Syiahindonesia.com - Dalam khazanah pemikiran Islam, perbedaan pandangan antara berbagai mazhab merupakan hal yang telah berlangsung sejak masa awal sejarah Islam. Salah satu perbedaan yang sering menjadi perhatian adalah antara Ahlus Sunnah wal Jamaah (Sunni) dan Syiah. Kritik dari sebagian ulama Sunni terhadap Syiah bukanlah fenomena baru, melainkan hasil dari proses panjang kajian ilmiah, perbedaan metodologi, serta perbedaan dalam memahami sumber ajaran Islam. Artikel ini akan membahas secara komprehensif alasan-alasan mengapa banyak ulama Sunni mengkritik Syiah dari sudut pandang sejarah, teologi, dan praktik keagamaan.
Perbedaan Dasar dalam Aqidah
Salah satu alasan utama kritik ulama Sunni terhadap Syiah adalah adanya perbedaan dalam aspek aqidah (keyakinan dasar). Ahlus Sunnah berpegang pada Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad ﷺ dengan pemahaman para sahabat sebagai generasi terbaik.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي
"Sebaik-baik manusia adalah generasiku." (HR. Bukhari dan Muslim)
Sementara itu, dalam sebagian ajaran Syiah, terdapat konsep yang berbeda, seperti keyakinan terhadap imamah yang dianggap sebagai bagian dari rukun agama. Perbedaan ini dinilai oleh ulama Sunni sebagai penyimpangan dari prinsip dasar yang tidak secara eksplisit disebutkan dalam Al-Qur'an maupun hadits shahih.
Konsep Imamah dan Kepemimpinan
Dalam Ahlus Sunnah, kepemimpinan umat (khilafah) bukanlah bagian dari rukun iman, melainkan urusan ijtihadiyah yang ditentukan melalui musyawarah.
Allah berfirman:
وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ
"Dan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka." (QS. Asy-Syura: 38)
Sebaliknya, dalam Syiah, imamah dianggap sebagai penunjukan ilahi yang wajib diyakini. Para imam diyakini memiliki otoritas spiritual yang tinggi, bahkan dalam sebagian pandangan dianggap ma’shum (terjaga dari dosa).
Perbedaan mendasar ini menjadi salah satu titik kritik utama dari ulama Sunni.
Sikap terhadap Sahabat Nabi
Ahlus Sunnah memiliki prinsip untuk mencintai dan menghormati seluruh sahabat Nabi ﷺ tanpa kecuali. Mereka meyakini bahwa para sahabat adalah orang-orang pilihan yang telah berjuang bersama Nabi dalam menyebarkan Islam.
Allah berfirman:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
"Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka." (QS. At-Taubah: 100)
Namun, dalam sebagian literatur Syiah, terdapat kritik keras terhadap beberapa sahabat utama. Hal ini menjadi alasan kuat bagi ulama Sunni untuk mengkritik Syiah, karena dianggap bertentangan dengan prinsip penghormatan terhadap sahabat.
Perbedaan dalam Sumber Hadits
Perbedaan metode periwayatan hadits juga menjadi faktor penting. Ulama Sunni memiliki sistem sanad yang ketat dan menerima hadits dari para sahabat secara umum.
Di sisi lain, Syiah memiliki kitab hadits sendiri dan lebih mengutamakan riwayat dari Ahlul Bait (keluarga Nabi). Hal ini menyebabkan adanya perbedaan dalam banyak hukum dan praktik ibadah.
Perbedaan ini sering menjadi bahan kritik karena dinilai dapat mempengaruhi keaslian dan keutuhan ajaran Islam menurut perspektif Sunni.
Praktik Ibadah yang Berbeda
Ulama Sunni juga mengkritik beberapa praktik ibadah dalam Syiah yang dianggap tidak sesuai dengan sunnah Nabi ﷺ.
Contohnya adalah praktik nikah mut’ah, yang dalam Ahlus Sunnah telah diharamkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَهَا إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
"Sesungguhnya Allah telah mengharamkannya sampai hari kiamat." (HR. Muslim)
Selain itu, terdapat perbedaan dalam tata cara shalat, penggabungan waktu shalat, serta ritual tertentu dalam peringatan Asyura.
Kekhawatiran terhadap Penyimpangan
Sebagian ulama Sunni menganggap bahwa beberapa ajaran dalam Syiah berpotensi menimbulkan penyimpangan aqidah. Oleh karena itu, kritik yang disampaikan seringkali bertujuan sebagai bentuk peringatan kepada umat agar tetap berpegang pada ajaran yang dianggap sahih.
Namun demikian, penting untuk memahami bahwa tidak semua pengikut Syiah memiliki pandangan yang sama, karena terdapat berbagai cabang dalam Syiah itu sendiri.
Pendekatan Ilmiah dalam Kritik
Perlu ditegaskan bahwa dalam tradisi keilmuan Islam, kritik merupakan bagian dari proses ilmiah. Ulama Sunni biasanya menyampaikan kritik berdasarkan dalil, kajian kitab, serta metode yang sistematis.
Kritik ini tidak semata-mata bertujuan untuk menyerang, tetapi untuk menjaga kemurnian ajaran menurut keyakinan mereka.
Pentingnya Sikap Bijak dalam Menyikapi Perbedaan
Meskipun terdapat kritik, Islam tetap mengajarkan umatnya untuk menjaga akhlak dan persatuan.
Allah berfirman:
وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا
"Dan janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi lemah." (QS. Al-Anfal: 46)
Perbedaan harus disikapi dengan ilmu, bukan dengan emosi. Dialog yang konstruktif dan saling menghormati menjadi kunci dalam menjaga keharmonisan umat.
Peran Edukasi dan Literasi
Untuk menghadapi perbedaan ini, umat Islam perlu:
- Memperdalam ilmu agama dari sumber terpercaya
- Menghindari informasi yang tidak jelas kebenarannya
- Mengedepankan tabayyun (klarifikasi)
- Mengikuti bimbingan ulama yang kredibel
Dengan pendekatan ini, umat dapat memahami perbedaan secara lebih jernih dan tidak mudah terprovokasi.
Kesimpulan
Banyak ulama Sunni mengkritik Syiah karena adanya perbedaan mendasar dalam aqidah, konsep kepemimpinan, pandangan terhadap sahabat, serta sumber ajaran dan praktik ibadah. Kritik tersebut lahir dari tradisi keilmuan yang bertujuan menjaga kemurnian ajaran menurut perspektif Ahlus Sunnah.
Namun demikian, dalam menyikapi perbedaan ini, umat Islam tetap dituntut untuk menjaga akhlak, persatuan, dan kedamaian. Edukasi yang tepat dan dialog yang sehat menjadi solusi dalam menghadapi perbedaan yang ada.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: