Syiahindonesia.com - Dalam upaya melegitimasi doktrin kema’shuman (ismah) para imam mereka, kelompok Syiah sering kali menggunakan potongan-potongan ayat Al-Qur'an yang ditafsirkan jauh dari konteks aslinya. Salah satu landasan utama yang mereka gunakan adalah Surah Al-Ahzab ayat 33, atau yang lebih dikenal di kalangan mereka sebagai Ayat Tathhir (Ayat Penyucian). Mereka mengklaim bahwa ayat ini adalah bukti kuat bahwa para imam mereka suci dari segala dosa dan kesalahan. Namun, jika kita membedah ayat ini menggunakan kaidah tafsir yang benar, bahasa Arab yang fasih, serta melihat siyaqul ayat (konteks sebelum dan sesudah ayat), maka akan tampak jelas lubang-lubang kesesatan dalam penafsiran tersebut.
Teks dan Konteks Ayat Tathhir
Mari kita perhatikan potongan ayat yang sering mereka agungkan dalam Surah Al-Ahzab ayat 33:
إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
"Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya."
Syiah menggunakan ayat ini untuk menetapkan bahwa Ali bin Abi Thalib, Fatimah, Hasan, Husain, dan sembilan keturunan Husain adalah sosok yang ma'shum. Namun, mereka sengaja memutus ayat ini dari rangkaian kalimat sebelumnya yang secara jelas berbicara kepada istri-istri Nabi.
Titik-Titik Kesalahan Tafsir Syiah
1. Memutus Rangkaian Ayat (Konteks Istri Nabi)
Jika kita membaca Surah Al-Ahzab dari ayat 28 hingga 34, seluruh pembicaraan Allah ditujukan kepada Nisa'an-Nabi (istri-istri Nabi). Allah berfirman: "Wahai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain..." (ayat 32), lalu dilanjutkan dengan perintah untuk tetap di rumah dan mendirikan salat (ayat 33).
Sangat tidak logis secara bahasa jika di tengah-tengah pembicaraan serius kepada para istri Nabi, tiba-tiba Allah mengubah subjek pembicaraan kepada orang lain yang tidak ada dalam konteks pembicaraan tersebut. Ahlul Bait dalam ayat ini secara tekstual merujuk pada penghuni rumah Nabi, yaitu istri-istri beliau.
2. Salah Memahami Makna Iradah (Keinginan) Allah
Kata Yuridu (bermaksud/menginginkan) dalam ayat tersebut adalah Iradah Syar'iyyah, bukan Iradah Kauniyah.
Iradah Syar'iyyah: Keinginan Allah yang berupa perintah dan syariat. Allah ingin kita suci, maka Allah perintahkan salat dan menjauhi maksiat. Namun, manusia tetap memiliki pilihan untuk taat atau melanggar.
Iradah Kauniyah: Kehendak Allah yang pasti terjadi (seperti penciptaan alam).
Jika Iradah dalam ayat ini bermakna pasti suci secara otomatis (seperti klaim Syiah), maka perintah-perintah sebelumnya (salat, zakat, menetap di rumah) menjadi tidak berguna. Ayat ini justru berisi perintah agar Ahlul Bait berusaha menjaga kesucian dengan menjalankan syariat, bukan jaminan bahwa mereka telah suci sejak lahir.
3. Perbedaan Penggunaan Dhamir (Kata Ganti)
Syiah sering beralasan bahwa dalam ayat tersebut digunakan kata ganti 'ankum (maskulin/jamak) dan bukan 'ankunna (feminin), sehingga menurut mereka ayat ini bukan untuk istri Nabi.
Bantahan Ilmiah: Dalam kaidah bahasa Arab, jika sebuah kelompok terdiri dari laki-laki dan perempuan (dalam hal ini ada Nabi Muhammad SAW sebagai kepala rumah tangga), maka digunakan bentuk mudzakkar (maskulin) untuk mencakup semuanya (taghlib). Penggunaan 'ankum justru membuktikan bahwa istri-istri Nabi termasuk di dalamnya bersama Rasulullah SAW. Mengeluarkan istri Nabi dari istilah Ahlul Bait adalah bentuk pengkhianatan terhadap bahasa Arab.
Dampak Berbahaya dari Penafsiran Sesat Ini
Penafsiran Syiah terhadap Ayat Tathhir bukan sekadar perbedaan pendapat, melainkan memiliki implikasi akidah yang sangat fatal:
Mensejajarkan Manusia dengan Tuhan: Dengan menganggap imam mereka memiliki sifat suci mutlak dan tidak mungkin salah, mereka secara tidak langsung memberikan sifat kesempurnaan yang hanya milik Allah kepada manusia.
Menghina Istri-Istri Nabi: Dengan bersikeras mengeluarkan Aisyah RA dan istri lainnya dari ayat ini, Syiah mencoba membangun narasi bahwa istri-istri Nabi bukanlah orang-orang yang disucikan, bahkan cenderung difitnah.
Membatalkan Otoritas Sahabat: Jika hanya 12 imam yang dianggap suci dan paham Al-Qur'an, maka mereka menganggap seluruh penjelasan agama dari para sahabat Nabi lainnya adalah salah atau tertolak.
Pandangan Ahlus Sunnah yang Lurus
Ahlus Sunnah wal Jama’ah memiliki pandangan yang adil dan sesuai dengan Al-Qur'an:
Ahlul Bait adalah Mulia: Kita wajib mencintai keluarga Nabi, termasuk Ali, Fatimah, Hasan, Husain, dan keturunan mereka yang saleh.
Istri Nabi adalah Ahlul Bait: Berdasarkan konteks ayat, istri-istri Nabi adalah bagian utama dari Ahlul Bait.
Tidak Ada Kema'shuman Mutlak: Selain para Nabi dalam hal penyampaian wahyu, tidak ada manusia yang terjaga dari kesalahan secara mutlak. Menetapkan kema'shuman bagi imam adalah bid'ah dalam akidah.
Rasulullah SAW memang pernah mengumpulkan Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain di bawah kain (Kisa') lalu mendoakan mereka dengan doa yang serupa dengan ayat ini. Namun, doa Nabi tersebut justru menunjukkan bahwa mereka membutuhkan doa agar disucikan, bukan berarti mereka sudah suci secara otomatis tanpa proses syariat.
Kesimpulan
Kesesatan Syiah dalam menafsirkan Ayat Tathhir terletak pada metode tafsir bir-ra'yi (tafsir berdasarkan hawa nafsu) yang membuang konteks ayat demi kepentingan politik dan doktrin kema'shuman imam. Sebagai umat Islam yang berpegang teguh pada Al-Qur'an, kita harus waspada terhadap upaya-upaya distorsi makna ayat yang bertujuan merusak pondasi akidah dan memicu kebencian terhadap para istri serta sahabat Nabi SAW. Kemurnian Al-Qur'an harus dijaga dengan memahaminya sesuai dengan pemahaman para salafus saleh.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: