Breaking News
Loading...

Syiah dan Peranannya dalam Fitnah terhadap Para Sahabat

Syiahindonesia.com - Sejarah Islam tidak terlepas dari dinamika perjuangan para sahabat Nabi Muhammad SAW yang telah mengorbankan harta, jiwa, dan raga demi tegaknya panji tauhid. Allah SWT dalam Al-Qur'an telah memberikan legitimasi atas kemuliaan mereka. Namun, dalam perjalanan sejarah, muncul sebuah gerakan yang membangun fondasi ajarannya di atas narasi kebencian dan celaan terhadap generasi terbaik umat ini. Doktrin Syiah, dalam berbagai fasenya, memiliki peranan sentral dalam mengembuskan fitnah terhadap para sahabat, terutama terhadap Khulafaur Rasyidin (selain Ali bin Abi Thalib RA) dan istri-istri Nabi SAW. Fenomena ini bukan sekadar perbedaan pandangan sejarah, melainkan sebuah serangan sistematis terhadap kredibilitas transmisi ajaran Islam itu sendiri.


Kedudukan Sahabat dalam Akidah Islam

Sebelum membedah bagaimana fitnah itu muncul, penting bagi kita untuk memahami bagaimana posisi sahabat dalam pandangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Para sahabat adalah saksi hidup turunnya wahyu dan pendamping setia Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 100:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah."

Ayat ini merupakan tazkiyah (rekomendasi suci) langsung dari langit. Mencela mereka yang telah diridhai Allah adalah bentuk pembangkangan terhadap firman-Nya.


Doktrin Sabbal Shahabah: Mencela sebagai Bentuk Ibadah

Dalam ajaran Syiah, terdapat konsep yang sangat berbahaya yang dikenal dengan Tabarra' (berlepas diri). Konsep ini mewajibkan pengikutnya untuk berlepas diri dan membenci musuh-musuh Ahlul Bait. Tragisnya, yang dikategorikan sebagai "musuh" dalam literatur mereka adalah para sahabat besar seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan.

Mereka menyebarkan fitnah bahwa:

  1. Perampasan Khilafah: Para sahabat dituduh berkonspirasi untuk merebut hak kepemimpinan Ali bin Abi Thalib segera setelah Nabi wafat.

  2. Murtadnya Mayoritas Sahabat: Terdapat riwayat ekstrem dalam kitab-kitab mereka (seperti dalam Rijalul Kasy-syi) yang mengklaim bahwa hampir seluruh sahabat murtad setelah wafatnya Nabi, kecuali hanya segelintir orang saja (seperti Miqdad, Abu Dzar, dan Salman al-Farisi).

Jika mayoritas sahabat dianggap murtad atau khianat, maka secara logika seluruh hadits dan syariat yang mereka sampaikan menjadi tidak sah. Inilah inti dari fitnah tersebut: menghancurkan sumber hukum Islam dengan cara merusak kredibilitas pembawanya.


Fitnah terhadap Ummul Mukminin Aisyah RA

Salah satu fitnah yang paling menyakitkan bagi hati setiap Muslim adalah serangan terhadap kehormatan istri Nabi, Aisyah binti Abu Bakar RA. Meskipun Allah SWT telah menyucikan nama beliau melalui wahyu dalam Surah An-Nur (terkait peristiwa Ifki), sebagian penganut Syiah tetap menyebarkan narasi-narasi keji terhadap beliau.

Penghinaan terhadap istri Nabi adalah penghinaan tidak langsung kepada Nabi Muhammad SAW sendiri. Bagaimana mungkin Allah membiarkan kekasih-Nya bersanding dengan wanita yang (menurut tuduhan keji mereka) tidak mulia? Ini adalah serangan terhadap martabat kenabian.


Dampak Fitnah terhadap Persatuan Umat di Indonesia

Penyebaran narasi fitnah ini di Indonesia seringkali dilakukan dengan cara yang halus. Mereka membungkusnya dalam bentuk "pembelaan terhadap keluarga Nabi yang terzalimi". Dampaknya sangat merusak:

  • Disintegrasi Sosial: Munculnya benih permusuhan di antara sesama Muslim karena adanya pihak yang terang-terangan menghina tokoh yang sangat dihormati oleh mayoritas umat (Ahlus Sunnah).

  • Kekacauan Sejarah: Generasi muda Muslim yang tidak memahami sejarah aslinya akan terjebak dalam romantisme konflik masa lalu yang telah dipelintir, sehingga mereka kehilangan figur teladan dalam berislam.

  • Melemahkan Wibawa Islam: Ketika internal umat Islam saling mencela pilar-pilar agamanya sendiri (para sahabat), pihak luar akan dengan mudah meremehkan ajaran Islam secara keseluruhan.


Mengapa Kita Harus Membela Sahabat?

Membela sahabat bukan sekadar membela individu, melainkan membela agama itu sendiri. Imam Abu Zur'ah Ar-Razi, seorang ulama besar hadits, pernah berkata:

إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَنْتَقِصُ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاعْلَمْ أَنَّهُ زِنْدِيقٌ

"Jika engkau melihat seseorang mencela salah seorang sahabat Rasulullah SAW, maka ketahuilah bahwa dia adalah seorang zindiq (sesat)."

Alasannya jelas: Rasulullah itu benar, Al-Qur'an itu benar, dan apa yang beliau bawa adalah benar. Semua itu sampai kepada kita melalui perantara para sahabat. Siapa pun yang mencela saksi-saksi kita (para sahabat), tujuannya adalah untuk membatalkan Al-Qur'an dan Sunnah.

Langkah Antisipasi bagi Masyarakat Indonesia

  1. Pelajari Kitab-Kitab Tarikh yang Valid: Rujuklah pada kitab sejarah karya ulama Ahlus Sunnah seperti Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir untuk mendapatkan gambaran yang adil tentang jasa para sahabat.

  2. Jangan Mudah Terprovokasi: Hindari konten-konten yang isinya membanding-bandingkan antara Ali bin Abi Thalib dengan sahabat lainnya dalam nada merendahkan salah satunya.

  3. Tingkatkan Kecintaan pada Ahlul Bait dan Sahabat secara Bersamaan: Akidah yang benar adalah mencintai keduanya tanpa membedakan secara ekstrem. Sahabat dan Ahlul Bait adalah satu kesatuan keluarga besar yang saling mencintai.

Penutup

Fitnah terhadap para sahabat yang dilakukan oleh doktrin Syiah adalah duri dalam sejarah umat Islam yang harus diwaspadai. Dengan menjaga lisan dan hati kita dari mencela mereka, berarti kita telah menjaga integritas agama Islam. Semoga Allah SWT mengumpulkan kita bersama Rasulullah, para sahabatnya yang mulia, dan keluarganya yang suci di surga-Nya kelak.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: