Syiahindonesia.com - Dalam bangunan agama Islam yang kokoh, Rukun Islam dan Rukun Iman adalah pondasi utama yang menentukan keabsahan akidah seorang Muslim. Sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW melalui hadits Jibril yang masyhur, Rukun Islam terdiri dari lima perkara dan Rukun Iman terdiri dari enam perkara. Namun, ketika kita menelaah kitab-kitab induk ajaran Syiah, kita akan menemukan sebuah anomali yang sangat mendasar: mereka telah merombak, menambah, dan mengubah susunan rukun-rukun tersebut. Perubahan ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan upaya sistematis untuk menyisipkan doktrin Imamah (kepemimpinan 12 imam) ke dalam inti ajaran agama, sehingga siapa pun yang tidak meyakininya dianggap keluar dari iman.
Perbandingan Rukun Islam: Versi Nabi vs Versi Syiah
Dalam ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah (Islam yang murni), Rukun Islam didasarkan pada hadits:
بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
"Islam dibangun di atas lima perkara: Bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan." (HR. Bukhari & Muslim)
Namun, dalam kitab Al-Kafi karya Al-Kulaini (kitab paling suci bagi Syiah), mereka mengubahnya menjadi:
Shalat
Zakat
Puasa
Haji
Al-Wilayah (Imamah)
Analisis: Perhatikan bahwa mereka membuang "Syahadat" dari daftar rukun tersebut dan menggantinya dengan Wilayah (loyalitas kepada imam). Bagi Syiah, Wilayah adalah rukun yang paling agung. Mereka mengklaim bahwa shalat dan puasa seseorang tidak akan diterima tanpa adanya keyakinan pada kepemimpinan imam mereka.
Perombakan Rukun Iman dan Masuknya Unsur "Kegaiban"
Rukun Iman yang diajarkan Nabi SAW berjumlah enam: Iman kepada Allah, Malaikat, Kitab-kitab, Rasul-rasul, Hari Kiamat, dan Qadha-Qadar. Al-Qur'an menegaskan:
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ
"Rasul telah beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya..." (QS. Al-Baqarah: 285)
Syiah mengonstruksi ulang hal ini dengan membaginya menjadi Ushuluddin (Pokok Agama) yang terdiri dari:
Tauhid
Adalah (Keadilan Allah) – Mengapa keadilan Allah dipisah dari Tauhid? Ini adalah pengaruh paham Muktazilah yang diadopsi Syiah.
Nubuwwah (Kenabian)
Imamah (Kepemimpinan Imam) – Inilah rukun "selundupan" yang paling krusial.
Ma’ad (Hari Kebangkitan)
Dengan memasukkan Imamah ke dalam rukun iman, Syiah secara otomatis mengafirkan miliaran umat Islam (Ahlussunnah) sejak zaman sahabat hingga kiamat, hanya karena umat Islam tidak meyakini 12 imam maksum versi mereka.
Alasan di Balik Perubahan Rukun Tersebut
Mengapa mereka merasa perlu mengubah apa yang sudah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya?
1. Legitimasi Kekuasaan Berkedok Agama
Tujuan utama penyisipan doktrin Imamah adalah untuk memberikan status "suci" pada kepemimpinan kelompok mereka. Dengan menjadikannya rukun iman, kepatuhan kepada imam disetarakan dengan kepatuhan kepada Allah. Ini adalah alat kontrol sosial dan politik yang sangat kuat.
2. Membedakan Diri dari Mayoritas Umat Islam
Ideologi Syiah dibangun di atas fondasi eksklusivitas. Agar pengikutnya tidak "terserap" ke dalam arus besar Ahlussunnah, para tokoh Syiah menciptakan batasan-batasan akidah yang berbeda. Jika rukunnya sama, maka tidak ada alasan bagi pengikutnya untuk tetap berada dalam sekte tersebut.
3. Mengagungkan Makhluk Secara Berlebihan (Ghuluw)
Dalam doktrin Syiah, imam memiliki derajat yang tidak bisa dicapai oleh malaikat muqarrabin maupun nabi yang diutus. Allah SWT melarang sifat berlebih-lebihan ini:
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ
"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu..." (QS. An-Nisa: 171)
Meskipun ayat ini turun untuk kaum Nasrani, namun perilaku Syiah yang menganggap imam mereka mengetahui hal ghaib dan memegang kendali alam semesta adalah bentuk ghuluw yang setara.
Dampak Berbahaya Perubahan Rukun Ini
Perubahan rukun ini membawa konsekuensi yang sangat mengerikan bagi tatanan umat:
Pengafiran Massal (Takfir): Karena Imamah dijadikan rukun iman, maka siapa pun yang menolak kepemimpinan Ali bin Abi Thalib (menurut versi mereka) dianggap kafir. Ini termasuk Abu Bakar, Umar, Utsman, dan seluruh umat Islam yang mengikuti mereka.
Perusakan Syariat: Karena syahadat "dihilangkan" dari rukun Islam versi mereka, maka fokus ibadah bergeser dari mentauhidkan Allah menjadi memuja imam dan mengunjungi kuburan-kuburan yang dianggap suci.
Ancaman bagi Keamanan Nasional: Di Indonesia, ajaran yang mengafirkan mayoritas penduduknya adalah bom waktu bagi konflik horizontal. Ideologi yang merasa dirinya paling benar dengan mengubah rukun dasar agama akan sulit berbaur secara tulus dengan masyarakat lainnya.
Kesimpulan
Rukun Islam dan Rukun Iman adalah harga mati yang tidak boleh diubah oleh siapa pun, termasuk oleh tokoh agama manapun. Rasulullah SAW telah meninggalkan kita di atas jalan yang terang benderang, yang malamnya seperti siangnya.
Syiah yang mengubah rukun-rukun tersebut telah melakukan bid'ah yang paling besar dalam masalah akidah. Mereka bukan sekadar berbeda dalam masalah cabang (furu'), melainkan telah merusak pondasi (ushul). Sebagai Muslim Indonesia, kita harus tetap teguh pada lima Rukun Islam dan enam Rukun Iman yang orisinal, sebagaimana yang telah diwariskan oleh para ulama Salafus Shalih.
Waspadalah terhadap infiltrasi ajaran yang mencoba menggeser posisi Allah dan Rasul-Nya dengan kepemimpinan manusia yang dianggap maksum namun fiktif.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: