Breaking News
Loading...

Mengapa Ulama Sunni Menganggap Syiah sebagai Ajaran Sesat?

Syiahindonesia.com - Pertanyaan mengenai kedudukan Syiah dalam pandangan ulama Ahlussunnah wal Jama'ah (Sunni) merupakan hal yang sangat krusial bagi umat Islam di Indonesia. Penetapan "sesat" atau menyimpang bukanlah sebuah label yang diberikan secara sembarangan atau atas dasar kebencian politik semata. Para ulama lintas generasi, mulai dari zaman Imam Malik, Imam Syafi'i, hingga ulama kontemporer dan lembaga otoritas seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) di berbagai daerah, telah melakukan kajian mendalam terhadap kitab-kitab induk Syiah. Kesimpulan bahwa Syiah adalah ajaran yang menyimpang didasarkan pada adanya tabrakan fundamental antara doktrin Syiah dengan prinsip-prinsip dasar Al-Qur'an dan Sunnah.


1. Penyimpangan dalam Rukun Iman dan Islam

Bagi ulama Sunni, Syiah telah merombak pondasi paling dasar dalam agama Islam. Mereka memasukkan Imamah (kepemimpinan 12 imam) sebagai rukun iman yang paling utama. Dampaknya, siapa pun yang tidak meyakini kema'shuman dan kepemimpinan 12 imam tersebut dianggap kafir atau imannya tidak sah.

Ulama Sunni menegaskan bahwa rukun iman hanya ada enam dan rukun Islam ada lima sebagaimana hadits Jibril yang shahih. Allah SWT berfirman:

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ

"Rasul telah beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya..." (QS. Al-Baqarah: 285)

Menambah rukun agama dengan doktrin manusia adalah bentuk pendustaan terhadap kesempurnaan syariat yang dibawa Nabi Muhammad SAW.

2. Penghinaan dan Pengafiran terhadap Sahabat Nabi

Ini adalah titik paling sensitif yang membuat ulama Sunni bersikap keras. Syiah meyakini bahwa mayoritas sahabat Nabi (termasuk Abu Bakar, Umar, dan Utsman) telah murtad atau berkhianat setelah Nabi wafat. Bagi Sunni, menghina sahabat sama saja dengan meruntuhkan agama, karena merekalah yang meriwayatkan Al-Qur'an dan hadits kepada kita.

Rasulullah SAW bersabda dengan tegas:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

"Janganlah kalian mencela sahabatku! Seandainya salah seorang di antara kalian berinfak emas sebesar gunung Uhud, maka itu tidak akan mencapai (derajat) satu mud (infak) mereka, tidak juga separuhnya." (HR. Bukhari & Muslim)

Ulama menganggap ajaran yang memerintahkan pengikutnya untuk melaknat orang-orang yang diridhai Allah sebagai ajaran yang keluar dari jalur kebenaran.


3. Doktrin Kema'shuman Imam yang Melampaui Batas

Syiah meyakini imam-imam mereka Ma'shum (suci dari dosa dan lupa) serta memiliki pengetahuan ghaib yang setara atau bahkan melebihi para Nabi. Dalam pandangan Sunni, ini adalah bentuk Ghuluw (ekstremisme) yang menjurus pada kesyirikan. Sifat sempurna dan mengetahui hal ghaib secara mutlak hanyalah milik Allah semata.

Allah SWT berfirman:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

"Katakanlah: 'Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah'." (QS. An-Naml: 65)

4. Keyakinan Terhadap Perubahan Al-Qur'an (Tahrif)

Meskipun secara lahiriah banyak pengikut Syiah saat ini membantahnya (melalui doktrin Taqiyah), namun kitab-kitab rujukan utama mereka (seperti Al-Kafi dan Fashlul Khitab) berisi ribuan riwayat yang menyatakan bahwa Al-Qur'an yang ada sekarang telah dikurangi atau diubah oleh para sahabat. Ulama Sunni bersepakat bahwa siapa pun yang meragukan keaslian satu huruf saja dalam Al-Qur'an, maka ia telah keluar dari Islam.

Janji Allah untuk menjaga Al-Qur'an bersifat mutlak:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS. Al-Hijr: 9)


5. Legalisasi Kebohongan Melalui Taqiyah

Ulama Sunni sulit menerima Syiah sebagai bagian dari madzhab Islam karena adanya doktrin Taqiyah—yaitu kewajiban untuk berbohong atau menyembunyikan keyakinan asli di hadapan orang lain. Hal ini membuat setiap dialog atau pernyataan persatuan dari pihak Syiah dicurigai sebagai kepura-puraan. Dalam Islam, kejujuran adalah pondasi agama, sedangkan Syiah menjadikannya sebagai sembilan persepuluh dari agama.


Kesimpulan

Penetapan Syiah sebagai ajaran sesat oleh ulama Sunni didasarkan pada bukti-bukti otentik dari kitab mereka sendiri yang merusak prinsip Tauhid, mencela kehormatan Nabi dan keluarganya (istri-istri Nabi), serta mengafirkan para pembela Islam (Sahabat).

Bagi umat Islam di Indonesia, kewaspadaan adalah kunci. Mempelajari akidah Ahlussunnah yang lurus akan menjadi benteng agar tidak tergiur oleh propaganda Syiah yang seringkali dibungkus dengan slogan "mencintai Ahlul Bait". Mencintai keluarga Nabi adalah kewajiban setiap Muslim, namun mencaci sahabat dan mengubah rukun agama adalah kesesatan yang nyata yang harus dijauhi.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: