Syiahindonesia.com - Sejarah peradaban Islam tidak pernah lepas dari dinamika internal yang menguji ukhuwah dan kemurnian akidah. Namun, salah satu noktah paling kelam yang terus berulang adalah munculnya fitnah yang memecah belah persatuan umat. Dalam konteks ini, sejarah mencatat bahwa ideologi Syiah memiliki andil besar dalam memicu berbagai fitnah sistematis, mulai dari fitnah terhadap para sahabat Nabi, penghinaan terhadap istri-istri Rasulullah, hingga pengkhianatan terhadap kekhalifahan Islam yang sah. Memahami peran Syiah dalam menyebarkan fitnah bukan sekadar membuka luka lama, melainkan upaya preventif agar umat Islam di Indonesia tidak terjerumus dalam lubang kehancuran yang sama.
Akar Fitnah: Dari Abdullah bin Saba’ hingga Tragedi Karbala
Munculnya fitnah besar (al-Fitnatul Kubra) di masa sahabat tidak terjadi secara alami, melainkan melalui desain provokasi. Tokoh sentral yang sering dikaitkan dengan benih pemikiran Syiah adalah Abdullah bin Saba', seorang Yahudi dari Yaman yang pura-pura masuk Islam. Ia mulai menyebarkan doktrin Ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap Ali bin Abi Thalib dan mencaci maki khalifah sebelumnya.
Allah SWT telah memperingatkan bahaya fitnah dalam Al-Qur'an:
وَٱتَّقُوا۟ فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنكُمْ خَاصَّةً ۖ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ
"Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya." (QS. Al-Anfal: 25)
Kelompok Syiah memanfaatkan setiap momentum politik untuk menyisipkan narasi kebencian. Mereka memainkan emosi umat melalui tragedi Karbala, menjadikannya bahan bakar abadi untuk memusuhi mayoritas umat Islam (Ahlussunnah) dengan label "pengikut pembunuh Husain", padahal faktanya justru penduduk Kufah yang saat itu mengaku pengikut Syiah-lah yang mengkhianati Husain bin Ali.
Fitnah Terhadap Sahabat dan Istri Nabi
Salah satu bentuk fitnah paling keji yang diproduksi oleh ajaran Syiah adalah doktrin Tabarra'—yaitu berlepas diri dan melaknat para sahabat Nabi seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Mereka menyebut para sahabat terbaik ini sebagai perampas kekhalifahan.
Padahal, Allah SWT telah menyatakan ridha-Nya kepada para sahabat dalam Al-Qur'an:
لَّقَدْ رَضِيَ ٱللَّهُ عَنِ ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ ٱلشَّجَرَةِ
"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon..." (QS. Al-Fath: 18)
Mencaci mereka berarti mendustakan Al-Qur'an. Tidak berhenti di situ, fitnah juga diarahkan kepada Ummul Mukminin Aisyah RA. Meskipun Allah telah menyucikan nama beliau dalam Surat An-Nur, tokoh-tokoh Syiah tetap melancarkan tuduhan keji yang melukai hati Rasulullah SAW. Membenci orang yang dicintai Nabi adalah bentuk nyata penyebaran kebencian di tengah umat.
Strategi Taqiyah: Fitnah dalam Selimut
Salah satu instrumen paling efektif bagi Syiah dalam menyebarkan pengaruh dan fitnah di negara mayoritas Sunni seperti Indonesia adalah doktrin Taqiyah. Secara sederhana, Taqiyah adalah berbohong demi membela mazhab.
Dalam kitab Al-Kafi yang merupakan rujukan utama mereka, disebutkan: "Taqiyah adalah sembilan persepuluh dari agama." Dengan prinsip ini, mereka bisa mengaku sebagai bagian dari Sunni, mengajak pada "persatuan Islam" (Washatiyah), atau menggunakan istilah-istilah yang tampak moderat, padahal tujuan akhirnya adalah menanamkan keraguan terhadap akidah Ahlussunnah.
Rasulullah SAW bersabda mengenai sifat munafik yang merupakan akar dari kebohongan:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
"Tanda orang munafik itu ada tiga: apabila berbicara ia berbohong, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila dipercaya ia berkhianat." (HR. Bukhari & Muslim)
Taqiyah menciptakan suasana saling curiga di tengah masyarakat, karena tidak ada kejujuran dalam berdialog. Inilah yang menjadi bibit perpecahan di berbagai komunitas Muslim.
Pengkhianatan Terhadap Otoritas Islam
Sejarah menunjukkan bahwa kelompok Syiah seringkali bekerja sama dengan musuh-musuh Islam untuk menjatuhkan kekuasaan Sunni. Contoh yang paling nyata adalah peran Ibnu Al-Alqami (seorang menteri Syiah) yang mengkhianati Khalifah Abbasiyah dan membantu tentara Mongol pimpinan Hulagu Khan menghancurkan Baghdad.
Fitnah yang mereka sebarkan bukan hanya soal kata-kata, tapi juga tindakan politik yang melemahkan kekuatan Islam dari dalam. Di era modern, pola yang sama terulang melalui upaya ekspor revolusi yang seringkali memicu instabilitas di berbagai negara Timur Tengah, yang dampaknya kini coba dibawa ke wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Dampak Fitnah Syiah bagi Persatuan di Indonesia
Indonesia yang dikenal dengan keberagaman dan kedamaiannya kini mulai terancam oleh narasi-narasi provokatif yang dibawa oleh simpatisan Syiah. Dampak fitnah mereka meliputi:
Degradasi Penghormatan terhadap Ulama: Mereka seringkali menyerang karakter ulama-ulama besar Ahlussunnah dengan tuduhan "Wahabi" atau "Antek Barat" untuk menjauhkan umat dari bimbingan ulama yang lurus.
Kekacauan Sejarah: Melalui buku-buku dan seminar, mereka memutarbalikkan fakta sejarah Islam agar generasi muda meragukan kredibilitas periwayatan hadits yang dibawa oleh para sahabat.
Provokasi Konflik Horizontal: Dengan memainkan narasi "minoritas yang tertindas", mereka mencoba menarik simpati organisasi HAM internasional untuk menyudutkan umat Islam mayoritas di Indonesia.
Allah SWT mengingatkan betapa besarnya dosa fitnah:
وَٱلْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ ٱلْقَتْلِ
"...dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan." (QS. Al-Baqarah: 191)
Langkah Antisipasi bagi Umat Islam
Menghadapi masifnya penyebaran fitnah ini, umat Islam di Indonesia perlu melakukan langkah-langkah strategis:
Pendidikan Akidah yang Kokoh: Memperkuat pengajaran kitab-kitab Salafus Shalih di pesantren dan majelis taklim agar umat mengenal mana kebenaran dan mana penyimpangan.
Kewaspadaan Terhadap Literasi: Selektif dalam membaca buku dan mengikuti konten media sosial. Banyak akun-akun yang tampak islami namun menyisipkan pesan-pesan Syiah secara halus.
Menjaga Persatuan Ahlussunnah: Fokus pada titik temu di antara kelompok-kelompok Sunni (NU, Muhammadiyah, Al-Irsyad, Persis, dll) untuk membendung paham Syiah sebagai musuh bersama yang mengancam eksistensi Islam.
Kesimpulan
Syiah bukan sekadar mazhab fikih, melainkan sebuah gerakan yang secara historis dan ideologis seringkali menjadi sumber fitnah dalam Islam. Dari mencaci sahabat hingga mengkhianati negara, jejak rekam mereka menunjukkan pola yang konsisten.
Sebagai Muslim yang mencintai Allah, Rasul-Nya, dan para sahabat, kita berkewajiban untuk membongkar kedok fitnah ini. Jangan biarkan lisan-lisan yang penuh kebencian merusak kedamaian Indonesia dan kemurnian ajaran Islam. Mari kita pegang teguh sunnah Nabi SAW dan menjauhi segala bentuk bid’ah yang memecah belah.
Semoga Allah SWT menjaga bangsa ini dari fitnah-fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: