islam.
Umat Islam di Indonesia harus tetap berpegang teguh pada akidah Ahlussunnah yang moderat dan selamat. Keimanan kita didasarkan pada ketundukan mutlak kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan pada doktrin kebencian yang mengafirkan generasi terbaik Islam. Waspadalah terhadap upaya penyusupan paham yang merusak batasan iman dan kufur yang telah ditetapkan Allah dalam kitab-Nya.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: