Syiahindonesia.com - Bagi penganut Syiah Dua Belas Imam (Itsna Asyariyyah), kitab Al-Kafi karya Abu Ja'far Muhammad bin Ya'qub Al-Kulaini menempati kedudukan yang sangat sentral, bahkan sering disejajarkan secara fungsional dengan posisi Shahih Bukhari di kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Namun, bagi para ulama hadits dan pakar akidah Islam, kitab ini merupakan gudang kejanggalan yang berisi riwayat-riwayat yang sangat bertentangan dengan prinsip dasar Al-Qur'an dan akal sehat. Membedah isi Al-Kafi adalah langkah krusial untuk menyingkap hakikat ajaran Syiah yang sebenarnya, karena dari kitab inilah bermuara doktrin-doktrin penyesatan yang kini berusaha disebarkan di Indonesia dengan bungkus kecintaan kepada keluarga Nabi ﷺ.
1. Klaim Adanya Perubahan dalam Al-Qur'an (Tahrif)
Salah satu kejanggalan paling fatal dalam Al-Kafi adalah banyaknya riwayat yang secara eksplisit menyatakan bahwa Al-Qur'an yang ada di tangan umat Islam saat ini telah mengalami pengurangan dan perubahan. Al-Kulaini mencantumkan riwayat yang mengeklaim bahwa Al-Qur'an yang asli (Mushaf Fatimah) memiliki jumlah ayat yang jauh lebih banyak daripada yang kita miliki sekarang.
Keyakinan ini merupakan bentuk kekufuran karena mendustakan jaminan Allah SWT dalam Al-Qur'an:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS. Al-Hijr: 9).
Jika kitab rujukan utama mereka saja meragukan keotentikan firman Allah, maka seluruh bangunan agama yang mereka tegakkan di atasnya otomatis gugur dan bersifat bathil.
2. Pengkultusan Imam yang Melampaui Batas (Ghuluw)
Dalam bab Kitabul Hujjah di kitab Al-Kafi, terdapat riwayat-riwayat yang menempatkan para Imam pada derajat ketuhanan. Al-Kulaini mencatat klaim bahwa para Imam mengetahui kapan mereka akan mati, mengetahui segala ilmu ghaib, dan bahwa bumi ini tidak akan tegak tanpa keberadaan mereka.
Lebih jauh lagi, terdapat riwayat yang menyatakan bahwa para Imam memiliki kedudukan di atas para Malaikat dan Nabi-Nabi yang diutus. Hal ini sangat bertentangan dengan konsep Tauhid dalam Islam. Allah SWT berfirman mengenai batasan ilmu ghaib:
قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ
"Katakanlah: 'Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah'." (QS. An-Naml: 65).
Menisbatkan sifat-sifat khusus Allah kepada manusia, betapapun mulianya mereka, adalah bentuk kesyirikan yang nyata.
3. Doktrin Pengkafiran Mayoritas Sahabat Nabi
Kejanggalan lain yang sangat menyakitkan bagi umat Islam adalah riwayat dalam Al-Kafi yang menyatakan bahwa seluruh sahabat Nabi ﷺ telah murtad setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, kecuali hanya tiga atau empat orang saja. Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab sering kali digambarkan dengan sebutan-sebutan keji dalam narasi-narasi di dalamnya.
Penghinaan ini meruntuhkan kredibilitas Islam, karena para sahabatlah yang menjadi saksi sejarah dan pembawa risalah. Rasulullah ﷺ telah memperingatkan dalam sebuah hadits:
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَلوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ mِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا ما بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ، وَلَا نَصِيفَهُ
"Janganlah kalian mencaci sahabat-sahabatku! Seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud pun dari mereka, tidak pula setengahnya." (HR. Bukhari dan Muslim).
4. Legalisasi Kebohongan Melalui Taqiyyah
Al-Kafi memuat bab khusus tentang Taqiyyah, di mana Al-Kulaini mencantumkan riwayat yang menyatakan bahwa "Taqiyyah adalah sembilan per sepuluh bagian dari agama" dan "tidak ada agama bagi orang yang tidak melakukan Taqiyyah."
Doktrin ini sangat janggal karena menjadikan kebohongan sebagai ritual ibadah. Hal ini sangat kontras dengan ajaran Islam yang menjunjung tinggi kejujuran. Kejujuran adalah ciri orang beriman, sementara kebohongan adalah ciri orang munafik. Bagaimana mungkin sebuah agama dapat dipercaya jika landasan utamanya adalah menyembunyikan kebenaran dan menipu orang lain?
5. Konsep Bada': Menisbatkan Ketidaktahuan kepada Allah
Salah satu kejanggalan teologis yang paling parah dalam Al-Kafi adalah doktrin Bada'. Doktrin ini mengeklaim bahwa Allah SWT bisa mengubah keputusan-Nya karena baru mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui-Nya (seolah-olah Allah mengalami ketidaktahuan).
Keyakinan ini adalah penghinaan besar terhadap sifat Ilmu Allah yang Maha Sempurna dan Maha Mengetahui segala sesuatu sebelum terjadi. Umat Islam meyakini bahwa segala sesuatu telah tertulis di Lauhul Mahfuzh dan Allah tidak pernah mengalami "ketidaktahuan" atau "perubahan pikiran" seperti makhluk-Nya.
6. Riwayat Khurafat dan Dongeng Imajiner
Kitab Al-Kafi juga dipenuhi dengan riwayat-riwayat yang tidak masuk akal (khurafat), seperti Imam yang lahir dari paha ibunya, atau Imam yang berbicara sejak bayi dengan pengetahuan yang melampaui orang dewasa. Meskipun sering kali dibela oleh penganut Syiah sebagai mukjizat, namun ketiadaan sanad yang shahih dan pertentangannya dengan hukum alam menjadikannya lebih mirip dengan dongeng daripada sumber hukum agama.
7. Inkonsistensi Sanad dan Matan Hadits
Berbeda dengan standar ketat yang diterapkan oleh Imam Bukhari atau Imam Muslim dalam memverifikasi hadits, Al-Kulaini dalam Al-Kafi banyak mencantumkan riwayat dari orang-orang yang dikenal sebagai pendusta, ghuluw (ekstremis), dan majhul (tidak dikenal identitasnya). Bahkan ulama Syiah sendiri pun mengakui bahwa ribuan riwayat dalam Al-Kafi berstatus lemah (dhaif), namun kitab ini tetap dijadikan rujukan utama untuk menanamkan kebencian kepada sahabat Nabi di kalangan akar rumput.
Dampak bagi Umat Islam di Indonesia
Penyebaran kutipan-kutipan dari kitab Al-Kafi di Indonesia, terutama yang disajikan secara sepihak melalui media sosial atau pengajian tertutup, sangat berpotensi merusak akidah umat. Masyarakat awam sering kali tidak menyadari bahwa di balik kata-kata yang manis, terdapat racun ideologi yang meragukan Al-Qur'an dan menghina istri serta sahabat Nabi ﷺ.
Sangat penting bagi kita untuk:
Meningkatkan Literasi Agama: Memahami perbedaan standar hadits antara Sunni dan Syiah.
Merujuk pada Otoritas Ulama: Mengikuti bimbingan MUI dan lembaga dakwah yang lurus dalam menyikapi kitab-kitab sesat.
Membentengi Keluarga: Mengajarkan kecintaan kepada sahabat dan istri Nabi sebagai bagian dari rukun iman.
Kesimpulan
Membedah kejanggalan dalam kitab Al-Kafi menunjukkan secara gamblang bahwa ajaran Syiah bukanlah sekadar mazhab pemikiran, melainkan sebuah konstruksi keyakinan yang menyimpang jauh dari sumber asli Islam. Dari pelecehan terhadap Al-Qur'an hingga penghalalan kebohongan, Al-Kafi menjadi saksi sejarah betapa ideologi ini dibangun di atas pondasi yang rapuh dan penuh dendam. Sebagai umat Islam yang mencintai kebenaran, kita harus tegas menolak rujukan-rujukan yang merusak kesucian agama ini demi keselamatan dunia dan akhirat.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: