Breaking News
Loading...

Bahaya Doktrin Ghuluw (Berlebihan) dalam Syiah


Syiahindonesia.com -
Menjaga kemurnian akidah merupakan kewajiban fundamental bagi setiap Muslim. Di tengah arus informasi yang begitu deras dan beragamnya pemikiran yang masuk ke Indonesia, pemahaman yang kritis terhadap berbagai doktrin sangatlah diperlukan. Salah satu fenomena yang perlu dicermati dalam sejarah pemikiran Islam adalah munculnya sikap ghuluw atau melampaui batas dalam mengagungkan sosok tertentu. Dalam konteks perkembangan beberapa aliran, doktrin ini seringkali menjadi pintu masuk bagi penyimpangan yang jauh dari tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Artikel ini akan mengulas secara mendalam mengenai bahaya doktrin ghuluw, khususnya yang ditemukan dalam ajaran Syiah, sebagai upaya preventif untuk melindungi akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.


Pengertian Ghuluw dalam Perspektif Islam

Secara etimologi, ghuluw berasal dari bahasa Arab yang berarti melewati batas atau berlebihan. Dalam istilah syariat, ghuluw adalah melampaui batas-batas yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dalam beragama, baik dalam hal keyakinan (itishadi) maupun perbuatan (amali).

Islam adalah agama yang mengajarkan moderasi (wasathiyah). Allah SWT telah memperingatkan umat terdahulu agar tidak terjebak dalam lubang yang sama, sebagaimana firman-Nya dalam Surah An-Nisa ayat 171:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحقَّ

"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar."

Sifat berlebihan ini seringkali muncul dalam bentuk pengkultusan individu secara membabi buta, yang pada akhirnya dapat menjerumuskan seseorang ke dalam jurang kesyirikan atau menjauhkan mereka dari esensi tauhid yang murni.


Akar Doktrin Ghuluw dalam Tradisi Syiah

Dalam sejarah perkembangannya, sebagian kelompok dalam Syiah—terutama kelompok Ghulat—memiliki kecenderungan untuk menempatkan para Imam dari kalangan Ahlul Bait pada posisi yang tidak semestinya. Mereka memberikan sifat-sifat ketuhanan atau kenabian kepada manusia biasa, meskipun mereka adalah keturunan Rasulullah SAW yang mulia.

Beberapa poin krusial yang menunjukkan adanya ghuluw dalam doktrin tersebut antara lain:

  1. Ismah (Kema'shuman) Para Imam: Keyakinan bahwa para Imam tidak pernah berbuat dosa dan tidak pernah salah, setara dengan posisi Nabi.

  2. Kekuasaan Kosmik: Anggapan bahwa para Imam memiliki kendali atas alam semesta atau mengetahui hal-hal gaib secara mutlak tanpa batasan.

  3. Kedudukan di Atas Malaikat dan Nabi: Sebagian literatur ekstrem menyebutkan bahwa derajat Imam lebih tinggi daripada Malaikat Jibril dan para Nabi Ulul Azmi.

Pandangan ini sangat kontras dengan prinsip Ahlus Sunnah yang meyakini bahwa hanya Nabi dan Rasul yang memiliki sifat ma’shum dalam menyampaikan risalah, sementara manusia lainnya, sehebat dan semulia apa pun, tetaplah manusia yang bisa melakukan kesalahan.


Dampak Negatif Doktrin Berlebihan terhadap Akidah

Penyebaran doktrin yang mengandung unsur ghuluw memiliki risiko besar bagi stabilitas keagamaan di Indonesia. Berikut adalah beberapa bahaya yang perlu diwaspadai:

1. Pergeseran Konsep Tauhid

Tauhid adalah fondasi utama Islam. Ketika seseorang mulai memberikan sifat-sifat Allah (seperti mengetahui yang gaib secara mutlak atau pemberi syafaat tanpa izin Allah) kepada manusia, maka kemurnian tauhid tersebut terancam. Hal ini sering terselubung dalam jubah "kecintaan kepada keluarga Nabi", padahal cinta yang benar adalah cinta yang sesuai dengan koridor syariat.

2. Mendistorsi Otoritas Al-Qur'an dan Hadits

Dalam beberapa ajaran yang berlebihan, ucapan para Imam dianggap sebagai sumber hukum yang setara atau bahkan dapat membatalkan (nasakh) ayat Al-Qur'an. Ini menciptakan ketidakpastian hukum dan menjauhkan umat dari pegangan utama, yaitu Kitabullah dan Sunnah. Rasulullah SAW bersabda:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selamanya selama kalian berpegang teguh kepada keduanya: Kitabullah (Al-Qur'an) dan Sunnah Nabinya." (HR. Malik).

3. Timbulnya Fanatisme Buta

Ghuluw selalu beriringan dengan fanatisme. Hal ini menyebabkan seseorang menutup mata dari kebenaran yang datang dari pihak lain dan cenderung menyalahkan bahkan mengkafirkan (takfiri) sahabat-sahabat Nabi yang dijamin masuk surga, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan RA.


Mengapa Indonesia Menjadi Sasaran?

Indonesia, dengan populasi Muslim terbesar di dunia, merupakan ladang yang subur bagi penyebaran berbagai ideologi. Doktrin Syiah seringkali masuk melalui jalur pendidikan, beasiswa, maupun kegiatan sosial-kemanusiaan. Dengan narasi "persatuan Islam" atau "mencintai keturunan Nabi", masyarakat awam yang tidak memiliki dasar ilmu agama yang kuat seringkali terjebak tanpa menyadari adanya penyimpangan akidah di balik kemasan tersebut.

Upaya antisipasi harus dilakukan secara sistematis. Edukasi mengenai sejarah Islam yang benar dan pemahaman yang lurus tentang kedudukan Ahlul Bait harus terus digalakkan agar masyarakat bisa membedakan mana cinta yang tulus dan mana pengkultusan yang dilarang.


Sikap Ahlus Sunnah terhadap Ahlul Bait

Perlu ditegaskan bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah sangat mencintai dan menghormati keluarga Rasulullah SAW. Namun, cinta tersebut dilakukan dengan cara yang moderat, tanpa mengangkat mereka ke derajat ketuhanan atau kenabian.

Imam Ali bin Abi Thalib RA sendiri mengecam orang-orang yang berlebihan dalam memujinya. Beliau pernah berkata:

هَلَكَ فِيَّ رَجُلَانِ: مُحِبٌّ غَالٍ، وَمُبْغِضٌ قَالٍ

"Dua kelompok orang akan binasa karena aku: Pecinta yang melampaui batas (ghuluw) dan pembenci yang sangat ekstrem."

Pernyataan ini merupakan teguran keras bagi siapa saja yang menggunakan nama besar Ali bin Abi Thalib untuk melegitimasi ajaran-ajaran yang menyimpang dari garis Islam yang murni.


Strategi Membentengi Umat dari Ajaran Sesat

Untuk mengantisipasi penyebaran ajaran yang mengandung ghuluw di Indonesia, diperlukan langkah-langkah konkret:

  1. Penguatan Dakwah Tauhid: Para ulama dan dai harus lebih intensif menjelaskan hak-hak Allah yang tidak boleh diberikan kepada makhluk.

  2. Literasi Sejarah Sahabat dan Ahlul Bait: Memberikan pemahaman bahwa antara sahabat Nabi dan keluarga Nabi terdapat hubungan yang harmonis, bukan permusuhan sebagaimana yang digambarkan dalam narasi-narasi tertentu.

  3. Kewaspadaan terhadap Gerakan Bawah Tanah: Pemerintah dan lembaga keagamaan seperti MUI perlu memantau penyebaran buku-buku atau konten media sosial yang secara halus menyisipkan doktrin penghinaan terhadap sahabat Nabi atau pengagungan imam secara berlebihan.

  4. Optimalisasi Lembaga Pendidikan: Menanamkan akidah Ahlus Sunnah sejak dini di madrasah dan pesantren agar generasi muda memiliki imunitas terhadap pemikiran asing yang merusak.

Penutup

Bahaya doktrin ghuluw dalam Syiah bukan hanya sekadar perbedaan masalah furu’ (cabang), melainkan menyentuh ranah ushul (pokok) akidah. Dengan memahami batasan-batasan dalam mencintai dan mengagungkan manusia, kita dapat terhindar dari kesesatan. Menjaga Indonesia dari ajaran yang tidak sejalan dengan mayoritas akidah bangsa adalah langkah menjaga kedamaian dan keutuhan NKRI.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah-Nya kepada kita semua agar tetap istiqomah di atas jalan yang lurus, jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW, para sahabatnya, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: