Syiahindonesia.com - Memahami perbedaan antara Ahlussunnah wal Jama’ah (Sunni) dan Syiah bukan sekadar membahas perbedaan cabang hukum (fikih), melainkan menyentuh akar yang paling mendasar dalam beragama, yaitu akidah. Di Indonesia, sering kali muncul narasi bahwa perbedaan keduanya hanyalah masalah khilafiyah kecil seperti posisi tangan saat shalat atau jumlah rakaat tarawih. Namun, fakta ilmiah menunjukkan adanya jurang pemisah yang sangat dalam pada rukun iman dan sumber pengambilan hukum. Mengaburkan perbedaan akidah ini sangat berbahaya karena dapat melemahkan kewaspadaan umat terhadap paham-paham yang mencederai tauhid. Artikel ini akan membedah secara detail perbedaan fundamental tersebut sebagai panduan bagi umat Islam untuk tetap teguh di atas jalan yang lurus.
1. Rukun Iman dan Konsep Imamah
Perbedaan yang paling mencolok terletak pada susunan rukun iman. Bagi Ahlussunnah, rukun iman berjumlah enam sebagaimana hadits Jibril yang masyhur. Namun bagi Syiah, mereka memiliki konsep Imamah (kepemimpinan 12 Imam) sebagai rukun iman yang setara, bahkan dalam beberapa aspek melebihi derajat kenabian.
Dalam akidah Syiah, seseorang tidak dianggap beriman jika tidak memercayai kema’shuman (keterjagaan dari dosa) para Imam mereka. Padahal dalam Islam, sifat ma’shum hanyalah milik para Nabi dan Rasul. Allah SWT berfirman mengenai kesempurnaan agama tanpa ketergantungan pada Imamah setelah Nabi:
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS. Al-Ma'idah: 3).
Ahlussunnah meyakini bahwa dengan wafatnya Rasulullah SAW, wahyu dan otoritas keagamaan yang bersifat mutlak telah selesai. Sedangkan Syiah meyakini para Imam mereka menerima ilham yang setara dengan wahyu, yang secara logika merusak konsep khataman nabiyyin (penutup para nabi).
2. Pandangan Terhadap Al-Qur’anul Karim
Ahlussunnah wal Jama’ah meyakini dengan haqul yaqin bahwa Al-Qur’an yang ada di tangan kita hari ini, dari Al-Fatihah hingga An-Nas, adalah kalamullah yang terjaga keasliannya tanpa ada penambahan maupun pengurangan satu huruf pun.
Sebaliknya, dalam kitab-kitab induk Syiah seperti Al-Kafi dan Tashil al-Masalik, terdapat banyak riwayat yang menyatakan bahwa Al-Qur’an telah mengalami perubahan (tahrif) oleh para sahabat. Mereka mengklaim adanya "Mushaf Fatimah" yang isinya tiga kali lipat lebih banyak dari Al-Qur’an umat Islam saat ini. Meskipun di depan publik mereka (karena Taqiyyah) mengaku menggunakan Al-Qur’an yang sama, literatur rujukan mereka tetap menyimpan keyakinan akan ketidaklengkapan mushaf Utsmani.
3. Kedudukan Para Sahabat dan Istri Nabi
Ini adalah titik paling sensitif yang membedakan mukmin sejati dengan penganut Syiah Rafidhah. Ahlussunnah mencintai seluruh sahabat Nabi, terutama Khulafaur Rasyidin, dan meyakini mereka sebagai generasi terbaik berdasarkan sabda Nabi SAW:
"Sebaik-baik umatku adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka." (HR. Bukhari).
Syiah justru membangun akidahnya di atas kebencian dan pengafiran terhadap mayoritas sahabat, terutama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Mereka juga melakukan pelecehan keji terhadap Ummul Mukminin Aisyah RA. Bagi Ahlussunnah, mencaci sahabat adalah tanda kemunafikan, karena merekalah yang menyampaikan Al-Qur’an dan Sunnah kepada kita. Jika pembawa beritanya dianggap kafir (sebagaimana klaim Syiah), maka berita yang dibawa (Islam) pun akan runtuh.
4. Sumber Hukum dan Otoritas Hadits
Dalam urusan sumber hukum, Ahlussunnah merujuk pada Al-Qur’an, Sunnah (Hadits) yang shahih, Ijma’, dan Qiyas. Syiah menolak mayoritas hadits yang diriwayatkan oleh sahabat-sahabat besar seperti Abu Hurairah RA atau Aisyah RA. Mereka hanya menerima hadits yang diriwayatkan melalui jalur Imam-imam mereka.
Lebih jauh lagi, Syiah menjadikan perkataan Imam mereka sebagai sumber syariat yang berdiri sendiri. Hal ini menciptakan dua agama yang berbeda secara praktis: yang satu bersumber dari Nabi melalui para sahabat yang adil, yang lain bersumber dari dongeng-dongeng yang disandarkan secara sepihak kepada keluarga Nabi.
Perbandingan Ringkas Akidah
Mengapa Perbedaan Ini Penting bagi Muslim Indonesia?
Mengantisipasi penyebaran Syiah di Indonesia bukan berarti memupuk kebencian tanpa dasar, melainkan menjaga keselamatan akidah bangsa. Jika doktrin Syiah diterima, maka:
Kepercayaan terhadap Al-Qur'an akan goyah karena adanya klaim tahrif.
Sejarah Islam akan diputarbalikkan menjadi narasi dendam dan kekerasan.
Persatuan umat akan hancur karena adanya ritual mencaci simbol-simbol suci (sahabat dan istri Nabi).
Kesimpulan
Perbedaan antara Syiah dan Ahlussunnah adalah perbedaan dalam masalah Ushul (pokok agama), bukan sekadar Furu' (cabang). Penganut Syiah telah menciptakan sistem kepercayaan yang baru yang sangat bertolak belakang dengan apa yang diajarkan Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. Sebagai umat Islam yang mencintai kebenaran, wajib bagi kita untuk membekali diri dengan ilmu akidah yang benar agar tidak terperosok ke dalam lubang kesesatan yang dibungkus dengan jargon-jargon persatuan semu atau kecintaan palsu kepada Ahlul Bait.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: