Breaking News
Loading...

Benarkah Syiah Menganggap Imam Mereka Lebih Mulia dari Rasulullah?

Syiahindonesia.com - Dalam kajian mengenai penyimpangan akidah, salah satu isu yang paling krusial dan seringkali mengejutkan umat Islam adalah kedudukan para Imam dalam teologi Syiah. Muncul pertanyaan besar: Apakah benar Syiah menempatkan para Imam mereka di atas kedudukan para Nabi, bahkan lebih mulia dari Rasulullah SAW? Meskipun dalam praktik Taqiyah mereka sering kali tampak menyetarakan diri dengan umat Islam lainnya, namun kitab-kitab rujukan utama (Al-Kutub al-Arba'ah) dan pernyataan tokoh-tokoh besar mereka menyingkap fakta yang sangat mengkhawatirkan. Artikel ini akan membedah bagaimana doktrin Syiah sebenarnya memberikan derajat ketuhanan dan kenabian yang melampaui batas kepada para Imam mereka.


1. Doktrin Imamah yang Melampaui Derajat Kenabian

Dalam akidah Ahlussunnah wal Jama'ah, Rasulullah SAW adalah manusia paling mulia dan penutup para Nabi (Khatamun Nabiyyin). Tidak ada manusia setelah beliau yang bisa menyamai, apalagi melebihi derajat beliau. Namun, tokoh besar Syiah kontemporer, Khomeini, dalam kitabnya Al-Hukumatul Islamiyyah, secara terang-terangan menyatakan:

"Sesungguhnya bagi Imam-imam kita terdapat kedudukan yang tidak dapat dicapai oleh malaikat muqarrabin maupun Nabi yang diutus."

Pernyataan ini adalah bukti otentik bahwa dalam hierarki spiritual Syiah, Imam memiliki maqam yang lebih tinggi daripada para Nabi Utusan Allah (Ulul Azmi). Menempatkan makhluk di atas derajat para Nabi adalah bentuk Ghuluw (ekstremisme) yang sangat berbahaya dan merusak tatanan akidah Islam.

2. Hak Prerogatif Tuhan yang Diberikan kepada Imam

Kesalahan fatal lainnya adalah atribusi sifat-sifat ketuhanan kepada para Imam. Dalam kitab Al-Kafi karya Al-Kulaini, terdapat bab khusus yang berjudul "Para Imam mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi mereka."

Padahal, Al-Qur'an secara tegas menyatakan bahwa hanya Allah yang mengetahui hal ghaib secara mutlak:

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلأَرْضِ ٱلْغَيْبَ إِلَّا ٱللَّهُ

"Katakanlah: 'Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah'." (QS. An-Naml: 65)

Dengan mengklaim para Imam mengetahui segala sesuatu (masa lalu, sekarang, dan masa depan), Syiah secara tidak langsung menganggap Imam mereka lebih hebat dalam hal pengetahuan ghaib dibandingkan Rasulullah SAW, yang dalam Al-Qur'an sendiri diperintahkan Allah untuk mengakui bahwa beliau tidak mengetahui hal ghaib kecuali apa yang diwahyukan.


3. Otoritas Menghapus dan Mengubah Syariat

Ahlussunnah meyakini bahwa syariat telah sempurna dengan wafatnya Nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman:

ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي

"...Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku..." (QS. Al-Ma'idah: 3)

Penyimpangan Syiah: Mereka meyakini bahwa para Imam memiliki otoritas untuk menafsirkan, menambah, atau bahkan menganulir hukum tertentu. Contoh nyatanya adalah penghalalan Nikah Mut’ah yang telah diharamkan oleh Nabi SAW. Ketika perkataan seorang Imam bisa membatalkan sabda Rasulullah SAW, maka secara fungsional, kedudukan Imam tersebut telah diletakkan di atas kedudukan Rasulullah SAW. Ini adalah bentuk dekonstruksi syariat yang sangat nyata.

4. Pemujaan dan Istighatsah kepada Imam

Dalam praktik ibadah harian, pengikut Syiah seringkali lebih banyak menyerukan nama para Imam daripada nama Allah. Seruan seperti "Ya Ali Madad" atau "Ya Husain" saat mengalami kesulitan menunjukkan bahwa mereka bergantung pada kekuatan para Imam.

Bagi mereka, para Imam adalah pemegang kendali alam semesta (Wilayah Takwiniyah). Keyakinan bahwa Imam mengatur titik-titik hujan, rezeki, dan ajal adalah keyakinan yang bahkan tidak pernah diberikan Allah kepada para Malaikat pemikul Arsy sekalipun. Dengan memberikan kendali alam kepada Imam, Syiah telah menciptakan sesembahan baru di samping Allah.


5. Merendahkan Kehormatan Rasulullah SAW Melalui Fitnah Istri

Secara logika, jika seseorang benar-benar memuliakan Rasulullah SAW, maka ia pasti akan memuliakan orang-orang yang paling dicintai oleh beliau, yaitu istri-istri beliau. Namun, Syiah justru mencaci-maki Ummul Mukminin Aisyah RA dan Hafshah RA dengan tuduhan-tuduhan keji.

Menghina istri Nabi adalah bentuk penghinaan tidak langsung kepada Nabi itu sendiri. Bagaimana mungkin seseorang mengaku mencintai Nabi namun menganggap istri-istri pilihan Nabi sebagai wanita yang buruk? Allah SWT telah menyucikan istri-istri Nabi dalam Al-Qur'an, dan membantah penyucian tersebut berarti menuduh Rasulullah SAW tidak mampu memilih pendamping yang baik, yang secara otomatis merendahkan kemuliaan beliau.


Kesimpulan

Berdasarkan fakta-fakta dari kitab primer mereka, tidak diragukan lagi bahwa secara doktrinal, Syiah menempatkan para Imam pada posisi yang melampaui batas kemanusiaan, bahkan melampaui kedudukan para Nabi dan Rasul. Pengultusan individu ini telah sampai pada tahap memberikan sifat-sifat ketuhanan dan otoritas kenabian kepada para Imam.

Umat Islam di Indonesia harus waspada terhadap narasi-narasi halus yang mencoba menyusupkan pemahaman ini. Kita harus tetap teguh pada akidah bahwa Nabi Muhammad SAW adalah manusia paling mulia yang tidak ada tandingannya, dan para sahabat serta istri beliau adalah orang-orang mulia yang wajib kita hormati. Menghormati Ahlul Bait adalah kewajiban, namun mengangkat mereka ke derajat ketuhanan atau kenabian adalah kesesatan yang nyata.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga hati kita dalam cahaya tauhid dan menjauhkan kita dari segala bentuk syirik dan bid’ah yang menyesatkan.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: