Breaking News
Loading...

Dalil-Dalil Kesalahan Syiah dalam Menetapkan Imam


Syiahindonesia.com -
Penetapan konsep imamah (kepemimpinan) merupakan titik perbedaan paling fundamental antara akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan Syiah. Dalam pandangan Syiah, imamah bukan sekadar urusan politik atau kepemimpinan umat, melainkan bagian dari rukun iman yang setara dengan kenabian. Mereka meyakini bahwa imam harus ditetapkan melalui penunjukan ilahi (nash) dan memiliki sifat ma’shum (suci dari dosa). Namun, jika dikaji berdasarkan dalil-dalil naqli (Al-Qur’an dan Hadits) serta akal sehat (aqli), terdapat berbagai kekeliruan mendasar dalam penetapan imam versi mereka. Artikel ini akan membedah dalil-dalil yang menunjukkan kesalahan tersebut guna membentengi umat dari pemahaman yang melampaui batas.


1. Ketiadaan Dalil Sharih (Eksplisit) dalam Al-Qur'an

Kesalahan pertama dan yang paling utama adalah klaim bahwa imamah adalah rukun iman, namun tidak ada satu pun ayat dalam Al-Qur'an yang menyebutkan nama-nama imam mereka secara spesifik. Jika imamah setara dengan salat atau tauhid, seharusnya Allah SWT menyebutkannya secara jelas sebagaimana Allah menyebutkan kewajiban-kewajiban lainnya.

Syiah sering menggunakan Surah Al-Ma'idah ayat 67 sebagai dalil penunjukan Ali bin Abi Thalib RA:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ

"Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya."

Bantahan: Ayat ini bersifat umum mengenai perintah menyampaikan seluruh risalah Islam. Tidak ada penyebutan nama Ali atau keturunannya di sana. Menafsirkan ayat ini hanya terbatas pada masalah imamah adalah bentuk pemaksaan makna (tahrif ma'nawi) yang tidak didukung oleh konteks ayat (siyaqul ayat) secara keseluruhan.


2. Kesalahan dalam Memaknai Hadits Ghadir Khum

Hadits yang paling sering dijadikan sandaran oleh Syiah adalah peristiwa Ghadir Khum, di mana Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ

"Barangsiapa yang menjadikanku sebagai mawla, maka Ali adalah mawlahu." (HR. Tirmidzi).

Analisis Kesalahan: Kata "Mawla" dalam bahasa Arab memiliki puluhan makna, di antaranya: tuan, penolong, kekasih, sepupu, atau pemimpin. Dalam konteks peristiwa Ghadir Khum, Rasulullah SAW ingin menegaskan kecintaan dan dukungan kepada Ali bin Abi Thalib karena adanya perselisihan di antara beberapa sahabat saat di Yaman. Rasulullah ingin membersihkan nama Ali dan meminta umat mencintainya.

Jika Rasulullah bermaksud menetapkan Ali sebagai pemimpin politik (Khalifah), beliau akan menggunakan kata yang lugas seperti "Amir" atau "Khalifah setelahku", bukan kata "Mawla" yang multitafsir.


3. Doktrin Ismah (Kema'shuman) yang Bertentangan dengan Fitrah

Syiah menetapkan bahwa seorang Imam harus ma'shum (tidak mungkin berbuat salah atau lupa). Mereka berdalil dengan Surah Al-Ahzab ayat 33:

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

"Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya."

Kritik Ilmiah:

  • Konteks Ayat: Ayat ini berada di tengah-tengah pembicaraan tentang istri-istri Nabi. Maka secara tekstual, istri-istri Nabi adalah bagian dari Ahlul Bait. Syiah justru mengeluarkan istri Nabi (seperti Aisyah RA) dari ayat ini, yang menunjukkan ketidakkonsistenan tafsir.

  • Keinginan vs Kenyataan: Kata Yuridu (bermaksud/menginginkan) dalam ayat tersebut adalah Iradah Syar'iyyah (keinginan syariat agar mereka suci), bukan berarti secara otomatis mereka menjadi makhluk yang tidak mungkin salah seperti malaikat.


4. Kontradiksi dalam Garis Keturunan Imam

Jika penetapan imam adalah berdasarkan nash (wahyu) dari Tuhan, seharusnya tidak terjadi kebingungan atau perselisihan dalam menentukan siapa imam selanjutnya. Namun, sejarah mencatat bahwa sekte Syiah pecah menjadi puluhan kelompok karena mereka sendiri berselisih tentang siapa imamnya.

  • Setelah wafatnya Imam Ali bin Husain (Zainal Abidin), Syiah pecah menjadi Syiah Zaidiyah dan Imamiyah.

  • Setelah wafatnya Ja'far ash-Shadiq, mereka pecah lagi menjadi Ismailiyah dan Itsna Asyariyah.

Jika memang ada nash yang jelas dari Nabi tentang 12 imam, mengapa pengikut mereka sendiri bingung dan saling mengkafirkan karena perbedaan sosok imam? Ini membuktikan bahwa doktrin 12 imam hanyalah konstruksi sejarah belakangan, bukan wahyu yang turun dari langit.


5. Konsep "Imam Ghaib" yang Melemahkan Akal

Puncak dari kesalahan penetapan imam dalam Syiah Itsna Asyariyah adalah keyakinan akan Imam ke-12 (Muhammad bin Hasan al-Askari) yang diklaim masuk ke dalam lubang (sirdab) dan menghilang sejak lebih dari 1100 tahun yang lalu.

Dalil Akal: Tujuan adanya Imam adalah untuk membimbing umat, menjelaskan syariat, dan memimpin keadilan. Lantas, apa gunanya seorang Imam yang tidak bisa ditemui, tidak bisa memberi fatwa, dan tidak bisa memimpin secara nyata selama ribuan tahun? Ini bertolak belakang dengan hikmah Allah dalam menetapkan pemimpin bagi manusia.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

"Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak ada baiat di lehernya, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah." (HR. Muslim).

Bagi Syiah, kepada siapa mereka berbaiat hari ini secara nyata? Baiat kepada sosok yang ghaib secara fisik adalah hal yang bersifat imajiner dan tidak aplikatif dalam kehidupan bernegara.


6. Kesepakatan (Ijma') Sahabat dan Sikap Ali bin Abi Thalib

Jika Ali bin Abi Thalib RA merasa dirinya telah ditunjuk secara resmi oleh Allah sebagai imam/khalifah setelah Nabi, maka seharusnya beliau menuntut hak tersebut secara terbuka sejak awal. Namun, fakta sejarah menunjukkan:

  1. Ali bin Abi Thalib membaiat Abu Bakar, Umar, dan Utsman.

  2. Ali tidak pernah menggunakan ayat Al-Qur'an untuk mengklaim kema'shuman dirinya.

  3. Ali bersedia menjadi penasihat bagi khalifah-khalifah sebelumnya.

Apakah mungkin seorang singa Allah seperti Ali bin Abi Thalib melakukan Taqiyyah (berbohong/menyembunyikan keyakinan) dalam urusan rukun iman? Menuduh Ali melakukan taqiyyah dalam membaiat Abu Bakar justru merendahkan keberanian dan integritas Ali bin Abi Thalib sendiri.


7. Bahaya Pengultusan terhadap Manusia

Doktrin menetapkan imam dengan sifat-sifat ketuhanan (seperti mengatur alam atau mengetahui seluruh hal gaib) menjerumuskan pada ghuluw. Hal ini dilarang keras dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

"Jauhilah oleh kalian sikap melampaui batas (ghuluw) dalam beragama, karena sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah sikap ghuluw dalam beragama." (HR. An-Nasa'i).

Kesimpulan

Penetapan imam dalam ajaran Syiah yang didasarkan pada nash ghaib, kema'shuman mutlak, dan pengkultusan keturunan tertentu tidak memiliki landasan yang kuat dalam Al-Qur'an maupun Hadits yang shahih. Akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah tetap memuliakan Ahlul Bait namun menempatkan mereka sebagai manusia mulia yang tetap tunduk pada hukum Allah, bukan sebagai sosok setengah tuhan yang memegang kunci surga dan neraka.

Membentengi diri dengan ilmu yang bersumber dari guru-guru yang kredibel dan kitab-kitab muktabar adalah kunci utama agar kita tidak tergelincir dalam doktrin-doktrin yang tampak indah namun rapuh secara dalil.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: