Syiahindonesia.com - Pertanyaan mengenai otentisitas Al-Qur’an di dalam ajaran Syiah bukanlah sekadar isu isapan jempol atau fitnah belaka. Bagi umat Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, meyakini bahwa Al-Qur’an yang ada saat ini adalah murni, lengkap, dan terjaga dari segala bentuk perubahan adalah fondasi keimanan yang absolut. Namun, dalam lembaran-lembaran kitab rujukan utama mereka, terdapat doktrin yang sangat mengusik prinsip ini, yaitu doktrin Tahrif (perubahan atau penyimpangan) Al-Qur’an. Meskipun dalam forum-forum publik mereka seringkali menafikan hal ini demi strategi Taqiyyah, bukti-bukti dalam literatur klasik mereka berbicara sebaliknya. Artikel ini akan membedah secara objektif berdasarkan sumber-sumber internal mereka untuk menjawab: benarkah Syiah mengklaim Al-Qur’an sudah berubah?
Bukti dari Kitab-Kitab Rujukan Utama Syiah
Dalam tradisi intelektual Syiah, terdapat kitab-kitab yang dianggap sebagai otoritas tertinggi setelah Al-Qur'an (menurut klaim mereka). Di dalamnya, tersebar ratusan riwayat yang menyatakan bahwa Al-Qur'an yang dikumpulkan oleh para Sahabat Nabi—khususnya pada masa Khalifah Abu Bakar dan Utsman bin Affan—telah mengalami pengurangan ayat.
Salah satu tokoh besar mereka, Al-Kulaini, dalam kitabnya yang paling sakral, Al-Kafi, mencantumkan riwayat yang berbunyi:
إِنَّ الْقُرْآنَ الَّذِي جَاءَ بِهِ جِبْرَائِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ إِلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ سَبْعَةَ عَشَرَ أَلْفَ آيَةٍ
"Sesungguhnya Al-Qur'an yang dibawa Jibril AS kepada Muhammad SAW adalah tujuh belas ribu (17.000) ayat." (Al-Kafi, Juz 2, hal. 634).
Sebagai perbandingan, jumlah ayat dalam Al-Qur'an yang kita baca hari ini (Mushaf Utsmani) hanya berjumlah sekitar 6.236 ayat. Jika riwayat ini diyakini, maka menurut mereka, lebih dari dua pertiga isi Al-Qur'an yang asli telah hilang atau disembunyikan.
Al-Muhadditsun dan Klaim Tahrif
Bukan hanya Al-Kulaini, ulama besar Syiah lainnya seperti An-Nuri Ath-Thabrisi bahkan menulis kitab khusus yang berjudul Fashlul Khithab fi Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab (Penjelasan Tegas dalam Menetapkan Perubahan Kitab Tuhan Penguasa Segala Penguasa).
Dalam kitab tersebut, ia mengumpulkan ribuan riwayat dari para Imam mereka yang diklaim menunjukkan bahwa:
Nama Ali bin Abi Thalib Dihapus: Mereka mengklaim banyak ayat yang aslinya menyebutkan nama Ali sebagai pemimpin, namun dihapus oleh para sahabat.
Kritik terhadap Sahabat: Nama-nama sahabat yang dianggap "musuh" oleh mereka diklaim telah dihapus dari ayat-ayat yang berisi kecaman.
Surah-Surah Palsu: Adanya klaim tentang surah tambahan yang tidak ada dalam Mushaf Utsmani, seperti Surah Al-Wilayah atau Surah An-Nurain.
Kedustaan atas Nama Jaminan Allah
Klaim adanya perubahan dalam Al-Qur'an adalah bentuk pengingkaran yang nyata terhadap firman Allah SWT dalam Surah Al-Hijr ayat 9:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya."
Bagi Ahlus Sunnah, ayat ini adalah jaminan mutlak dari Sang Pencipta bahwa Al-Qur'an tidak akan bisa disentuh oleh tangan-tangan jahil manusia hingga akhir zaman. Mengatakan bahwa Al-Qur'an telah berubah berarti menuduh Allah SWT telah gagal menepati janji-Nya, atau menuduh Allah tidak mampu menjaga firman-Nya sendiri. Na’udzubillahi min dhalik.
Mengapa Mereka Melakukan Taqiyyah dalam Masalah Ini?
Di Indonesia dan negara-negara dengan mayoritas Ahlus Sunnah, tokoh-tokoh Syiah kontemporer seringkali menyatakan bahwa mereka mengimani Al-Qur'an yang sama. Namun, umat Islam harus waspada karena:
Standar Ganda: Mereka menyatakan Al-Qur'an tidak berubah di hadapan publik, namun tetap memuliakan dan menjadikan ulama-ulama yang meyakini Tahrif (seperti Al-Kulaini dan Ath-Thabrisi) sebagai rujukan utama.
Keyakinan "Al-Qur'an yang Disembunyikan": Banyak dari mereka meyakini bahwa Al-Qur'an yang "asli dan lengkap" saat ini sedang dibawa oleh Imam ke-12 mereka yang sedang ghaib (sembunyi), dan baru akan dimunculkan di akhir zaman. Ini adalah bentuk lain dari penolakan terhadap otoritas Mushaf Utsmani.
Dampak Fatal bagi Akidah Umat
Keyakinan bahwa Al-Qur'an sudah berubah memiliki implikasi yang menghancurkan seluruh tatanan agama Islam:
Ketidakpastian Hukum: Jika Al-Qur'an dianggap tidak lengkap, maka seluruh hukum waris, salat, zakat, dan syariat lainnya menjadi diragukan validitasnya.
Runtuhnya Kepercayaan pada Nabi: Jika Nabi Muhammad SAW dianggap gagal memastikan wahyu-Nya terjaga hingga sampai ke tangan umat secara utuh, maka kredibilitas kenabian akan dipertanyakan.
Membuka Pintu Liberalisme Agama: Dengan menganggap teks suci bisa diubah, maka siapa pun bisa mengklaim memiliki "wahyu tersembunyi" atau menafsirkan agama sesuka hati demi kepentingan politik.
Kesimpulan
Berdasarkan fakta-fakta dari kitab primer mereka, memang benar terdapat doktrin kuat dalam ajaran Syiah yang mengklaim bahwa Al-Qur’an telah mengalami perubahan atau pengurangan. Meskipun sebagian dari mereka berusaha menutup-nutupi hal ini dengan dalih perbedaan riwayat atau Taqiyyah, bukti-bukti sejarah dan literatur tidak bisa dibohongi. Sebagai umat Islam yang mencintai kebenaran, kita wajib berpegang teguh pada Mushaf Utsmani sebagai satu-satunya mukjizat abadi yang suci dan sempurna, serta menolak segala bentuk pemikiran yang meragukan keagungan Kalamullah.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: