Breaking News
Loading...

Kesalahan Fatal Syiah dalam Memahami Tauhid

Syiahindonesia.com - Tauhid adalah pondasi paling utama dalam Islam. Ia adalah garis pemisah antara keimanan dan kekufuran, serta kunci keselamatan seorang hamba di akhirat kelak. Namun, dalam ajaran Syiah, konsep Tauhid telah mengalami pergeseran yang sangat fatal akibat masuknya doktrin pengultusan manusia yang berlebihan. Mereka mencampuradukkan hak-hak prerogatif Allah SWT dengan kedudukan para imam, sehingga esensi dari Laa Ilaha Illallah menjadi kabur. Artikel ini akan membedah secara mendalam bagaimana Syiah telah menyimpang dari kemurnian Tauhid dan jatuh ke dalam jurang kesyirikan yang nyata menurut timbangan Al-Qur'an dan Sunnah.


1. Syirik dalam Rububiyah: Menyerahkan Kendali Alam kepada Imam

Dalam akidah Ahlussunnah wal Jama'ah, kita meyakini bahwa hanya Allah yang mengatur alam semesta, menghidupkan, mematikan, serta memberi rezeki. Namun, Syiah memberikan otoritas ini kepada para imam mereka melalui doktrin Wilayah Takwiniyah. Mereka meyakini bahwa atom-atom di alam semesta ini tunduk di bawah perintah para imam.

Allah SWT membantah paham ini dalam firman-Nya:

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

"Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam." (QS. Al-A'raf: 54)

Memberikan hak "memerintah alam" kepada selain Allah, meskipun itu kepada seorang imam, adalah bentuk kesyirikan dalam Rububiyah yang sangat fatal. Hal ini mengubah posisi imam dari sekadar manusia menjadi sosok setengah tuhan yang memegang kendali nasib makhluk.

2. Syirik dalam Uluhiyah: Istighatsah kepada Selain Allah

Salah satu pemandangan yang umum dalam ritual Syiah adalah seruan-seruan seperti "Ya Ali Madad" (Wahai Ali, tolonglah aku) atau "Ya Husain". Mereka memohon pertolongan, perlindungan, dan kesembuhan kepada para imam yang telah wafat. Dalam Islam, memohon perkara yang hanya mampu dikabulkan oleh Allah kepada makhluk (terutama yang sudah mati) adalah syirik akbar.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

"Dan janganlah kamu memohon kepada selain Allah, yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim (musyrik)." (QS. Yunus: 106)

Ibadah adalah hak murni Allah. Syiah telah merusak Uluhiyah dengan menjadikan para imam sebagai perantara (wasilah) yang wajib diseru, padahal Allah memerintahkan kita untuk langsung berdoa kepada-Nya tanpa perantara manusia.


3. Syirik dalam Asma' wa Shifat: Mengklaim Pengetahuan Ghaib Mutlak

Kesalahan fatal lainnya adalah memberikan sifat-sifat khusus Allah kepada para imam. Syiah meyakini bahwa para imam mengetahui kapan mereka akan mati dan mereka tidak mati kecuali atas pilihan mereka sendiri. Mereka juga mengklaim imam mengetahui segala hal ghaib di langit dan di bumi.

Al-Qur'an dengan tegas mematahkan klaim tersebut:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ

"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri..." (QS. Al-An'am: 59)

Memberikan sifat Alimul Ghaib (Maha Mengetahui Hal Ghaib) kepada manusia adalah bentuk pelecehan terhadap kesempurnaan Allah. Rasulullah SAW saja tidak mengetahui hal ghaib kecuali apa yang diberitahukan oleh wahyu, lantas bagaimana mungkin seorang imam bisa diklaim memiliki pengetahuan yang melampaui Nabi?

4. Ghuluw (Berlebih-lebihan) yang Mengarah pada Kultus

Syiah menempatkan imam mereka pada kedudukan yang lebih tinggi dari para Malaikat dan para Nabi. Mereka meyakini imam bersifat maksum dan suci dari segala noda. Sifat Ishmah (kema'shuman) yang mereka berikan kepada imam seringkali melampaui porsi kemanusiaan.

Rasulullah SAW telah memperingatkan umatnya:

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

"Jauhilah oleh kalian sikap berlebih-lebihan (ghuluw) dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena sikap berlebih-lebihan dalam agama." (HR. An-Nasa'i & Ibnu Majah)

Sikap ghuluw Syiah inilah yang menjadi akar penyebab rusaknya Tauhid mereka. Karena terlalu mengagungkan sosok manusia, mereka akhirnya terjatuh pada praktik memuja kuburan, menganggap tanah tertentu suci secara berlebihan, hingga melakukan ritual penyiksaan diri yang jauh dari syariat Islam.


5. Menjadikan Imam sebagai Penentu Surga dan Neraka

Dalam banyak riwayat dalam kitab-kitab mereka, disebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah pembagi surga dan neraka. Keyakinan ini sangat berbahaya karena otoritas menghakimi hamba dan menentukan nasib di akhirat adalah hak mutlak Allah SWT sebagai Maaliki Yaumiddin (Pemilik Hari Pembalasan).

Barangsiapa meyakini ada makhluk yang menentukan masuknya seseorang ke surga atau neraka, maka ia telah meruntuhkan pondasi Tauhidnya dan membangun tuhan-tuhan baru selain Allah.


Kesimpulan

Kesalahan Syiah dalam memahami Tauhid bukanlah masalah sepele. Dengan menyisipkan otoritas ketuhanan pada sosok imam, mereka telah merusak esensi penghambaan hanya kepada Allah. Tauhid yang seharusnya memerdekakan manusia dari penghambaan kepada makhluk, justru oleh Syiah dijadikan alat untuk membelenggu umat dalam kultus individu yang menyesatkan.

Bagi umat Islam di Indonesia, menjaga kemurnian Tauhid adalah harga mati. Kita harus berani menolak segala bentuk paham yang mencampuradukkan kemuliaan Pencipta dengan keterbatasan makhluk. Mari kita pegang teguh kalimat Tauhid yang murni, tanpa tambahan doktrin Imamah yang merusak kemurnian iman. Hanya kepada Allah kita menyembah, dan hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: