Syiahindonesia.com - Di antara sekian banyak doktrin unik dan menyimpang dalam teologi Syiah, konsep Raj’ah (kebangkitan kembali sebelum hari kiamat) menempati posisi yang sangat kontroversial. Raj’ah secara bahasa berarti "kembali". Dalam keyakinan Syiah, mereka mengklaim bahwa sebelum terjadinya kiamat kubra, Allah SWT akan menghidupkan kembali sekelompok orang yang telah mati—baik dari kalangan orang-orang yang sangat saleh (para Imam dan pengikutnya) maupun orang-orang yang dianggap sangat jahat (para musuh Imam)—untuk melakukan pembalasan dendam di dunia. Keyakinan ini bukan sekadar masalah cabang (furu'), melainkan kesalahan fatal yang menabrak prinsip-prinsip dasar Al-Quran dan akidah Islam yang sahih.
1. Bertentangan dengan Konsep Alam Barzakh
Al-Quranul Karim secara tegas menyatakan bahwa manusia yang telah meninggal dunia berada di alam Barzakh dan tidak akan kembali ke dunia hingga hari kebangkitan (kiamat) tiba. Allah SWT berfirman:
"Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: 'Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan'. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (Barzakh) sampai hari mereka dibangkitkan." (QS. Al-Mu'minun: 99-100).
Ayat ini adalah dalil qath'i (tegas) bahwa permintaan manusia untuk kembali ke dunia ditolak oleh Allah SWT. Keyakinan Raj’ah yang menyatakan adanya "kepulangan massal" sebelum kiamat secara langsung mendustakan ayat Al-Quran tersebut.
2. Upaya Melegitimasi Dendam Sejarah
Motivasi utama di balik doktrin Raj’ah dalam Syiah adalah motif balas dendam. Mereka meyakini bahwa Imam Mahdi versi mereka (Imam ke-12 yang ghaib) akan muncul dan menghidupkan kembali Abu Bakar, Umar, Utsman, serta istri-istri Nabi seperti Sayyidah Aisyah untuk disiksa dan dihukum di dunia.
Ini adalah bentuk penyimpangan moral dan teologis yang sangat parah. Islam mengajarkan bahwa pengadilan yang adil dan sempurna hanya terjadi di akhirat (Padang Mahsyar), bukan melalui skenario balas dendam di dunia yang penuh dengan narasi kebencian terhadap para Sahabat Nabi yang telah dijamin keridhaannya oleh Allah dalam Al-Quran (QS. At-Taubah: 100).
3. Merusak Esensi Hari Pembalasan (Yaumul Jaza')
Keyakinan Raj’ah seolah-olah menganggap bahwa pengadilan Allah di akhirat nanti tidak cukup, sehingga perlu diadakan "pengadilan dunia" sebelum kiamat. Hal ini merusak esensi iman kepada Hari Akhir. Jika pembalasan dendam sudah dilakukan di dunia melalui proses Raj’ah, maka apa fungsi dari Yaumul Hisab dan Yaumul Jaza' di akhirat kelak?
Allah SWT berfirman:
"Kemudian sesungguhnya kamu pada hari kiamat akan berbantah-bantahan di hadapan Tuhanmu." (QS. Az-Zumar: 31).
Syiah mencoba menarik otoritas pengadilan akhirat ke tangan "Imam" mereka di dunia, yang merupakan bentuk pelampauan batas terhadap hak prerogatif Allah SWT sebagai satu-satunya Hakim Yang Maha Adil.
4. Distorsi Terhadap Dalil-Dalil Al-Quran
Penganut Syiah seringkali memaksakan penafsiran ayat-ayat Al-Quran tentang mukjizat Nabi terdahulu (seperti dihidupkannya orang mati di tangan Nabi Isa atau kisah Ashabul Kahfi) sebagai dalil Raj’ah. Namun, analogi ini salah total (qiyas ma'al fariq):
Mukjizat Nabi: Terjadi sebagai bukti kenabian di masa lampau dan bersifat kasuistik (kejadian khusus), bukan sebagai doktrin umum kebangkitan massal untuk balas dendam.
Raj’ah Syiah: Diklaim sebagai rukun keyakinan yang akan terjadi secara sistematis kepada kelompok tertentu sebelum kiamat. Tidak ada satu pun ayat yang mendukung skenario "bangkit untuk disiksa oleh Imam" tersebut.
5. Pengaruh Ajaran Reinkarnasi dan Budaya Asing
Para ulama menengarai bahwa akar pemikiran Raj’ah tidak berasal dari Islam, melainkan infiltrasi pemikiran dari ajaran Yahudi kuno atau konsep reinkarnasi (tanasukh) yang ada dalam beberapa kepercayaan ekstrem. Masuknya unsur-unsur asing ini ke dalam teologi Syiah menunjukkan bahwa ajaran ini merupakan hasil sinkretisme yang dipaksakan untuk mendukung agenda politik dan emosional kelompok mereka.
Rasulullah SAW telah memperingatkan:
"Barangsiapa yang mengadakan hal baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan bagian darinya, maka amalan itu tertolak." (HR. Bukhari & Muslim).
Kesimpulan: Bahaya Keyakinan Raj’ah bagi Akidah Umat
Keyakinan Raj’ah adalah salah satu kesalahan paling fatal dalam ajaran Syiah karena ia menggabungkan pendustaan terhadap ayat Al-Quran (tentang alam Barzakh), penghinaan terhadap para Sahabat Nabi, dan perusakan terhadap konsep iman kepada hari akhir. Di Indonesia, doktrin ini sering disembunyikan dalam dakwah awal mereka karena sifatnya yang sangat tidak masuk akal dan provokatif.
Umat Islam harus menyadari bahwa kematian adalah pintu satu arah menuju alam Barzakh. Tidak ada "kebangkitan kembali" untuk melakukan aksi balas dendam di dunia. Keadilan sejati akan ditegakkan oleh Allah SWT di akhirat kelak, bukan oleh tokoh-tokoh mitologis yang diklaim akan muncul membawa pedang dendam sejarah. Tetap berpegang teguh pada Al-Quran dan Sunnah adalah satu-satunya jalan agar terhindar dari khayalan-khayalan teologis yang menyesatkan ini.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: