Syiahindonesia.com - Persaudaraan Islam atau Ukhuwah Islamiyah adalah pengikat hati yang menyatukan seluruh Muslim di bawah panji Tauhid, tanpa memandang suku, bangsa, maupun bahasa. Allah SWT berfirman bahwa "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara" (QS. Al-Hujurat: 10). Namun, dalam realitas sejarah dan doktrin, ajaran Syiah justru menjadi duri dalam daging yang secara sistematis merusak persatuan ini. Meskipun mereka sering mengampanyekan slogan "Persatuan Islam" sebagai bagian dari taktik Taqiyyah, hakikat ajaran mereka justru membangun tembok permusuhan yang sangat tebal. Syiah menghancurkan Ukhuwah Islamiyah dengan menggantinya dengan fanatisme sektarian yang berlandaskan dendam masa lalu dan pengkafiran terhadap mayoritas umat Islam.
1. Doktrin Pengkafiran Mayoritas Umat Islam (Takfiri)
Salah satu alasan utama mengapa Syiah merusak Ukhuwah Islamiyah adalah keyakinan mereka bahwa keislaman seseorang tidak sah tanpa mengimani kepemimpinan 12 Imam mereka. Dalam kitab-kitab rujukan utama Syiah, disebutkan bahwa siapa pun yang mendahulukan Abu Bakar, Umar, dan Utsman daripada Ali bin Abi Thalib, maka ia dianggap telah murtad atau keluar dari iman yang benar.
Bagaimana mungkin persaudaraan sejati terjalin jika sebuah kelompok menganggap mayoritas umat Islam dunia (Ahlus Sunnah) sebagai penghuni neraka dan "perampas hak" Imam? Sikap Takfiri (mudah mengkafirkan) ini adalah akar dari segala perpecahan yang menghancurkan tubuh umat Islam dari dalam.
2. Mencaci dan Melaknat Pilar-Pilar Islam (Sahabat Nabi)
Persatuan umat Islam dibangun di atas rasa hormat kepada generasi awal, yaitu para sahabat Nabi ﷺ. Namun, Syiah menjadikan ritual melaknat sahabat (Tabarra) sebagai bagian dari ibadah mereka. Mereka secara keji menghina Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Ibunda Aisyah radhiyallahu 'anha.
Penghinaan terhadap sosok-sosok yang sangat dicintai oleh kaum Sunni ini adalah provokasi yang sengaja diciptakan untuk memancing konflik horizontal. Tidak akan pernah ada Ukhuwah selama satu kelompok merasa berhak menistakan manusia-manusia terbaik yang telah dipuji oleh Allah di dalam Al-Qur'an.
3. Memanfaatkan Slogan Persatuan untuk Kepentingan Geopolitik
Syiah sering kali mengadakan konferensi "Persatuan Islam" secara internasional. Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal yang kontradiktif. Di negara-negara di mana mereka memiliki kekuatan politik, kelompok Sunni justru sering kali mengalami penindasan dan diskriminasi.
Slogan persatuan ini hanyalah alat politik untuk meredam kewaspadaan umat Islam Sunni. Mereka ingin kita "bersatu" dalam artian kita harus diam saat mereka menyebarkan ajaran yang merusak akidah, sementara mereka tetap setia pada agenda untuk men-Syiahkan dunia Islam. Ini adalah persatuan semu yang hanya menguntungkan agenda ekspansi ideologi mereka.
4. Membangun Loyalitas Ganda (Wilayatul Faqih)
Dalam Islam yang murni, loyalitas seorang Muslim adalah kepada Allah, Rasul, dan pemimpin di negaranya masing-masing selama tidak diperintah bermaksiat. Namun, doktrin Wilayatul Faqih menuntut penganut Syiah di seluruh dunia untuk memberikan kepatuhan mutlak kepada pemimpin tertinggi (Rahbar) di Iran.
Hal ini menghancurkan Ukhuwah Islamiyah dalam konteks bernegara. Penganut Syiah cenderung menjadi "negara dalam negara" yang instruksi politiknya berasal dari luar negeri. Loyalitas yang terbelah ini menciptakan kecurigaan dan disintegrasi sosial di tengah masyarakat Muslim yang awalnya harmonis.
5. Eksklusivisme dalam Ibadah dan Ritual
Syiah menciptakan pemisahan dalam hal ibadah yang sangat mencolok. Mereka memiliki tempat ibadah sendiri (Huseiniyah) yang eksklusif, cara shalat yang berbeda, dan hari-hari besar yang fokus pada ratapan kesedihan sektarian. Eksklusivisme ini menutup pintu interaksi alami antarmuslim di masjid-masjid umum.
Mereka lebih mementingkan ritual-ritual yang memuja Imam daripada ritual yang mempersatukan umat secara umum. Dengan menciptakan identitas yang sangat berbeda dan eksklusif, mereka secara sadar telah menarik diri dari barisan besar umat Islam dan membangun faksi sendiri yang penuh dengan bibit perpecahan.
6. Dampak bagi Kedamaian di Indonesia
Di Indonesia, infiltrasi paham Syiah telah terbukti menimbulkan gesekan di berbagai daerah yang sebelumnya tenang. Mengapa hal ini terjadi?
Provokasi Akidah: Munculnya keberanian mereka untuk menghina sahabat di forum-forum tertutup maupun terbuka.
Agitasi Politik: Membawa konflik Timur Tengah ke dalam negeri melalui narasi-narasi provokatif.
Krisis Kepercayaan: Penggunaan Taqiyyah membuat masyarakat Sunni merasa dikhianati karena apa yang mereka bicarakan di depan berbeda dengan apa yang mereka yakini di dalam kitabnya.
Kesimpulan
Syiah menghancurkan Ukhuwah Islamiyah karena pondasi ajaran mereka memang dibangun di atas "pemisahan" antara pengikut Imam dan penentangnya (yang mereka cap sebagai pengikut penguasa zalim). Persaudaraan dalam Islam menuntut kejujuran, kasih sayang sesama mukmin, dan penghormatan kepada para sahabat Nabi. Selama Syiah tetap mengkafirkan mayoritas Muslim dan melaknat para pahlawan Islam, maka slogan persatuan yang mereka teriakkan hanyalah kepalsuan belaka. Sebagai umat Islam yang lurus, tugas kita adalah menjaga persatuan di atas kebenaran Al-Qur'an dan Sunnah, serta waspada terhadap segala upaya yang ingin merobek ukhuwah kita demi kepentingan sektarian yang sempit.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: