Breaking News
Loading...

Bagaimana Syiah Menyelewengkan Makna Sunnah Nabi?

Syiahindonesia.com - Dalam terminologi Islam yang murni, Sunnah adalah segala sesuatu yang bersumber dari Rasulullah SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan yang menjadi sumber hukum kedua setelah Al-Quran. Ahlus Sunnah wal Jamaah menjaga kemurnian Sunnah ini melalui rantai transmisi (sanad) yang ketat dari para Sahabat Nabi. Namun, kelompok Syiah telah melakukan penyelewengan makna dan esensi Sunnah secara fundamental. Bagi mereka, Sunnah bukan lagi eksklusif milik Nabi SAW, melainkan diperluas hingga mencakup perkataan dan perbuatan para Imam mereka. Penyelewengan ini bukan sekadar masalah istilah, melainkan upaya sistematis untuk mengganti otoritas kenabian dengan otoritas para Imam yang mereka kultuskan.


1. Perluasan Makna Sunnah: Menyamakan Imam dengan Nabi

Penyelewengan pertama yang paling fatal adalah klaim Syiah bahwa perkataan, perbuatan, dan ketetapan 12 Imam mereka berkedudukan sama dengan Sunnah Rasulullah SAW. Dalam teologi Syiah, para Imam dianggap maksum (suci dari dosa dan kesalahan) dan memiliki otoritas tasyri' (penetapan hukum).

Akibatnya, apa pun yang keluar dari lisan Imam mereka dianggap sebagai wahyu yang wajib diikuti. Ini adalah bentuk penyelewengan nyata terhadap kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para Nabi. Jika perkataan Imam dianggap setara dengan Sunnah Nabi, maka secara praktis mereka telah menganggap ada "nabi-nabi baru" setelah Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman:

مَاكَانَمُحَمَّدٌأَبَاأَحَدٍمِنْرِجَالِكُمْوَلَكِنْرَسُولَاللَّهِوَخَاتَمَالنَّبِيِّينَ

"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi." (QS. Al-Ahzab: 40).

2. Memutus Sanad Sunnah dengan Mengafirkan Sahabat

Sunnah Nabi mustahil sampai kepada kita tanpa melalui perantara para Sahabat. Namun, Syiah menyelewengkan Sunnah dengan cara menghancurkan jalurnya. Mereka mengklaim bahwa mayoritas Sahabat Nabi telah murtad atau berkhianat setelah wafatnya Rasulullah SAW.

Dengan mengafirkan para perawi utama seperti Abu Hurairah, Sayyidah Aisyah, dan Umar bin Khattab, Syiah secara otomatis membuang ribuan hadits shahih yang menjadi fondasi hukum Islam. Sebagai gantinya, mereka menciptakan "Sunnah versi mereka sendiri" yang hanya bersumber dari jalur keluarga tertentu yang telah mereka distorsi riwayatnya. Tanpa Sahabat, Sunnah yang mereka klaim adalah Sunnah yang terputus dan tidak memiliki validitas ilmiah.


3. Penggunaan Taqiyyah sebagai Alat Manipulasi Sunnah

Syiah menyelewengkan Sunnah dengan memasukkan unsur kedustaan melalui doktrin Taqiyyah. Mereka meyakini bahwa seorang Imam boleh mengatakan sesuatu yang berbeda dari kebenaran demi keamanan atau strategi. Hal ini berdampak pada literatur hadits mereka yang penuh dengan pertentangan (kontradiksi).

Ketika ditemukan dua riwayat dari Imam yang saling bertentangan, ulama Syiah sering berdalih bahwa salah satunya adalah Taqiyyah. Hal ini merusak integritas Sunnah sebagai pedoman yang pasti. Rasulullah SAW bersabda:

عَلَيْكُمْبِالصِّدْقِفَإِنَّالصِّدْقَيَهْدِيإِلَىالْبِرِّ

"Hendaklah kalian jujur, karena kejujuran itu membimbing kepada kebaikan." (HR. Muslim).

Menjadikan dusta (Taqiyyah) sebagai bagian dari agama adalah penyelewengan moral tertinggi yang menghancurkan kepercayaan umat terhadap keaslian ajaran Nabi yang mereka riwayatkan.

4. Mengganti Sunnah dengan Tradisi Bid'ah dan Ratapan

Dalam tataran praktis, Syiah menyelewengkan makna Sunnah dengan mengutamakan tradisi-tradisi buatan yang tidak pernah dicontohkan Nabi SAW. Mereka lebih mengagungkan ritual meratapi kematian Husain (Asyura) dengan menyiksa diri daripada menjalankan Sunnah-Sunnah ibadah yang shahih.

Mereka juga menghidupkan kembali praktik Nikah Mut'ah (kawin kontrak) yang jelas-jelas telah diharamkan oleh Rasulullah SAW hingga hari kiamat. Dengan dalih menjalankan "Sunnah Imam", mereka menghalalkan apa yang diharamkan Nabi, yang pada hakikatnya adalah pelecehan terhadap syariat Islam. Setiap bid'ah yang mereka ciptakan selalu diklaim sebagai bagian dari "Sunnah Ahli Bait", padahal Ahli Bait berlepas diri dari semua penyimpangan tersebut.


5. Dampak Penyelewengan Sunnah bagi Umat Islam Indonesia

Di Indonesia, upaya penyelewengan ini dilakukan dengan sangat halus. Mereka sering menggunakan istilah-istilah yang akrab di telinga masyarakat Sunni untuk menyisipkan pemahaman Syiah.

  • Tafsir Liar: Menafsirkan Sunnah hanya dari kacamata emosional terhadap keluarga Nabi.

  • Merusak Wibawa Ulama: Mengajak umat untuk meninggalkan hadits-hadits shahih (Bukhari-Muslim) dan beralih kepada kitab-kitab penuh khurafat seperti Al-Kafi.

  • Disintegrasi Ibadah: Perbedaan tata cara shalat, puasa, dan haji yang sengaja diciptakan untuk memisahkan diri dari jamaah kaum Muslimin (Ahlus Sunnah).


Kesimpulan

Syiah tidak hanya sekadar berbeda pendapat dalam masalah furu' (cabang), tetapi mereka telah menyelewengkan makna Sunnah itu sendiri. Dengan menyamakan kedudukan Imam dengan Nabi, mengafirkan para Sahabat perawi hadits, dan melegalkan kedustaan melalui Taqiyyah, mereka telah membangun agama baru di atas puing-puing Sunnah yang mereka hancurkan.

Bagi kita, Sunnah adalah apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dan dipelihara oleh para Sahabatnya yang mulia. Menjaga kemurnian Sunnah dari penyelewengan Syiah adalah kewajiban setiap Muslim demi menjaga keselamatan akidah dan tegaknya syariat Islam di bumi Nusantara.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: