Breaking News
Loading...

Syiah dan Upaya Mereka Menjauhkan Umat Islam dari Al-Qur’an

Syiahindonesia.com - Al-Qur’an adalah Hablullah (tali Allah) yang menjadi satu-satunya jaminan agar umat Islam tidak tersesat. Namun, dalam catatan sejarah dan literatur klasik mereka, kelompok Syiah Rafidhah memiliki agenda terselubung untuk melemahkan ikatan umat dengan kitab sucinya. Upaya menjauhkan umat dari Al-Qur’an ini dilakukan bukan dengan melarang membacanya secara fisik, melainkan dengan merusak kepercayaan umat terhadap keaslian teksnya dan membatasi pemahamannya hanya melalui otoritas para Imam mereka. Di Indonesia, pola ini masuk melalui narasi-narasi yang meragukan kredibilitas para sahabat sebagai pengumpul wahyu. Memahami strategi ini sangat penting untuk menjaga integritas Al-Qur’an sebagai pedoman hidup tertinggi.


1. Menanamkan Syubhat Terhadap Keaslian Mushaf Utsmani

Strategi pertama dan yang paling berbahaya adalah upaya menanamkan keraguan (syubhat) bahwa Al-Qur’an yang ada di tangan umat Islam saat ini tidaklah lengkap. Dalam kitab-kitab induk Syiah seperti Al-Kafi dan Fashlul Khitab, ditegaskan klaim bahwa para sahabat telah melakukan tahrif (pengubahan) dengan menghapus ayat-ayat yang berkaitan dengan keutamaan Ali bin Abi Thalib.

Jika seorang Muslim mulai ragu akan keaslian satu huruf saja dalam Al-Qur'an, maka kewibawaan seluruh isi kitab tersebut akan runtuh. Inilah cara Syiah menjauhkan umat: membuat mereka merasa bahwa "Al-Qur'an yang asli" sedang disembunyikan oleh Imam Mahdi mereka, sehingga Al-Qur'an yang ada sekarang dianggap sebagai "produk politik" para sahabat.

2. Membatasi Pemahaman Hanya Lewat "Otoritas Imam"

Syiah mendoktrinkan bahwa Al-Qur'an adalah "benda mati" (Ash-Shamit) yang tidak bisa memberikan petunjuk kecuali melalui "Imam yang berbicara" (An-Nathiq). Mereka melarang umat untuk memahami Al-Qur'an secara langsung melalui kaidah bahasa Arab dan tafsir para ulama salaf.

Dengan doktrin ini, umat Islam dijauhkan dari fungsi Al-Qur'an sebagai Huda (petunjuk) bagi setiap mukmin. Mereka dipaksa bergantung sepenuhnya pada penafsiran batiniah para mullah yang sering kali justru bertentangan dengan makna eksplisit ayat. Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْيَسَّرْنَاالْقُرْآنَلِلذِّكْرِفَهَلْمِنْمُدَّكِرٍ

"Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?" (QS. Al-Qamar: 17).

Klaim Syiah bahwa Al-Qur'an sulit dipahami tanpa Imam adalah upaya nyata untuk menjauhkan umat dari kemudahan petunjuk Allah.

3. Mengganti Interaksi Al-Qur'an dengan Ritual Meratap

Dalam banyak komunitas Syiah, porsi interaksi dengan Al-Qur'an (membaca, menghafal, dan tadabbur) sering kali tergeser oleh ritual-ritual peratapan sejarah, seperti duka cita Asyura atau pembacaan doa-doa karangan para imam mereka yang sangat panjang.

Mereka lebih menekankan pengikutnya untuk menangisi tragedi masa lalu daripada merenungi pesan-pesan tauhid dalam Al-Qur'an. Pola pengalihan perhatian ini secara perlahan membuat Al-Qur'an hanya menjadi "hiasan" atau sekadar bacaan ritual tanpa pengaruh terhadap perbaikan akidah dan akhlak yang sesuai sunnah.

4. Mendelegitimasi Para Penjaga Wahyu (Sahabat)

Al-Qur'an sampai kepada kita melalui jalur riwayat mutawatir dari para sahabat Nabi. Syiah menjauhkan umat dari Al-Qur'an dengan cara mencaci-maki para sahabat tersebut. Logikanya sederhana namun mematikan: jika pembawa berita (sahabat) dicitrakan sebagai pengkhianat dan murtad, maka secara otomatis berita yang mereka bawa (Al-Qur'an) akan dipandang curiga.

Penyerangan terhadap Abu Bakar, Umar, dan Utsman adalah serangan tidak langsung terhadap Al-Qur'an. Tanpa kepercayaan kepada integritas generasi sahabat, umat Islam akan kehilangan sandaran sejarah terhadap kebenaran wahyu yang mereka baca setiap hari.


Cara Mengantisipasi Upaya Penyesatan Ini

Untuk membentengi umat Islam di Indonesia dari upaya penjauhan Al-Qur'an ini, perlu dilakukan langkah-langkah berikut:

  • Meningkatkan Gerakan Literasi Al-Qur'an: Bukan hanya sekadar membaca, tapi memahami tafsir yang lurus (seperti Tafsir Ibnu Katsir) yang menghubungkan ayat dengan hadits-hadits shahih.

  • Meneguhkan Akidah Penjagaan Al-Qur'an: Menyakini sepenuhnya Surah Al-Hijr ayat 9 bahwa Allah sendiri yang menjamin keaslian Al-Qur'an, sehingga klaim tahrif dari pihak mana pun adalah batil.

  • Membela Kehormatan Sahabat: Menjelaskan kepada umat bahwa para sahabat adalah orang-orang yang paling jujur dan paling besar jasanya dalam menjaga kemurnian wahyu Allah.

Kesimpulan

Upaya Syiah menjauhkan umat dari Al-Qur’an dilakukan dengan cara yang halus namun sistematis; melalui keraguan sejarah, pembatasan tafsir, dan pengalihan emosi. Al-Qur’an adalah sumber kekuatan umat Islam; jika umat dijauhkan dari sumber ini, maka mereka akan mudah diombang-ambingkan oleh khurafat dan pengultusan individu. Mari kita kembali kepada Al-Qur'an dengan pemahaman para sahabat, karena hanya dengan cara itulah kita bisa terbebas dari jeratan kesesatan kelompok Rafidhah.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: