Breaking News
Loading...

Sejarah Berdarah Perpecahan yang Ditimbulkan oleh Syiah

Syiahindonesia.com - Sejarah Islam tidak hanya diwarnai dengan tinta emas peradaban, tetapi juga goresan luka akibat konflik internal yang dipicu oleh penyimpangan ideologi. Memahami akar perpecahan ini sangat krusial bagi umat Islam di Indonesia agar tidak terjerumus ke dalam narasi palsu yang sering kali dibungkus dengan jargon "persatuan" atau "kecintaan kepada Ahlul Bait." Jika kita menilik ke belakang, kemunculan Syiah bukanlah sekadar dinamika politik biasa, melainkan sebuah gerakan yang sejak awal membawa benih perpecahan dan konflik berdarah di tengah-tengah umat Islam.

Akar Fitnah: Kemunculan Abdullah bin Saba'

Perpecahan yang dialami umat Islam berawal dari sebuah gerakan rahasia yang dirancang untuk merusak Islam dari dalam. Sejarah mencatat sosok Abdullah bin Saba', seorang Yahudi dari Yaman yang berpura-pura masuk Islam pada masa Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu. Ia mulai menyebarkan pemikiran-pemikiran ekstrem, seperti pengultusan terhadap Ali bin Abi Thalib dan klaim bahwa Ali memiliki hak ketuhanan atau wasiat nabi yang dirampas.

Gerakan ini berhasil memprovokasi massa hingga berujung pada tragedi pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan. Inilah titik awal di mana darah kaum muslimin tumpah karena fitnah ideologis. Allah Ta'ala telah memperingatkan dalam Al-Qur'an tentang bahaya perpecahan:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

"Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat." (QS. Ali Imran: 105).


Perang Jamal dan Siffin: Manipulasi Kelompok Sabaiyyah

Setelah syahidnya Utsman, umat Islam terbelah. Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi Khalifah, namun situasi sangat kacau. Kelompok pengikut Abdullah bin Saba' (Sabaiyyah), yang merupakan cikal bakal Syiah ekstrem, terus menyusup dan memanasi keadaan.

Pada Perang Jamal, sebenarnya telah terjadi kesepakatan damai antara Ali dengan Aisyah, Thalhah, dan Zubair. Namun, para penyusup Sabaiyyah melakukan serangan malam ke kedua belah pihak untuk memicu peperangan. Akibatnya, ribuan sahabat dan kaum muslimin gugur dalam kesalahpahaman yang dirancang oleh kelompok pemecah belah ini. Hal yang sama terulang pada Perang Siffin, di mana mereka menolak arbitrase (tahkim) dan kemudian melahirkan sekte-sekte baru yang saling mengkafirkan.


Dinasti Buwaihi dan Fatimiyah: Penindasan terhadap Ahlus Sunnah

Sejarah mencatat bahwa ketika Syiah memegang kekuasaan politik, mereka sering kali menggunakannya untuk menindas mayoritas umat Islam (Ahlus Sunnah).

  1. Dinasti Buwaihi (Bwayhid): Di bawah kendali Syiah di Baghdad, mereka menghina para sahabat Nabi secara terbuka di mimbar-mimbar dan memaksa penduduk Sunni untuk mengikuti ritual-ritual Syiah.

  2. Dinasti Fatimiyah di Mesir: Meskipun mengklaim keturunan Fatimah (klaim yang ditolak banyak pakar sejarah), mereka mendirikan negara yang memarjinalkan ulama-ulama Sunni dan mencoba mengubah identitas keislaman Mesir dengan ajaran Syiah Ismailiyah.

Kekejaman ini menunjukkan bahwa ideologi Syiah sulit untuk berdampingan secara damai tanpa ambisi untuk mendominasi dan mengubah keyakinan orang lain melalui intimidasi.


Tragedi Pengkhianatan Ibnu Al-Alqami dan Runtuhnya Baghdad

Salah satu noda hitam paling kelam dalam sejarah Islam adalah jatuhnya Baghdad ke tangan Mongol pada tahun 1258 M. Jatuhnya pusat peradaban Islam ini tidak lepas dari peran Ibnu Al-Alqami, seorang menteri Syiah di pemerintahan Khalifah Al-Musta'shim (Abbasiyah).

Ibnu Al-Alqami berkhianat dengan berkorespondensi secara rahasia dengan Hulagu Khan dari Mongol. Ia meyakinkan Khalifah untuk mengurangi jumlah pasukan perang agar anggaran bisa dialihkan, padahal tujuannya adalah memperlemah pertahanan Baghdad. Saat Mongol menyerang, ia membiarkan pintu kota terbuka. Hasilnya, ratusan ribu umat Islam dibantai, perpustakaan dihancurkan, dan sungai Tigris berubah warna menjadi hitam karena tinta buku dan merah karena darah.

Rasulullah ﷺ telah memperingatkan tentang sifat pengkhianatan ini dalam sebuah hadits:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

"Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika dipercaya ia berkhianat." (HR. Bukhari dan Muslim).


Berdirinya Dinasti Safawi: Transformasi Iran Menjadi Syiah

Hingga abad ke-15, Iran (Persia) mayoritas adalah penduduk Sunni yang melahirkan ulama-ulama besar seperti Imam Bukhari, Muslim, dan Al-Ghazali. Namun, semua itu berubah total secara berdarah saat Ismail I mendirikan Dinasti Safawi.

Ismail I menjadikan Syiah Dua Belas Imam sebagai agama resmi negara dan memaksa seluruh penduduk Sunni untuk berpindah keyakinan. Mereka yang menolak dibunuh secara massal. Sejarawan mencatat hampir satu juta orang Sunni dibantai selama proses "Syiahisasi" paksa di Iran. Inilah alasan mengapa Iran saat ini menjadi basis Syiah, yang bermula dari genosida terhadap penganut Ahlus Sunnah wal Jama'ah.


Mengapa Syiah Menimbulkan Perpecahan?

Ada beberapa alasan mendasar secara ideologis mengapa Syiah selalu menjadi sumber konflik:

1. Pencelaan terhadap Sahabat Nabi

Syiah membangun landasan agamanya di atas kebencian terhadap mayoritas sahabat Nabi, terutama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Bagi umat Islam, menghina sahabat adalah bentuk penistaan agama karena mereka adalah transmisi utama ajaran Islam.

2. Doktrin Imamah (Kepemimpinan Suci)

Mereka meyakini bahwa Imam mereka bersifat Ma'shum (bebas dari dosa) dan memiliki kedudukan di atas Nabi. Doktrin ini memecah umat karena siapapun yang tidak mengimani imamah versi mereka dianggap kafir atau menyimpang.

3. Taqiyyah (Kebohongan yang Dilegalkan)

Doktrin Taqiyyah memungkinkan pengikut Syiah untuk menyembunyikan keyakinan asli mereka demi keamanan atau untuk menipu lawan bicara. Hal ini menciptakan ketidakpercayaan (distrust) yang mendalam di tengah masyarakat sosial.

4. Ekspor Revolusi

Sejak revolusi Iran 1979, ada upaya sistematis untuk mengekspor ideologi ini ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Hal ini sering kali disertai dengan pembentukan milisi atau kelompok yang loyalitasnya bukan kepada negara asalnya, melainkan kepada kepemimpinan ulama di Iran (Wilayatul Faqih).


Dampak Kontemporer: Konflik di Timur Tengah

Kita bisa melihat bukti nyata di era modern. Konflik di Suriah, Yaman, dan Irak adalah manifestasi dari perpecahan yang dipicu oleh milisi-milisi Syiah yang didukung oleh kekuatan regional. Ribuan nyawa melayang dan jutaan orang mengungsi akibat ambisi ideologis yang tidak mengenal kompromi ini. Di Suriah, rezim yang beraliran Syiah Alawiyah melakukan pembantaian luar biasa terhadap rakyatnya sendiri yang mayoritas Sunni demi mempertahankan kekuasaan.


Strategi Menjaga Indonesia dari Ideologi Pemecah Belah

Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia harus waspada. Penyebaran Syiah di Indonesia sering kali masuk melalui jalur pendidikan, beasiswa, dan yayasan kemanusiaan. Umat Islam harus dibekali dengan pemahaman aqidah yang benar agar tidak mudah tertipu oleh bungkus persatuan palsu.

Beberapa langkah yang bisa diambil adalah:

  • Edukasi Sejarah: Mengajarkan sejarah Islam yang benar kepada generasi muda agar mereka tahu pengkhianatan-pengkhianatan yang pernah terjadi.

  • Penguatan Aqidah: Memperdalam pemahaman tentang kedudukan Sahabat Nabi dan kemurnian Al-Qur'an.

  • Kewaspadaan Nasional: Pemerintah dan ormas Islam (seperti MUI) harus terus memantau aktivitas yang berpotensi memicu konflik sektarian melalui penyebaran ajaran yang menyesatkan.

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat: 6).

Kesimpulan

Sejarah berdarah yang ditimbulkan oleh pergerakan Syiah bukanlah sekadar dongeng, melainkan fakta empiris yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah primer. Dari pembunuhan Khalifah Utsman hingga konflik modern di Timur Tengah, polanya tetap sama: infiltrasi, provokasi, pengkhianatan, dan kekerasan. Menjaga Indonesia tetap kondusif berarti menjaga umat dari paham-paham yang secara inheren membawa benih kebencian terhadap simbol-simbol suci Islam (Sahabat dan Istri Nabi). Waspadalah, karena persatuan hanya bisa tegak di atas kebenaran, bukan di atas penyesatan dan kebencian tersembunyi.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: