Breaking News
Loading...

Kesalahan dalam Konsep Ma’shum menurut Syiah

Syiahindonesia.com - Dalam bangunan teologi Syiah, doktrin Ishmah atau kema’shuman para imam merupakan pilar yang tidak boleh runtuh. Mereka meyakini bahwa dua belas imam mereka terjaga secara mutlak dari segala jenis dosa (besar maupun kecil), kesalahan, sifat lupa, bahkan kekhilafan sejak lahir hingga wafat. Kedudukan ini ditempatkan setara dengan kema’shuman para Nabi dalam hal otoritas kebenaran. Namun, jika ditinjau dari perspektif Al-Qur’an, hadits shahih, dan logika tauhid yang lurus, konsep kema’shuman imam versi Syiah ini mengandung kesalahan fatal yang justru merusak kemurnian ajaran Islam.


1. Menabrak Kodrat Manusia dalam Al-Qur’an

Islam mengajarkan bahwa kesempurnaan mutlak yang tidak memiliki celah sedikit pun hanyalah milik Allah SWT. Manusia, sehebat apa pun derajatnya, tetaplah makhluk yang memiliki keterbatasan. Al-Qur’an menegaskan bahwa sifat tidak pernah lupa dan tidak pernah salah adalah kekhususan milik Allah:

لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى

"...Tuhanku tidak akan salah dan tidak (pula) lupa." (QS. Thaha: 52)

Dengan menetapkan sifat "tidak mungkin salah dan lupa" kepada para imam secara permanen, Syiah secara tidak langsung telah memberikan sifat ketuhanan kepada manusia. Hal ini merupakan bentuk Ghuluw (berlebih-lebihan) yang dilarang keras, karena mengaburkan batasan antara Khalik (Pencipta) yang Maha Sempurna dengan makhluk yang diciptakan.

2. Kesalahan Logika: Jika Imam Maksum, Mengapa Wahyu Berakhir?

Salah satu argumen Syiah adalah bahwa umat manusia membutuhkan imam yang maksum sebagai penjamin kebenaran agama setelah Nabi wafat. Namun, logika ini justru merendahkan kesempurnaan risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

Allah SWT berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي

"...Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku..." (QS. Al-Ma'idah: 3)

Jika agama Islam sudah dinyatakan sempurna oleh Allah pada masa Nabi, maka tidak ada lagi keperluan mendesak akan adanya sosok manusia lain yang memiliki otoritas "maksum" untuk menjaga agama. Mengklaim perlunya imam maksum seolah-olah mengisyaratkan bahwa Al-Qur’an dan Sunnah yang ditinggalkan Nabi belum cukup kuat untuk memandu umat tanpa adanya "manusia suci" tambahan.


3. Kontradiksi dengan Pengakuan Para Imam Sendiri

Dalam catatan sejarah yang diakui secara luas, sosok-sosok yang diklaim maksum oleh Syiah justru menunjukkan sikap tawadhu’ (rendah hati) dan mengakui kelemahan manusiawi mereka di hadapan Allah. Ali bin Abi Thalib RA, dalam banyak riwayat, sering beristighfar dan memohon ampunan Allah.

Jika Ali bin Abi Thalib benar-benar maksum (tidak mungkin berdosa), untuk apa beliau memohon ampunan secara sungguh-sungguh? Dalam Islam, istighfar para Nabi dan orang shalih adalah bukti ketundukan, bukan sekadar sandiwara. Klaim kema’shuman mutlak dari Syiah justru meniadakan nilai ibadah dan pertaubatan yang dipraktikkan oleh para Ahlul Bait sendiri.

4. Manipulasi Ayat "Tathir" (Penyucian)

Syiah seringkali memaksakan penafsiran Surat Al-Ahzab ayat 33 sebagai dalil kema’shuman imam:

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

"...Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (QS. Al-Ahzab: 33)

Koreksi Ilmiah:

  • Iradah Tasyri'iyyah: Kata "Yuriidullah" (Allah bermaksud) dalam ayat ini adalah keinginan yang bersifat perintah syariat agar Ahlul Bait menjaga kesucian mereka, bukan jaminan otomatis bahwa mereka menjadi "robot" yang tidak bisa salah.

  • Konteks Ayat: Ayat ini turun berkaitan dengan istri-istri Nabi (Ummul Mukminin). Syiah melakukan kesalahan fatal dengan mengeluarkan istri Nabi dari cakupan ayat ini dan memasukkan imam-imam yang bahkan belum lahir saat ayat tersebut turun.


5. Dampak Berbahaya: Menutup Pintu Kritik dan Ijtihad

Konsep kema’shuman menciptakan doktrin kepatuhan buta. Dalam Syiah, karena imam dianggap mustahil salah, maka setiap perkataannya—meskipun bertentangan dengan dalil yang lebih kuat—harus diikuti tanpa tanya.

Hal ini sangat berbahaya bagi kehidupan beragama dan bernegara di Indonesia, karena:

  • Menghilangkan tradisi musyawarah (Syura) yang diperintahkan Al-Qur’an.

  • Menciptakan pengultusan individu yang berlebihan.

  • Menjadikan sosok manusia sebagai sumber kebenaran absolut, yang merupakan bibit dari radikalisme pemikiran.


Kesimpulan

Kema’shuman imam menurut Syiah adalah konsep buatan manusia yang tidak memiliki landasan kokoh dalam wahyu. Satu-satunya manusia yang terjaga dalam penyampaian risalah hanyalah Rasulullah SAW. Setelah beliau, setiap pendapat manusia bisa diterima atau ditolak berdasarkan timbangan Al-Qur’an dan Sunnah.

Meyakini adanya manusia maksum setelah Nabi adalah sebuah kekeliruan akidah yang menjauhkan umat dari ketergantungan hanya kepada Allah SWT. Mari kita muliakan Ahlul Bait sesuai porsinya sebagai keluarga Nabi yang kita cintai, tanpa harus mengangkat mereka ke derajat ketuhanan atau kenabian melalui doktrin kema’shuman yang palsu.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: